
Hari ke empat bulan madu mereka, masih tetap sama. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang menarik yang ditunjukkan Lia pada suaminya. Masih dengan keadaan yang harus membuat Bram memendam hasratnya jika berdekatan dengan istrinya.
Hingga ponsel Bram berdering membuatnya mau tak mau mengangkatnya karena deringan itu sudah ke lima kalinya.
"Angkatlah mas, mungkin penting!" Ucap Lia yang mengetahui Bram selalu meriject panggilan itu.
Saat tiba di resort hari pertama kedatangan mereka bulan madu. Bram memang berjanji tak akan mengangkat panggilan ponselnya jika berhubungan dengan pekerjaannya. Bram ingin menghabiskan waktunya bersama sang istri sambil saling mengenal diantara mereka.
Bram menepati janjinya. Dan panggilan yang keenam kalinya itu membuat Lia menatap suaminya lekat. Bram akhirnya mengalah dan memilih untuk mengangkat panggilan itu. Lia tersenyum hendak menyingkir karena tak mau mengganggu panggilan ponsel suaminya. Namun Bram segera meraih pinggang istrinya posesif.
"Disini saja!" Titah Bram berbisik pada istrinya sambil mengangkat ponselnya.
"Halo."
"..."
"Apa maksudmu?" Wajah Bram terlihat muram.
"..."
"Aku .." Bram menatap sebentar wajah istrinya yang juga sedang menatapnya karena mendengar nada suara suaminya terlihat sedikit emosi. "Aku akan segera pulang."
__ADS_1
"..."
"Kau atasi sebentar dulu. Aku segera kembali."
"..."
"Okay." Bram menutup ponselnya, memejamkan mata sebentar dan menghela nafas berat.
Dia ragu untuk mengatakan pada istrinya. Dia tak mau mengecewakan istrinya. Namun urusannya sungguh-sungguh sangat mendesak sekali.
"Tak masalah. Katakanlah!" Ucap Lia lembut seolah tahu kegelisahan suaminya. Lia mencoba tetap tersenyum manis.
"Kita harus mempercepat kepulangan kita. Ada sedikit masalah dengan firma hukum ku. Sepertinya ada orang yang sengaja melakukannya karena kalah saat sidang terakhir kami." Jelas Bram merasa sedih dan bersalah pada istrinya.
"Tak masalah. Kita bisa pergi lagi lain kali." Jawab Lia menenangkan hati suaminya.
Dia tak mau membuat suaminya terbebani dan merasa bersalah.
"Maafkan aku." Ucap Bram sambil mengecup punggung tangan istrinya dengan wajah muram.
"Tak apa. Namanya juga penting." Hibur Lia tersenyum sambil menangkup kedua pipi suaminya.
__ADS_1
Bram malah menyerang bibir istrinya tanpa rasa malu meski mereka tengah berada di tempat umum. Berada di Kanada membuat mereka semakin berani saja memperlihatkan kemesraan di depan umum.
***
"Aku pergi sebentar. Maaf tak bisa menemani di rumah lama-lama." Pamit Bram sambil mengecup kening istrinya lembut.
"Hati-hati!" Jawab Lia sambil mengantar suaminya sampai depan pintu.
Lia pun masuk melanjutkan membersihkan apartemen suaminya. Setelah itu membereskan pakaian dan pakaian suaminya di tempat yang seharusnya. Lia mencoba membaringkan tubuhnya di ranjang kamar utama di apartemen itu tempat kamar mereka nantinya.
Lia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum melakukan pekerjaan untuk menyiapkan makan malam mungkin, jika suaminya pulang nanti.
**
"Astaghfirullah..." Bisik Lia saat melihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Lia menatap sekeliling kamar yang masih asing untuknya namun dia kembali sadar kalau ternyata itu adalah kamar yang ada di apartemen suaminya. Lia menatap sekeliling mencari keberadaan suaminya namun seolah tak ada tanda-tanda adanya orang lain di apartemen itu.
Lia beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena merasa lengket di tubuhnya.
Hingga pukul setengah sebelas, Lia makan malam yang terlambat. Namun tetap tak menemukan suaminya tiba. Lia meraih ponselnya mencoba menghubungi suaminya namun hanya jawaban operator dari panggilan itu.
__ADS_1
Lia mengernyit heran namun dia mencoba meredam perasaan cemasnya. Mungkin mas Bram memang sibuk mengurus sesuatu yang mendesak hingga lupa waktu. Semoga baik-baik saja. batin Lia.
TBC