Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 25


__ADS_3

"Kabari kami kalau sudah sampai!" pinta ibu Lia terlihat sedih.


"Ibu, Lia sudah punya suami. Lia sudah menjadi tanggungan suaminya." Ujar ayah Lia.


Ibu Lia menatap suaminya dan beralih menatap Bram yang hanya diam tersenyum.


"Jaga putri ibu Bram!" titah Lia menatap Bram.


"Pasti ibu." Jawab Bram.


"Lia, kalau Bram macam-macam sampai membuatmu terluka. Bilang sama mama, mengerti?" Sela Erika menghampiri menantunya.


Kini mereka mulai masuk ke dalam pesawat untuk bulan madu mereka di negara asal ibu Lia. Tanpa sadar air mata Lia menetes terharu dengan perhatian dan kasih sayang orang tua serta mertuanya.


"Ayo!" Bram menarik pergelangan tangan istrinya untuk mencari tempat duduk mereka di kursi VIP pesawat.


***


Sudah hampir delapan belas jam mereka akhirnya sampai di bandara Toronto. Bram selalu menggandeng tangan istrinya erat seolah takut tersesat dan ketinggalan. Lia hanya tersenyum bahagia melihat suaminya begitu mencintainya dengan segala perhatian dan pengertiannya meski baru beberapa hari menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


Setelah menemukan kopernya, mereka mencari taksi untuk menuju resort yang sudah disewanya melalui online. Bram lebih nyaman tinggal di resort daripada di hotel. Karena rencana bulan madu mereka mungkin saja diperpanjang jika menginginkannya. Dan dia bisa melakukan semuanya dengan bebas tanpa ada yang mengganggu saat malam pertamanya mungkin.


"Ayo, kita sudah sampai!" Ajak Bram sambil membawa koper mereka yang diturunkan oleh sopir taksi itu.


Lia hanya mengangguk mengiyakan sambil mengikuti suaminya dari belakang. Namun Bram malah menarik tangannya hingga jemari mereka bertautan.


"Lia..." Panggil Bram menghentikan langkahnya yang diikuti juga oleh istrinya.


"Ya?"


"Jangan dibiasakan berjalan di belakangku! Sekarang kau adalah istriku, jalanlah di sebelahku! Mengerti?" Jelas Bram menatap istrinya lekat.


"Terima kasih." Lia mengangguk.


**


"Ini kamar kita." Tunjuk Bram membuka jendela kamar utama resort itu.


Lia menatap sekeliling kamar, sangat luas bahkan lebih luas dari kamarnya di rumah. Seluas kamar Bram di apartemen. Bram meletakkan kopernya di lemari kamar itu membuka tirai jendela yang dindingnya dominan kaca semua.

__ADS_1


Bram menuju balkon kamar itu menatap ke luar langsung menghadap ke pantai laut lepas. Lia mengikuti suaminya yang ada di balkon dan berdecak kagum menatap pemandangan alam dari lantai dua resort itu.


"Kau suka?" Bisik Bram semakin berani melingkarkan lengannya di pinggang istrinya dari belakang.


Tubuh Lia seketika menegang kaku dan mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.


"Sangat indah." Jawab Lia setelah mengendalikan degup jantungnya karena sikap mesra suaminya.


Bukannya segera dilepas, Bram malah semakin intens mengecupi leher jenjang istrinya yang rambutnya digelung ke atas karena cuaca panas di Kanada.


"Ahh..." Tanpa sadar Lia mengeluarkan desahannya hingga membuat Bram semakin bersemangat dan tangannya mulai bergerilya ke dada kembar istrinya.


Lia spontan berbalik dan menatap suaminya yang sudah mulai berkabut gairah.


"Aku mandi dulu." Tanpa menunggu protes suaminya, Lia langsung berlari ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu membersihkan tubuhnya.


Dia tidak percaya diri jika belum mandi, apalagi setelah sampai di resort, dia pasti berkeringat mengingat cuaca di sini sangat panas. Dia takut suaminya jadi infil saat mereka bercinta nanti bau keringat. Meski saat bercinta mereka nanti berkeringat namun setidaknya saat memulainya dia tak berkeringat.


TBC

__ADS_1


__ADS_2