
Ting tong ting tong ting tong
Bel pintu apartemen Bram berbunyi berulang kali tanpa jeda. Membuat Lia tersentak karena dia sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Bram tampak menghela nafas panjang, dia sudah bisa menebak siapa yang memencet bel tidak sabaran seperti itu.
"Akan kubuka sebentar mas." Lia langsung berlari ke pintu depan setelah mematikan kompornya sejenak.
Suaminya hendak mencegahnya namun istrinya sudah berlari.
Cklek
"Mama... ibu?" Sapa Lia melihat kedua wanita itu berada di depan pintu apartemen mereka bersamaan.
Lia segera menyalami tangan keduanya bersamaan tak lupa mengecup punggung tangan keduanya.
"Dimana Bram?" Tanya Erika tak sabaran nyelonong masuk ke dalam.
Lia yang melongo karena tingkah mertuanya, ditepuk punggung tangannya oleh ibunya.
"Bagaimana keadaan suamimu?" Tanya ibu Lia tersenyum namun penuh kecemasan.
"Mas Bram sudah lebih baik ma." Jawab Lia merasa bersalah.
Ibu Lia menatap tajam putrinya karena sudah berbohong saat dia menghubungi ponselnya beberapa waktu lalu.
"Bagaimana kau bisa tidak mengatakan sebenarnya pada kami?" Tanya ibu Lia lagi.
"Mas Bram melarang ku untuk memberi tahu keadaannya yang sebenarnya ma. Maaf." Lia menunduk menyesalkannya.
__ADS_1
"Huff... Kau ini benar-benar ya." Omel ibu Lia sambil mengusak rambut putrinya.
"Maafkan Lia ma." Ucap Lia lagi sambil menggiring ibunya untuk masuk ke dalam ruang tamu apartemen suaminya.
"Sakit ma... sakit..." Rintih Bram saat sang mama menjewer telinganya karena tak mengabari padanya.
"Kamu ya, memang mama ini siapamu? Sampai kau tak mengabari mama. Dan melarang istrimu untuk memberi tahu kami, huh..." Seru Erika kesal pada putranya karena sejak dulu Bram tak pernah mengatakan yang sebenarnya jika dia terluka atau habis berkelahi.
"Ma, malu ma sama ibu. Dan istriku juga." Bisik Bram lirih memohon untuk dilepaskan jewerannya.
Ibu Lia dan Lia tersenyum melihat ringisan di wajah Bram yang terlihat kesakitan dan malu setengah mati. Erika menoleh menatap Lia dan ibunya, kemudian melepas jewerannya.
Namun omelannya masih belum berakhir sepertinya. Lia duduk di sebelah suaminya untuk mengusap-usap telinga suaminya yang dijewer oleh mama mertuanya karena terlihat memerah.
"Mas Bram tak mau membuat mama dan ibu cemas. Jadi mas hanya minta dirawat oleh Lia ma." Ucap Lia menenangkan mama mertuanya.
"Lagian ma, sekarang Bram sudah sembuh kok. Toh sudah ada yang merawat dan memperhatikan Bram juga." Bela Bram sambil menggenggam jemari tangan istrinya.
"Sekarang, bagian mana yang masih sakit?" Tanya ibu Lia lembut setelah terlihat keduanya tenang.
Namun Erika masih menatap tajam putranya itu.
"Sudah lebih baik ma. Hanya harus kontrol beberapa kali." Jawab Bram menatap ibu mertuanya lembut.
"Omong-omong, ibu tahu dari mana mas Bram kecelakaan?" Tanya Lia yang membuatnya penasaran sejak tadi.
"Mamamu yang memberi tahu ibu." Ibu Lia menjawab sambil menatap wajah Erika.
__ADS_1
Bram dan Lia langsung sontak menoleh menatap Erika yang masih menatap tajam Bram.
"Bibimu yang memberi tahu." Jawab Erika sambil menatap Bram.
" Ah, sial." Bisik Bram sambil menepuk jidatnya.
Dia sudah mewanti-wanti Jo dan pamannya untuk tidak mengatakan pada keluarganya dulu. Namun sepertinya pamannya bercerita pada bibi dan entah bagaimana bibi mengatakan pada Erika.
"Kenapa? Kau mau menyembunyikannya sampai kapan?" Ketua Erika melihat Bram terlihat menyesal mamanya mengetahuinya.
"Rencana kami ingin memberi tahu kalia sekarang ma, tapi setelah sarapan dan minum obat." Jawab Lia lembut tersenyum lembut sambil menatap Erika.
"Beruntung ya kau Bram, punya istri sabar seperti Lia. Sudah lebih tiga hari ditinggal tanpa kabar, terus dapat berita mengejutkan lagi. Eh, malah disuruh ngurus saat sakit pula. Mana ada yang lebih sabar dari istrimu." Omel Erika sambil menatap Bram tajam.
Ibu Lia hanya tersenyum melihat besannya yang mengomel panjang pada putranya.
"Iya ma, Bram ngerti. Bram juga bersyukur punya istri seperti dia. Bram juga sudah minta maaf atas semuanya. Bram pun makin sayang sama istri." Wajah Lia sontak merona memerah dengan ucapan manis suaminya.
Saat Bram tak memberinya kabar selama tiga hari, Lia ingin marah dan mengomel panjang pada suaminya itu. Namun saat mendengar kabar suaminya kecelakaan dan dirawat di rumah sakit pinggiran kota dan harus segera dioperasi membuat Lia sontak melupakan kemarahannya pada suaminya itu.
Dia malah merasa bersalah karena suaminya seperti itu pasti dalam perjalanan pulang memikirkannya hingga tanpa sadar, rem mobilnya sengaja dibuat rusak oleh musuh suaminya.
"Lia udah maafin mas Bram ma." Jawab Lia sambil menunduk menahan rasa malunya.
Kedua wanita itu pun tersenyum simpul.
TBC
__ADS_1