Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 45


__ADS_3

Bram menuruti apa keinginan anak buah pak Budi. Dia memilih kembali ke persidangan mengurus tuntutannya yang tidak jadi dibatalkan sesuai tuntutan penculik istrinya. Bram percaya pak Budi mampu menolong istrinya tanpa kurang suatu apapun.


"Aku sudah di ruang saksi." Bram mengirim pesan pada asistennya yang mendampingi sahabatnya Terry.


Setahunya dia memang harus bersaksi dalam sidang itu.


"Saya sudah memberi tahu tuan Terry tuan." Balasan dari asistennya.


Terry langsung meminta pada hakim untuk menunjuk salah seorang saksi lagi yaitu Bram. Dan hakim menyetujui. Karena kesaksian Bram lah yang menentukan semua persidangan ini. Selain sebagai korban dia juga sebagai saksi kunci kasus ini.


***


Bram sudah duduk di bangku saksi yang disiapkan oleh pihak persidangan. Para pengacara dari pihaknya dan pihak musuh mulai menanyainya satu persatu jawaban dijawab dengan lancar dan tanpa keraguan oleh Bram. Begitu juga jaksa penuntut juga ikut menanyai Bram dengan banyak pertanyaan yang tak sedikitpun membuat Bram gentar ataupun takut.


Di sela-sela sidang Bram mendapat pesan dari seseorang yang ditunggunya sejak tadi.


"Nyonya sudah aman bersama kami. Kami akan perjalanan ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi fisik dan mental nyonya. Dan memastikan beliau baik-baik saja." Isi pesan itu membuat Bram tersenyum bersemangat.


Kalau saja bukan ditengah-tengah ruang sidang, Bram ingin sekali berlari menuju rumah sakit tempat istrinya dirawat.


"Apa istriku baik-baik saja? Apa dia terluka?" Tanya Bram antusias dalam pesannya.


"Nyonya baik-baik saja. Hanya luka lecet karena goresan selama disekap dan diikat tangan dan kakinya." Balasan pak Budi membuat Bram meradang.


Tangannya mengepal kencang ingin sekali memberikan bogeman mentah pada orang yang berani melukai istrinya itu. Namun mengingat dia berada dimana, Bram langsung mengendalikan perasaannya agar tidak terbawa emosi di ruang sidang.


Hingga akhirnya putusan sidang ditunda beberapa waktu ke depan. Bram langsung berlari keluar ruang sidang tanpa mempedulikan sahabat dan asistennya. Dia ingin menemui istrinya dan memastikan sendiri kalau dia baik-baik saja.


***


Bram berlarian di lorong rumah sakit tempat istrinya dirawat. Informasi dari pak Budi, istrinya baik-baik saja. Tidak ada luka serius di tubuhnya. Hanya luka-luka lecet, goresan dan memar-memar karena ikatan tali.


Cklek


Semua orang yang ada di dalam kamar perawatan Lia menoleh menatap ke arah pintu. Bram muncul dengan tampang sedikit berantakan dan kusut. Rasa cemas sejak pagi tadi perlahan mulai mencair melihat istrinya duduk di ranjang tersenyum menatapnya. Ada pak Budi, dua anak buahnya berjaga di luar dan dua orang di dalam. Dan juga orang tua Lia yang juga mertua Bram.

__ADS_1


Bram ingin berlari memeluk istrinya menenangkan dirinya dan istrinya juga. Namun demi kesopanan dia menghampiri kedua mertuanya dan tak lupa menyalami dan mengecup punggung tangan ayah dan ibu mertuanya.


"Assalamualaikum Bu, ayah..." Sapa Bram setelah menyalami kedua mertuanya.


Meski terlihat sedikit cemberut di wajah sang ayah mertua namun ditahannya karena semua atas permintaan Lia dan istrinya.


"Tuan Bram, karena anda sudah tiba, saya pamit dulu. Saya tetap akan menempatkan kedua anak buah terbaik saya di luar ruangan demi keamanan nyonya." Jelas pak Budi sekaligus pamit.


"Terima kasih pak." Jawab Bram mengangguk mengerti.


Bram mendekati istrinya yang ada di ranjang yang masih menatapnya lekat seolah sangat merindukan suaminya. Ibu Lia langsung menarik tangan suaminya untuk meninggalkan ruang perawatan meski ayah Lia terlihat tak rela meninggalkan putrinya.


Dia masih ingin membuat perhitungan pada menantunya itu karena hampir saja membahayakan putrinya. Namun istrinya berusaha mengingatkan untuk tidak mengganggu pasangan pengantin baru itu.


"Maaf... maafkan aku." Bisik Bram tak mampu lagi membendung air matanya hingga menetes di pipinya.


Bram hanya bisa menundukkan kepalanya merasa bersalah karena telah melibatkan istrinya dalam kasusnya. Lia membelai pipi suaminya hingga membuatnya mendongak menatapnya. Keduanya kini sama-sama saling menatap.


"Terima kasih mas sudah menolongku." Ucap Lia membuat Bram semakin merasa sangat bersalah.


"Aku tak melakukan apapun. Kau hampir celaka karena ku. Dan aku malah meninggalkanmu ke persidangan. Maaf... maafkan aku.. " Bisik Bram trenyuh.


"Kau tak mau memelukku? Aku... merindukanmu..." Bram terpaku, dipeluknya tubuh istrinya erat-erat seolah takut akan terlepas lagi.


"Hiks...hiks... aku takut mas... aku takut... kukira aku tak akan bertemu denganmu lagi...hiks...hiks..." Tangisan tumpah ruah yang sejak tadi ditahan agar terlihat baik-baik saja di mata semua orang akhirnya jebol juga.


Lia menangis histeris di pelukan semua orang begitu hanya ada mereka berdua di dalam kamar perawatannya.


"Maaf... maaf..." Bisik Bram terus mendengungkan kata maaf tanpa mampu berkata hal lainnya.


"Kau tak akan meninggalkanku lagi kan? Kau akan selalu di sisiku kan? Hiks .. hiks..." Bisik Lia parau dalam tangisan sesenggukannya.


"Tentu. Aku akan selalu di sisimu. Menjagamu... Selamanya. Aku mencintaimu... istriku..." Tangisan Lia bukannya mereda malah semakin kencang lagi merasa terharu dengan pernyataan cinta suaminya.


**

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki tergesa-gesa muncul di depan kamar perawatan Lia yang terdapat juga kedua orang tua Lia yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang perawatan Lia.


"Besan, apa yang terjadi? Bagaimana keadaan menantuku?" Tanya Erika yang baru saja mendengar kabar dari Budi, ketua tim keamanan Alensio grup.


Dia datang dengan tergesa-gesa diantar sopirnya karena suaminya sedang melakukan perjalanan ke luar negeri menggantikan Bram yang sedang mengurus kasusnya.


"Lia baik-baik saja sekarang. Untung saja dia diselamatkan tepat waktu oleh pak Budi." Jawab ibu Lia setelah berjabat tangan dengan Erika dan tak lupa cipika dan cipiki.


Begitu juga ayah Lia hanya berjabat tangan dengan besannya.


"Aku mau melihatnya..." Tangan Erika langsung dicekal oleh ibu Lia melihat Erika dengan tergesa-gesa hendak masuk ke ruang perawatan Lia.


"Ada apa jeng? Aku mau melihat keadaan menantuku di dalam." Ucap Erika yang dijawab gelengan kepala ibu Lia melarang untuk masuk.


"Ada apa?" Tanya Erika masih belum mengerti.


"Masih ada Bram di dalam jeng, biarkan keduanya melepas rindu dulu. Berikan waktu pada mereka." Saran ibu Lia membuat Erika bukannya makhlum, malah dia semakin menerobos masuk ke dalam kamar perawatan Lia.


"Jeng..." ibu Lia terpaksa melepas tangan Erika yang tak menggubrisnya.


Apalagi sangat kuat Erika menolak genggamannya.


"Aku malah ingin memberi pelajaran pada anak nakal itu karena berani membahayakan menantuku." Ujar Erika yang membuat ibu Lia menggeleng tak percaya juga senang karena putrinya begitu disayangi oleh ibu mertuanya.


Kedua orang tua Lia pun juga ikut masuk ingin menyaksikan Bram diberi pelajaran oleh ibunya sendiri.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2