
Bram duduk di depan pusara istri dan anaknya. Hari ini tepat satu tahun meninggalnya anak dan istrinya. Dia mengunjungi makam istri dan anaknya yang dikuburkan bersebelahan. Itupun atas permintaan Bram itu sendiri karena bisa memudahkan dirinya untuk mengunjungi keduanya kapanpun itu.
"Hai sayang, dan putraku. Apa kabar kalian?" Guman Bram seolah berbicara pada keduanya langsung.
"Aku... belum bisa melupakan kalian. Bagiku baru kemarin kalian meninggalkan aku." Guman Bram lagi tanpa sadar air matanya menetes dan langsung diusapnya.
"Semoga kalian tenang disana." Guman Bram lagi.
"Aku mencoba menyibukkan diri untuk melupakan kalian, tapi... itu sulit." Hah...air mata Bram kembali menetes namun berapa kalipun dia menghapusnya terus saja menetes.
"Hiks...hiks...hiks... aku merindukanmu sayang, aku juga merindukan putra kita. Hiks... hiks... Bahkan...hiks... bahkan aku tak sempat melihat wajah putraku. Hiks...hiks..." Guman Bram sesenggukan di depan makam itu. Banyak bunga kematian yang entah siapa yang sudah datang terlebih dahulu menghiasi makam keduanya.
"Apa yang harus kulakukan sayang? Hiks...hiks..." Guman Bram lagi menutup wajahnya dengan kedua tangannya sesenggukan menahan air mata yang tidak bisa dicegah lagi.
"Aku merindukanmu.. aku mencintaimu... hiks...hiks..."
***
"Apa jadwalku hari ini?" Tanya Bram, kini dia sudah kembali di perusahaan pusat milik keluarganya yang langsung disambut histeris oleh sang mama. Berulang kali ucapan maaf diucapkan Erika pada putra semata wayangnya membuat Bram merasa bersalah.
Bram tahu maksud mamanya adalah agar dirinya tidak kesepian dan mencari kebahagiaannya kembali. Namun Bram masih belum siap, Bram masih trauma. Dia tak mau jika nanti ditinggalkan lagi oleh orang yang dicintainya.
"Ada janji makan siang dengan tuan besar Alensio di restoran keluarga." Jawab sekretaris papanya Bram. Bram belum punya orang kepercayaan sendiri, untuk itulah sekretaris papanya yang masih mendampinginya.
"Paman?" Tanya Bram mengernyitkan keningnya.
"Saya sudah mengatakannya beberapa hari yang lalu tuan muda." Jelas sekretaris itu tak mau disalahkan karena Bram tak mendengarkan ucapannya kala itu karena dia tahu saat itu Bram tak begitu memperhatikan ucapannya karena kesibukan melamunnya.
__ADS_1
"Begitukah?" Tanya Bram tanpa rasa bersalah.
"Benar tuan."
"Hmm. Jam berapa sekarang?" Tanya Bram acuh sambil terus menatap berkas-berkas di mejanya satu persatu.
"Pukul sebelas lebih lima belas menit."
"Kita berangkat sekarang." Bram berdiri dari tempat duduknya sambil meraih jas kerjanya.
"Ya?" Sekretaris itu terheran.
"Baik tuan." Dia pun akhirnya mengikuti langkah Bram yang sudah mulai keluar dari ruang kerjanya tanpa basa-basi apapun lagi.
***
Bram menarik kopernya menuju tempat check in di bandara. Setelah pertemuannya dengan pamannya, dia pun memutuskan untuk pergi ke perusahaan cabang keluarga Alensio. Dia sebagai perwakilan pengacara untuk mengurus masalah yang sedang terjadi di perusahaan cabang di Kanada itu.
Bukannya Bram menolak pekerjaan itu namun tempat yang ditujunya adalah tempat dimana negara asal ibu mertuanya. Tempat bulan madunya juga saat bersama istrinya itu. Juga tempat masa kecil istrinya yang sudah meninggal itu. Niat hati ingin segera move on dari istrinya tapi dia selalu berada dalam lingkup istrinya berasal ataupun pernah tinggal.
"Silahkan tuan!" Persilahkan seorang pramugari untuk masuk menuju bangku pesawat tempatnya berdasarkan paspornya.
Bram hanya mengangguk mengiyakan dan masuk mencari tempat duduknya berdasarkan petunjuk pramugari itu.
Setelah menemukannya Bram duduk di kursi itu dengan nyaman setelah meletakkan tasnya di sampingnya tempatnya duduk.
***
__ADS_1
Setelah kurang lebih perjalanan penerbangan delapan belas jam. Bram turun dari pesawat berdasarkan petunjuk pramugari. Bram menarik kopernya menuju keluar bandara hingga dia mendapati sebuah papan nama atas namanya terpapang jelas di depannya. Seorang pria paruh baya dengan laki-laki muda yang menurutnya mungkin sopir atau sekretaris pria paruh baya itu.
"Anda tuan Bram?" Tanya pria paruh baya itu melihat Bram mendekatinya. Bram hanya mengangguk, tentu saja menggunakan bahasa Indonesia karena pria paruh baya itu masih sepupu dengan pamannya Alensio.
"Mari tuan! Perkenalkan nama saya Thomas. Saya sepupu Alensio." Ucap pria paruh baya itu mengulurkan jemari tangannya memperkenalkan diri.
"Panggil saja Bram!" Jawab Bram.
"Mari tuan Bram! Saya sudah menyiapkan mobilnya." Pria bernama Thomas itu langsung memberi kode pada pria muda yang datang bersamanya itu untuk mengambil koper Bram.
Thomas basa-basi membuka percakapan agar terlihat tidak canggung. Namum Bram terlihat malas hanya menjawab seperlunya saja. Dia pun segera masuk ke dalam mobil begitu Thomas membukakan pintu mobil untuk penumpang di jok belakang.
"Bagaimana perjalanan anda tuan?" Tanya Thomas basa-basi.
"Begitulah." Jawab Bram acuh, dia kembali mengaktifkan ponselnya yang sudah dimatikan sejak penerbangan berangkat.
"Saya akan mengantar anda di apartemen sesuai perintah kakak sepupu saya."
"Hmm." Bram masih sibuk dengan ponselnya atau sengaja menghindari pemandangan luar jendela karena terlalu banyak kenangan bersama istrinya saat berkunjung di Kanada saat bulan madu mereka. Bram terlihat menghela nafas panjang.
Tak sampai satu jam, mobil berhenti di depan lobi apartemen tempat fasilitas perusahaan khusus untuk orang-orang penting perusahaan cabang Alensio.
"Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan?" Tanya Thomas saat koper-koper Bram sudah diturunkan dari mobil.
"Tidak, terima kasih. Aku akan ke perusahaan sendiri besok pagi. Tidak usah menjemput. Aku akan datang kesana sendiri. Persiapan segalanya." Titah Bram menarik kopernya meninggalkan keduanya yang terdiam mendengar ucapan Bram terakhir itu.
.
__ADS_1
.
TBC