Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 15


__ADS_3

Bram membuka matanya perlahan, menatap sekeliling kamar yang dikenali sebagai kamarnya di apartemennya. Dia tersentak saat menoleh ke arah kirinya, gadis yang dikenalinya sebagai calon tunangannya tertidur pulas dengan terduduk sambil meletakkan kepalanya di tepi ranjang. Bram mencoba mengingat kejadian semalam, dan handuk yang menempel di dahinya pun jatuh.


'Apa yang terjadi semalam bukan mimpi? Jadi dia benar-benar merawatku semalaman?' batin Bram saat semalam dirinya berkali-kali mencekal pergelangan tangan Lia juga sedikit berdebat tentang tak mau disentuh juga tak mau dibawa ke rumah sakit.


Bram menatap meja nakas di samping ranjang, terlihat berantakan dengan mangkuk, obat dan entah apa lagi yang jelas semua itu pasti digunakan untuk merawatnya. Bram menatap wajah Lia yang terpancar keletihan dan kecapekan karena semalaman tak beristirahat dengan benar. Dan dia yakin posisi tidurnya sekarang akan membuat badannya pegal semua.


Bram beranjak dari ranjangnya dengan ragu memindahkan selimutnya untuk menyelimuti tubuh Lia. Aku melakukannya karena rasa terima kasih, tidak lebih. batin Bram berlalu ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia butuh mandi untuk membersihkan tubuhnya, badannya sudah lebih baik dan tidak sakit seperti semalam.


Tak sampai lima belas menit, Bram keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan bath rope kamar mandi dan menuju walk-in closet nya untuk memakai pakaiannya. Dan Lia masih dalam posisi yang sama.


Bram menatap Lia lekat dan posisi tidurnya yang membuatnya tidak nyaman. Bram mencoba mengangkat tubuh Lia dan membaringkan di ranjangnya dengan benar. Lia tidak bangun, dia tetap terlelap malah semakin dalam saja tidurnya mencari-cari kenyamanan di ranjang kamar tidur Bram. Bram tersenyum simpul melihat reaksi Lia yang seperti itu. Dia segera keluar dari kamar, dia butuh makan, dia merasa lapar sekali.


***


Lia membuka matanya perlahan, menatap sekeliling kamar yang asing baginya. Dia tampak mengernyitkan keningnya mengingat kejadian ulang semalam. Dia pun langsung tersentak kaget dan terduduk dari tidurnya. Menatap di ranjang karena tak mendapati Bram di ranjangnya malah dirinya yang tertidur pulas di ranjang tersebut.


"Aku... bagaimana aku bisa berbaring di sini?" guman Lia memegang selimut yang menutupi tubuhnya.


"Ini, apa dia sudah benar-benar sembuh sampai membopongku berbaring di ranjang?" guman Lia lagi bertanya-tanya dalam benaknya.


"Lalu apa yang harus kukatakan jika dia bertanya kenapa aku ada disini? Ah, bodohnya aku. Seharusnya aku pulang setelah demamnya turun semalam, kenapa aku harus tertidur disini sih." gumamnya lagi.


Cklek


Suara pintu kamar dibuka membuat Lia sontak menutup selimut itu hingga batas leher.


"Kau sudah bangun?" tanya Bram yang muncul dari balik pintu itu.


"Eh, ah...i...iya.." jawab Lia gugup, gelagapan menatap Bram dengan perasaan campur aduk tapi yang jelas satu, dia malu sekali.


Yang sakit siapa yang tidur di ranjang siapa. Bram mendekat dengan paper bag di tangannya dan meletakkan di ujung ranjang.


"Mandilah, ini pakaian untuk ganti! Akan kuantar pulang!" titah Bram hendak berlalu dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Tidak. Maksutku... aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku membawa mobil sendiri." jawab Lia cepat dan tak sengaja berteriak spontan menutup mulutnya yang ceroboh.


Bram berhenti dan kembali berbalik menatap Lia yang masih tersipu malu dengan wajah nyengir.


"Aku tak mau membuat orang tuamu salah paham sehingga kau sampai menginap di apartemenku. Aku akan menjelaskan pada mereka nanti. Untuk mobil, aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar ke rumahmu." jawab Bram dengan nada tak mau dibantah ataupun ditolak.


"Ah, baiklah." suara tegas Bram khas seorang pengacara membuat Lia spontan mengangguk tak dapat membantah.


***


Kini keduanya dalam perjalanan pulang ke rumah Lia menggunakan mobil Bram. Mobil Lia sudah Bram serahkan pada seseorang kepercayaannya untuk diantar ke alamat yang diberikan oleh Bram. Tak ada yang bicara di dalam mobil itu. Bram tampak diam fokus pada jalanan mengendarai mobilnya.


Lia juga hanya bisa diam memegangi sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya yang tadi sempat membuatnya gugup dan berdebar karena Bram yang memasangkannya karena macet atau entah gugup karena baru saja menginap di apartemen Bram meski tidak seperti orang lain kebanyakan pikir. Dia terpaksa menginap karena merawat Bram yang sakit.


"Terima kasih sudah merawatku semalam." ucap Bram memecah keheningan di dalam mobil.


"Eh, ah, iya." Lia yang kaget tiba-tiba Bram berbicara tak bisa menjawab lainnya.


"Kau..."


Dia terlalu gugup, malu mengingat kejadian tadi. Sehingga mencegah agar Bram tak bicara tentang hal-hal itu.


"Terima kasih." ucap Lia hendak masuk rumah namun Bram juga ikut keluar dari dalam mobil mengikutinya masuk ke dalam rumahnya.


"A.. ada apa lagi?" tanya Lia mengernyit keheranan.


Biasanya setiap pulang kencan mereka, Bram tak pernah ikut masuk mengantar ke dalam rumah apalagi bertemu dengan orang tuanya dengan alasan sibuk atau sesuatu yang harus segera diurus.


"Aku ingin bertemu orang tuamu." jawab Bram santai.


"Eh, untuk apa?" Bram mengernyit menatap heran pada Lia.


"Aku ingin menjelaskan perihal dirimu menginap di apartemenku." jawab Bram.

__ADS_1


"Tidak usah, tidak apa-apa. A... aku yang akan menjelaskannya. Kau pasti sibuk, pergilah!" usir Lia secara halus sambil tangannya mendorong Bram untuk pergi. Bram mengernyit.


"Kau mengusirku?" tanya Bram.


"Tidak. Tidak... bukan seperti itu... jangan salah paham.." Lia segera menggeleng cepat sambil kedua tangannya melambai.


"Lalu?"


"Kau kan sibuk. Pasti kau banyak pekerjaan. Jadi..."


"Aku ingin bicara sesuatu pada orang tuamu juga." potong Bram nyelonong masuk ke dalam rumah dan bersamaan dengan itu. Orang tua Lia muncul di ruang tamu.


"Assalamualaikum ayah ibu." sapa Bram sopan dan ramah sambil menyalami dan mengecup punggung tangan kedua orang tua Lia.


Kedua orang tua Lia mengernyit heran dengan perlakuan Bram. Begitu juga dengan Lia yang tak tahu sisi Bram yang satu itu. Bram selama ini selalu menunjukkan sikap irit bicara, tegas, dingin dan tak tersentuh. Dan sekarang Bram menunjukan sikap ramah dan hangatnya.


"Wa'alaikum salam..." jawab ibu Lia spontan.


"Nak Bram." sapa ayah Lia menatap Bram yang tersenyum ramah, ganti menatap Lia yang mengedikkan kedua bahunya cepat melihat tatapan mata ayahnya.


"Duduk dulu!" ucap ibu Lia ramah. Bram hanya tersenyum dan ketiganya duduk.


"Lia, buatkan minuman untuk Bram!" titah ibunya membuat Lia menjawab dengan gelagapan karena masih bingung dengan sikap Bram yang berubah drastis.


"I..iya Bu." Lia pun masuk ke dalam rumah menuju dapur untuk mengambil apa yang diperintahkan ibunya.


Sementara mereka bertiga duduk dengan tegang di sofa ruang tamu menunggu Bram memulai pembicaraan. Sepertinya Bram ingin bicara serius. Itulah kira-kira yang dipikirkan orang tua Lia.


"Kedatangan saya langsung kemari karena ingin menyampaikan sesuatu." ucap Bram memecah keheningan.


"Katakan nak!" jawab ayah Lia menatap Bram intens.


"Saya datang untuk melamar Lia untuk menjadi istri saya secepatnya. Tanpa bertunangan terlebih dahulu."

__ADS_1


TBC


__ADS_2