
Kandungan istri Bram sudah memasuki tiga puluh tiga minggu. Bram benar-benar mengawasi istrinya dengan extra. Kata-kata dokter yang menyatakan kandungan istrinya lemah membuat Bram menambah beberapa perawat yang selalu sedia setiap saat di sisi istrinya. Meski Lia sudah protes hal itu tak membuat niat Bram luluh. Dua orang perawat yang berpengalaman sengaja disewanya saat dirinya sedang bekerja di kantor ada yang mengawasi kegiatan istrinya setiap saat.
Meski Lia merasa risih, mau tak mau Lia terpaksa menyetujui keinginan suaminya. Toh itu juga demi anak mereka. Kehilangan janinnya yang masih dalam kandungan sungguh membuat Bram trauma. Dia akan sangat merasa bersalah jika sampai hal itu terjadi lagi padanya. Secara usianya sudah tidak muda lagi untuk mendapatkan momongan sebagai buah cinta dengan istri tercintanya.
"Mas berangkat dulu!" Pamit Bram pagi itu sambil mengecup kening istrinya penuh cinta. Tak lupa dia berlutut mengecup perut istrinya sambil bercakap-cakap sebentar seolah anak yang ada di dalam kandungannya mendengarnya.
"Jangan nakal! Jaga mami! Papi akan marah jika kau nakal!"
"Mas apa sih?" Ucap Lia tertawa mendengar ancaman suaminya.
"Aku tak mau jika anak ini menyiksamu."
"Aku tak apa mas, aku senang menjalani kehidupan normal seorang wanita hamil." Ucap Lia tersenyum lembut menatap suaminya.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Bram mengecup bibir istrinya lekat. Para perawat yang memang selalu berada di dekat Lia tersipu malu dan memalingkan muka melihat keromantisan pasangan itu.
"Aku juga mencintaimu."
***
"Halo." Sapa yang diseberang saat Bram menghubungi nomor ponsel istri Ken. Ralat, istri pertama Ken tepatnya istri sahnya.
Bram sempat mengernyit mendengar nada suara yang lembut dan sopan dari suara di seberang. Tak menyiratkan seorang perempuan yang... 'nakal' begitulah kira-kira yang digambarkan Lena saat dia memintanya untuk menggugat cerai istri sah dari suaminya ini demi anak yang ada dalam kandungannya.
__ADS_1
"Siapa ini?" Tanya wanita itu lembut namun dalam keadaan sedikit panik. Bram hanya menebak mungkin sedang bertanya-tanya siapa kiranya dirinya.
"Saya Bramantyo pamungkas, pengacara tuan Keanu. Bisakah saya bertemu secara pribadi dengan anda?" Jawab Bram lancar.
"Dimana?" Jawab istri sah Ken yang dia ketahui bernama Karina.
"Saya sedang berada di cafe XXX, bisakah anda datang kemari. Saya sedang senggang hari ini. Dan anda berjanji akan menyediakan waktu untuk bertemu dengan saya beberapa waktu yang lalu." Ucap Bram menagih janji.
Terdengar suara mendesah tak berdaya di seberang sana. Terdengar sekali sebenarnya dia ingin menolaknya namun janjinya beberapa waktu yang lalu saat Bram menghubunginya membuat urung untuk menolak. Padahal dia sedang cemas dan panik karena anaknya menghilang dari sekolah padahal semua anak sudah pulang sekolah.
"Lima belas menit lagi saya kesana." Jawab Karina singkat menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Bram.
Dia memilih terpaksa menunda mencari putrinya yang entah kemana. Meski perasaannya cemas dan was-was. Namun pengacara ini adalah pengacara terkenal yang dia mempunyai jadwal sangat padat. Sementara dirinya ingin segera menyelesaikan perceraiannya dengan ayah putrinya sebelum masalahnya berlarut-larut.
Bram melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Menunjukkan waktu hampir jam tiga sore. Bram sabar menunggu, dia sudah menghabiskan kopi hampir dua cangkir. Entah kenapa dia merasa gugup dan gelisah setelah menghubungi istri kliennya yang sudah digugat cerai itu. Dia bersiap untuk menghadapi jika wanita itu histeris atau mengamuk karena menolak menanda tangani berkas perceraian ini.
"Selamat sore." Sapa Karina begitu muncul di ruang privat cafe.
Bram terdiam menatap wanita yang baru datang itu terlihat familiar. Entah kenapa dia pernah melihat wanita ini. Bram mencoba mengingat-ingat menggali kenangan masa lalu yang mungkin ada wanita ini. Namun digali sedalam apapun Bram tetap tak mengingat wanita ini.
"Maaf." Suara interupsi dari wanita itu membuat Bram tersentak dan lamunannya seketika buyar.
"Maaf, silahkan!" Jawab Bram tersipu malu karena ketahuan tengah melamun menatap intens wanita di hadapannya ini. Wanita yang terlihat cantik dan imut dengan wajah baby face nya.
__ADS_1
Kalau saja tidak teringat dengan istrinya yang sedang hamil di rumah yang sedang menunggu detik-detik kelahiran calon bayi mereka. Mungkin Bram akan langsung jatuh hati pada wanita yang terlihat lembut, sabar dan keibuan ini. Bram sedikit terpesona tadi, namun istrinya adalah segalanya untuknya.
"Perkenalkan nama saya Bramantyo Pamungkas. Pengacara yang menangani kasus perceraian dari pihak tuan Keanu." Ucap Bram sambil mengulurkan jemari tangannya berkenalan dengan Karina.
"Salam kenal." Sapa balik Karina menerima uluran tangan Bram namun tak menyebutkan namanya. Toh dia pasti sudah tahu dari Ken, karena dia tadi sudah menanyakan di ponsel siapa dia. Karina memilih duduk setelah melepas tautan tangan mereka. Bram sempat melongo karena baru kali ini dia diacuhkan oleh seseorang dan orang itu adalah seorang wanita.
*Tunggu, apa daya tariknya berkurang?
Atau wanita ini memang tidak tertarik padanya?
Semua wanita yang melihatku pasti akan berteriak antusias jika bertemu denganku. Tapi ini... aku dikacangin*. Batin Bram merasa harga dirinya jatuh diperlukan acuh oleh Karina. Wanita pertama yang tidak tertarik dengannya. Dan Bram menatap lekat wanita di hadapannya ini. Dia terlihat cantik meski terlihat gurat wajah kelelahan, cemas dan panik entah karena apa.
"Apa kita bisa langsung saja?" Tany Karina, lagi-lagi membuyarkan lamunan Bram.
"Tentu."
Bram langsung mengeluarkan berkas perceraian dari kliennya Ken, tidak lebih tepatnya istri siri Ken yaitu Lena. Sahabatnya yang mengatakan kalau istri sah Ken seorang wanita jahat.
Namun sejauh yang dia perhatikan setelah bertemu beberapa menit lalu. Wanita di hadapannya ini tidak menunjukkan wajah permusuhan atau jahat seperti yang dikatakan Lena. Namun Bram tak bisa langsung menilai begitu saja dari wajahnya. Bram perlu lebih mengenal lebih dekat agar bisa tahu bagaimana watak seorang wanita.
Yang menjadikan Bram ragu dengan ucapan Lena adalah wanita di hadapannya ini sangat sabar dan lembut. Malah seolah wanita inilah yang menjadi korban dari kedua manusia yang sedang terjerumus cinta masa lalu. Dan Bram yakin, Ken suatu saat akan menyesal telah meninggalkan wanita sebaik istri sahnya ini.
.
__ADS_1
.
TBC