
Sebulan sudah bulan madu kedua Bram. Bram memilih untuk menuruti perintah sang papa untuk lebih mengutamakan mengurus perusahaan keluarganya ketimbang firma hukumnya. Meski Bram sendiri sedikit tak rela hanya sebagai pekerja pasif pada firma hukumnya karena sekarang posisi direktur utama dipegang sahabatnya Terry.
Terry sendiri membenarkan ucapan papa sahabatnya itu demi kebaikan kehidupan rumah tangga serta keselamatan keluarganya terutama istrinya.
Setelah banyak pertimbangan Bram memutuskan untuk menuruti apa kata papanya dan sahabatnya. Dia harus lebih konsentrasi pada keluarga kecilnya. Meski pekerjaan sebagai CEO di perusahaan sang papa juga tak kalah sibuknya. Namun itu lebih baik karena akan jarang ke luar kota atau ke luar negeri sendiri mengurus kasus atau pekerjaannya.
Sesuai saran papanya, jika sedang perjalanan bisnis ke luar kota maupun ke luar negeri Bram bisa membawa serta istrinya untuk menemaninya atau agar istrinya tak jenuh di rumah terus.
Oh ya, setelah pulang bulan madu, Bram langsung memboyong istrinya pulang ke rumah yang lebih mirip mansionnya yang sudah selesai direnovasi itu. Dia juga menempatkan beberapa pelayan dan penjaga mansion tak cukup satu atau dua orang tapi hampir lebih dari sepuluh orang diperkerjakan mereka.
Empat penjaga yang bergantian masing-masing dua orang setiap pagi dan malam. Delapan orang pelayan yang dua orang sebagai pengawal pribadi istrinya yang tentu saja ahli bela diri jika sewaktu-waktu istrinya butuh pertolongan.
Bram tak tanggung-tanggung memanjakan istrinya. Bahkan mansion pribadinya memiliki fasilitas lengkap untuk hiburan istrinya dikala suntuk dan bosan di rumah. Seperti mini home teather, kolam renang indoor serta fasilitas lainnya seperti tempat melukis istrinya yang pernah menginginkan kuliah seni saat dulu.
Mungkin akan lebih lengkap lagi jika dengan kehadiran suara tawa dan tangisan anak kecil. Setelah tiga bulan pernikahan mereka, belum ada tanda-tanda istrinya hamil atau nyidam. Namun tak menyurutkan semangat Bram untuk terus berusaha lebih keras lagi.
Dia berharap dengan kesibukannya hanya sebagai CEO yang tidak merangkap pengacara membuat niat hati Bram untuk mendapatkan momongan akan langsung berhasil.
"Mas, mau sarapan apa?" Tanya Lia pagi itu melihat suaminya sudah siap di meja makan.
"Apapun yang kau berikan aku suka." Jawab Bram membuat Lia sontak memerah karena malu.
"Jangan menggodaku pagi-pagi mas!" Jawab Lia tersipu malu sambil mengambilkan nasi goreng seafood kesukaan suaminya.
"Kau yang selalu menggodaku sayang. Semalam masih belum cukup bagiku." Jawaban Bram sontak membuat Lia semakin memerah.
"Makan sarapanmu sebelum dingin mas." Lia menuju lemari es untuk mengambil susu kemasan untuk suaminya atau lebih tepatnya menghindari godaan demi godaan yang dilontarkan suaminya.
__ADS_1
***
Siang itu Bram menghadiri pertemuan dengan klien. Pertemuan mereka juga berjalan lancar, kerja sama pun terjalin dengan perusahaan baru dari Sing*Pur*. Bram merasa puas dengan pekerjaannya. Namun hari itu entah kenapa perasaan Bram tidak enak. Firasatnya buruk sejak pagi tadi, dia mengira kalau kerja sama dengan perusahaan klien hari ini gagal mengikat kontrak. Namun tidak seperti itu kelihatannya karena pertemuannya dengan klien berjalan lancar.
"Terima kasih atas kerja sama kita hari ini, semoga perusahaan anda tidak mengecewakan." Ucap Bram pada kliennya sambil berjabatan tangan.
"Saya lah yang seharusnya berterima kasih karena perusahaan anda mempercayai perusahaan kami. Saya berjanji tidak akan mengecewakan anda." Jawab klien itu tersenyum ramah dengan tatapan mata berbinar-binar bangga dengan kerja kerasnya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu!" Pamit Bram balas tersenyum.
"Baik tuan, selamat jalan, hati-hati di jalan."
***
"Anda terlihat gelisah tuan?" Tanya asisten Bram yang baru direkomendasikan oleh papanya.
"Maaf, jika saya terlihat ikut campur tuan." Asisten itu merasa bersalah dan terdiam setelah mengatakannya.
Bram tetap terdiam namun tetap tak membuat perasaannya lega. Dia masih merasa perasaannya resah dan gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengganjalnya.
Dering ponsel Bram dengan panggilan istrinya membuatnya tersenyum. Dia langsung mengangkat panggilannya.
"Halo sayang." Sapanya dengan senyum lebar di bibirnya.
"Tuan ini saya, bi Ijah." Jawab yang di seberang terlihat terburu-buru dengan nafas ngos-ngosan.
"Ada apa bi? Dimana istriku?" Tanya Bram dengan wajah serius yang terlihat cemas. Bahkan dia sampai duduk tegak dari sandaran mobilnya.
__ADS_1
"Nyonya tuan, nyonya..." Jawab bi Ijah ragu.
"Ada apa dengan istriku?" Tanya Bram tak sabaran, meski belum menaikkan nada bicaranya. Suara Bram terdengar menakutkan di telinga bi Ijah, dia semakin ketakutan untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Bram." Seseorang menyela ponsel Lia dari seberang.
"Mama. Apa yang terjadi dengan istriku ma?" Tanya Bram semakin cemas mendengar ponsel istrinya dipegang mamanya dan suara sang mama terdengar serius tidak seperti biasanya.
"Datanglah ke rumah sakit keluarga kita. Sekarang!" Titah Erika tanpa basa-basi.
"Ada apa ma? Apa yang terjadi dengan istriku ma?" Tanya Bram mulai tak sabaran sambil menitahkan pada sopir menuju rumah sakit milik keluarga besarnya.
"Kau akan tahu setelah sampai. Istrimu butuh dukungan mu segera!" Erika langsung menutup ponselnya karena tak tega memberi kabar melalui ponsel pada putranya.
"Ma! Mama!" Seru bram terdiam dengan wajah memanas cemas dan marah. Dia memandangi ponselnya lama merasa yang dikatakan mamanya pasti sesuatu yang buruk.
"Cepatlah!" Teriak Bram tidak sabaran mulai emosi.
"Ba...baik tuan." Jawab sopir itu takut-takut. Asistennya hanya terdiam melihat bos barunya mulai emosi seperti tidak biasanya.
Selama ini pembawaan seorang sangat tenang dan jarang sekali emosi. Hanya sesekali asisten itu memergoki bosnya tersenyum saat menghubungi istrinya lewat ponselnya. Dia hanya melirik bosnya yang terlihat mengepalkan tangannya erat menahan emosi agar tidak semakin meluap amarahnya.
.
.
TBC
__ADS_1