Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 23


__ADS_3

Acara pernikahan terus dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Kedua mempelai duduk di pelaminan menunggu prosesi acara dibacakan dan dilakukan satu persatu. Hingga para tamu undangan yang datang mulai dari rekan bisnis orang tua Bram dan juga rekan bisnis Bram sendiri. Teman-teman sosialita Erika, tak ketinggalan teman sejawat Bram pengacara-pengacara.


Bahkan para pejabat, artis dan pengusaha yang pernah dibantu Bram saat menjadi tim kuasa hukum mereka turut hadir memberikan ucapan selamat dan doa untuk kedua mempelai pengantin. Begitu juga semua teman dan rekan bisnis orang tua dan teman-teman kerja Lia juga datang di resepsi pernikahan yang dilaksanakan secara megah dan mewah mengingat Bram adalah putra satu-satunya keluarga Pamungkas, seorang pewaris tahta kekayaan keluarganya.


Raut wajah kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Terutama Lia, dia juga terlihat gugup dan gelisah mengingat acara sudah mencapai puncak dan sebentar lagi acara juga selesai. Lia mengingat kembali godaan teman-teman kerjanya tadi.


Bahwa malam pertama itu menyakitkan tapi juga menyenangkan, begitulah cerita teman-teman Lia yang sudah menikah. Lia takut tak bisa melayani suaminya dengan baik. Lia terlihat meringis merasakan kakinya sudah mulai keram dan sakit karena high heels nya.


"Apa sakit sekali?" tanya Bram dengan penuh perhatian.


"Tak apa, aku masih bisa menahannya." jawab Lia meski rasa sakit sudah tak bisa ditahan.


Tanpa ba bi bu lagi, Bram melepas high heels istrinya dan mendudukkan tubuh istrinya di kursi pelaminan. Lia terkejut mendapat perhatian kecil dari suaminya itu tersenyum bahagia.


"Apa kau ingin istirahat?" tanya Bram cemas.


"Apa sudah bisa?" Lia malah balik bertanya karena menatap sekeliling, orang-orang masih banyak yang harus disalami.


"Kau bisa jalan?" tanya Bram lagi.


Lia mengangguk, menggandeng istrinya meninggalkan pelaminan setelah pamit pada orang tuanya dan mengizinkan mereka meninggalkan tempat acara. Toh, tamunya tinggal tamu para orang tua.


**


Langkah Lia semakin pelan dan tertatih-tatih. Bram tetap memapahnya, istrinya terus bilang masih sanggup berjalan meski ringisan ditahan Lia hingga sampai lift menuju kamar mereka di lantai paling atas hotel itu.


"Kau yakin tak apa?" tanya Bram semakin cemas, istrinya menahan rasa sakitnya yang Bram ketahui sudah memerah di tukak kakinya.


"Tak apa. Sungguh?" jawab Lia tersenyum lembut meyakinkan suaminya kalau dia sungguh tak apa-apa. Namun Bram langsung membopong tubuh istrinya.


"Kyaa.." Lia spontan menjerit dan langsung melingkarkan lengannya di leher suaminya untuk berpegangan.

__ADS_1


"Tidak perlu mas, a... aku bisa jalan sendiri..." tolak Lia yang wajahnya memerah.


"Aku tak menerima penolakan Lia." jawaban Bram membuat nyali Lia menciut dan akhirnya menuruti apa kata suaminya, toh mereka sudah sah menjadi suami istri, mereka bebas melakukan apapun.


Tapi tidak di dalam lift juga kali. Lia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya untuk menutupi rasa malunya. Kakinya memang sudah sangat sakit tak mungkin sanggup berjalan lagi.


***


"Mandilah dulu!" titah Bram setelah mereka berada di dalam kamar hotel yang juga kamar pengantin mereka yang sudah dihias sedemikian rupa yang membuatnya keduanya langsung memerah malu melihat begitu indahnya kamar pengantin itu.


"I.. iya.. mas .." jawab Lia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar hotel itu.


Bram tampak gugup juga sebenarnya namun dia berusaha menyembunyikannya. Dia tak mungkin juga ikut-ikutan gugup seperti istrinya. Bagaimana pun dia seorang pria harus lebih menunjukkan bagaimana itu seorang pria.


Cklek


Tak sampai sepuluh menit Lia muncul dari dalam kamar mandi dengan memakai bath rope kamar hotel yang ada di dalam kamar mandi, dia lupa membawa baju ganti. Dengan juga handuk kecil melilit di rambut basahnya.


"A..apa tak ada koperku?" tanya Lia gugup meski mereka sudah menjadi suami istri.


"Aku tak melihatnya." jawab Bram menatap sekeliling kamar dan berakhir di lemari.


Dia pun membuka lemari itu dan kosong. Tak ada sehelai pakaian pun. Bram menggeleng menatap Lia yang menghela nafas pasrah.


"Aku mandi dulu, coba nanti aku tanya layanan kamar, mungkin memang belum dibawa kemari." hibur Bram melihat wajah murung istrinya.


"Iya." Bram masuk ke dalam kamar mandi. Lia duduk di meja rias membuka handuknya yang ada di rambut.


Cklek


Bram keluar dari dalam kamar mandi juga hanya memakai bath rope kamar hotel yang memang tersedia sepasang untuk kedua mempelai tersebut.

__ADS_1


"Pakaianku juga tak ada, aku lupa." ucap Bram mencari-cari ponselnya untuk menghubungi seseorang namun seketika dia menepuk jidatnya teringat ponselnya disimpan di tasnya saat hendak kesini dan itu ada di kamar tempat ganti pakaian pengantin tadi.


"Ada apa mas?" tanya Lia melihat Bram terlihat gelisah.


"Kau bawa ponsel?" Lia menggeleng, ponselnya dititipkan pada mamanya saat hendak ijab qobul tadi.


Toh dia tak mungkin membawa-bawa ponsel dengan gaun pengantin yang ribet tadi.


"Ah, kita tak bisa minta tolong siapapun. Kita juga tak bisa keluar kamar dengan memakai bath rope saja." jelas Bram.


Lia pun semakin menunduk murung. Bram tahu betul ini semua pasti rencana sang mama karena mungkin ingin pasangan pengantin itu menjalani malam pertama mereka tanpa gangguan. Bram duduk di tepi ranjang dengan menatap wajah istrinya yang terlihat bertanya apa yang harus kita lakukan?


"Istirahatlah! Kau pasti capek." ucap Bram menepuk ranjang yang ditaburi kelopak bunga mawar merah itu.


Seketika wajah Lia memerah mengingat mereka akan tidur bersama dan mungkin saja... ah tidak. Wajah Lia semakin merah.


"Duduklah!"


"Eh?" Lia tersentak kaget saat suaminya menariknya duduk di sisinya dan tiba-tiba berlutut di hadapan dengan memegang kakinya.


"Mas sedang apa? Jangan mas, kotor!" tolak Lia sambil menepis lembut tangan Bram yang menyentuh pergelangan kakinya.


"Aku hanya ingin melihat lukamu, apa jadi membengkak?" Jawab Bram lembut.


"Su.. sudah tak apa mas." tolak Lia lagi, dia sungguh merinding di pegang seperti itu oleh suaminya, yah oleh suaminya.


Bagaimana pun juga itu pertama kalinya seorang pria yang bukan keluarganya menyentuh kulit tubuhnya padahal sekarang mereka adalah suami istri.


"Menurutlah Lia!" ucap Bram menatap Lia sedikit kesal karena Lia selalu bilang tak apa padahal terjadi apa-apa dengannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2