
Bram hari ini pulang kerja terlambat. Dia sudah menghubungi istrinya akan pulang terlambat karena ada hal yang mendesak yang harus diselesaikannya terkait orang yang dicurigainya itu. Awalnya Lia hendak melarangnya, namun belum sempat Lia menyatakannya.
Suaminya sudah menutup ponselnya karena seperti ada suara seseorang yang menyela di percakapan ponsel mereka. Lia pun akhirnya merelakan suaminya untuk lembur, walau sebenarnya dia masih sedikit ragu. Apalagi suaminya baru sembuh dari luka kecelakaannya.
"Kita akan mulai meetingnya sepuluh menit lagi." Ucap Terry masuk ke ruangannya Bram saat Bram menelepon.
"Okay." Jawab Bram menutup ponselnya setelah berpamitan dengan istrinya.
Bram mengambil berkas-berkas yang ada di mejanya untuk bahan-bahan meeting nanti. Dia dan Terry berencana untuk membuat pelaku yang dicurigainya itu mengaku. Meski rencana baru dikatakannya siang tadi. Hal itu tak membuat Bram dan Terry ragu.
**
Keduanya masuk ke dalam ruang meeting bersamaan. Semua tim kuasa hukumnya sudah siap dan berkumpul di ruangan itu. Tak terkecuali orang itu. Bram menatapnya sampai menuju ke kursinya.
Meeting dimulai, membahas kasus-kasus mereka dalam waktu dekat. Sekretaris Bram tampak mencatat semua detail meeting itu. Tanpa terasa sudah lebih dari dua jam bahasan kasus itu. Setelah dirasa cukup, meeting ditutup oleh Bram. Menyisakan tiga orang di dalam.
"Kau sudah mendapatkan petunjuknya?" Tanya Terry memulai aktingnya.
Bram menoleh menatapnya. Tak terkecuali orang itu.
"Sudah, tapi aku belum mendapatkan bukti yang cukup." Jawab Bram diiringi ******* kecewa.
__ADS_1
"Aku akan membantumu lebih keras lagi, dan tidak lama lagi, aku akan mendapatkannya untukmu." Usul Terry melirik orang itu.
"Terima kasih Terry?" Ucap Bram tersenyum lega.
"Apa kau perlu bantuanku juga?" Tawar orang itu yang sejak tadi hanya diam menyimak menatap Bram lekat.
"Sungguh?" Tanya Bram tak percaya mengalihkan pandangannya ke arah orang itu.
"Itu lebih bagus, kita akan dapat bukti lebih cepat." Sela Terry tersenyum, merasa umpannya dimakan.
"Baiklah, kasus yang mana itu." Tanya orang itu mendekati Bram.
Bram menatap Terry dan orang itu bergantian. Bram pun menunjukkan berkas kasusnya. Menyerahkan pada orang itu. Orang itu menerimanya dengan santai, namun mukanya tampak memucat pias membaca berkas yang dibacanya itu. Seketika dia gugup dan gelagapan sambil melirik ke arah Bram dan Terry yang juga memperhatikannya.
"Aku sudah kesana pagi tadi, dan kecurigaanku mengarah padanya." Jawab Bram menatap Terry yang menatapnya juga.
"Siapa?" Seru orang itu tanpa sadar berteriak. "Ah, maaf." Ralat orang itu merasa dirinya salah tingkah.
Bram dan Terry langsung menatap orang itu bersamaan karena terkejut mendengar teriakkannya.
"Lawan klien kita terakhir kalinya."
__ADS_1
Gleg...
Jawaban Bram membuat orang itu kesulitan menelan ludahnya kasar. Wajahnya yang tadi pucat semakin pucat saja.
"Ka.. kalian sudah menemui mereka?" Tanya orang itu gelagapan meski berusaha ditutupinya.
Bram dan Terry saling menatap seolah memberi sinyal kalau kecurigaan mereka benar adanya.
"Besok aku berencana untuk menemuinya." Bram melirik jam tangannya "Kalau sekarang kurasa sudah terlalu larut." Jawab Bram santai.
"Oh... be... begitu ya..." Orang itu tampak gelisah sambil membenarkan duduknya yang sudah sangat tidak nyaman.
"Ya dan aku akan mencari informasi lagi dari kepolisian. Aku akan menjebloskannya seumur hidup agar membusuk dalam penjara." Ucap Terry penuh dramatisasi.
Gleg....
lagi-lagi orang itu gelagapan, sulit untuk menelan ludahnya kembali.
"Aku akan mempelajarinya dan ikut melakukan penyelidikan. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, aku akan menghubungimu." Jawab orang itu sambil membereskan barang-barangnya untuk pamit dengan alasan ada urusan lain.
Bram dan Terry hanya menganggukkan kepalanya mengiyakannya. Keduanya saling menatap dan tersenyum, kalau jebakan mereka dimakan umpannya.
__ADS_1
TBC