Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 21


__ADS_3

Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, wajahnya masih memerah menahan malu. Namun dia masih menampilkan wajah datarnya. Lia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil tak berani menatap ke arah Bram yang tampak fokus menyetir.


Lia melirik dari kaca mobil depan melihat ekspresi wajah Bram setelah mereka berciuman di butik tadi. Cukup lama mereka tadi terlena dalam ciuman panas itu. Bagaimana pun juga itu adalah ciuman pertama keduanya setelah mereka dijodohkan.


Saat menyadari dimana tempat mereka berciuman, wajah keduanya langsung memerah menahan malu. Lia langsung memalingkan muka menghindari tatapannya dengan tatapan mata Bram.


"Maaf.." bisik Bram lirih mengira Lia marah karena ciuman tadi, Bram berbalik hendak kembali ke ruang ganti namun gerakannya langsung terhenti.


"A.. aku hanya malu..." Lia langsung menundukkan kepalanya sambil tangannya masih menarik sedikit jas pengantin calon suaminya mencoba menjelaskan agar Bram tidak salah paham.


Bram membeku, sungguh dia juga malu. Dia kehilangan kendali saat menatap bibir merah mungil milik calon istrinya. Tanpa sadar Bram menciumnya tak peduli bibir Lia menutup rapat meski akhirnya membalas dan menikmati ciuman mereka. Bram kembali berbalik, mereka masih belum sadar kalau tirainya sudah tertutup.


"Jadi kau suka?" tanya Bram tersenyum antusias sambil menatap jasnya yang dipegang Lia.


"Eh?" Lia terkejut sontak mendongak menatap Bram yang lebih tinggi darinya.


"Jadi tak apa kalau dilakukan lagi?" tanya Bram lagi membuang rasa malunya, dia seorang pria.


Dia yang harus berinisiatif lebih dulu. Begitulah yang dibacanya di internet.


"Kalau... tak ada.. orang lain... tak apa..." jawab Lia lirih semakin malu saja.


Bram tersenyum, dia menatap sekeliling tempat itu. Tersentak dan langsung menarik Lia dari sana untuk mengganti gaunnya.


"Dimana mama?" tanya Bram pada salah seorang karyawan butik itu yang menatapnya malu-malu karena sempat menyaksikan ciuman panasnya.


Bram mencoba tebal muka, percuma menyesali toh sudah terjadi. Apalagi mereka tiga hari lagi akan menikah. Sambil menunggu Lia yang masih ganti gaun.


"Nyonya Erika pamit pulang tuan." Bram berdecak kesal mendengar sang mama meninggalkan mereka.


Namun entah kenapa Bram bersyukur mamanya pulang lebih dulu.


"Kau sudah selesai?" tanya Bram saat melihat Lia muncul dari dalam sebuah ruangan.


Lia hanya mengangguk mengiyakan. Bram keluar dari butik diikuti Lia dari belakang, Bram mencoba melambatkan jalannya menuju ke tempat parkir mobilnya.


Namun bukannya Lia menyusul jalan di sisinya, Lia juga ikut melambatkan laju jalannya juga sehingga tetap berjalan di belakang Bram. Bram pun kesal dan berhenti mendadak membuat Lia yang tak mengira sontak menubruk punggung Bram.


"Aduh..." seru Lia merasakan hidungnya sakit. Dia mengusap-usap hidungnya.


"Ah, maaf." Lia langsung menundukkan kepalanya melihat Bram yang tiba-tiba berbalik menatapnya.

__ADS_1


Bram menariknya hingga Lia membentur dada bidang Bram.


"Bisakah kita berjalan bersisian?"


"Eh?"


"Delia..." seru Bram membuat Lia tersentak saat Bram menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.


"Mas.. i..ini.."


"Masuklah!" titah Bram membuka pintu mobil bagian penumpang.


"Ah, baik." jawab Lia masuk ke dalam mobil Bram.


Lia merasa malu dan tak biasa karena diperlakukan seperti itu.


***


Lia belum turun dari mobil, padahal sudah sampai rumahnya. Setelah dari butik tadi, Bram mengajaknya makan siang. Setelah itu karena pekerjaannya banyak, Bram pamit untuk kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaannya.


"Lia..." lirih Bram tanpa menatap wajah Lia yang masih terdiam seperti memikirkan sesuatu.


Bram meraih jemari tangan Lia menaruh dalam genggamannya.


"Aku.. aku belum pernah merasakan apa itu mencintai dan bagaimana mencintai seseorang. Namun bersamamu membuat diriku nyaman dan tenang. Aku tak tahu dan tak mengerti perasaan apa itu. Aku... aku mencintaimu Lia." pernyataan cinta dari Bram yang sudah lama ditunggu-tunggu Lia akhirnya keluar juga dari bibir Bram.


Lia menoleh menatap Bram yang juga menatapnya dengan tatapan penuh cinta pula.


"Tapi aku janji, aku akan membahagiakanmu sebagai istriku sampai maut memisahkan kita." janji Bram membuat Lia terharu.


Tanpa sadar air matanya menetes, Bram langsung mengusap air mata itu dan jemarinya beralih menyentuh bibir yang baru dirasakan tadi.


"Bolehkah?" tanya Bram penuh harap. Lia seolah terhipnotis dengan kata-kata Bram dan kepalanya otomatis mengangguk.


Bram mulai mencium bibir Lia yang sudah tidak sekaku tadi. Yang dibalas juga, hingga permainan lidah mereka membuat keduanya bertukar saliva. Ciuman menggebu dari Bram yang baru saja dirasakan di usianya yang sudah tergolong terlambat karena sibuknya dirinya mengurus kariernya.


"Hm..hm... Apa tak sabar menunggu tiga hari lagi?" suara bariton ayah Lia yang memergoki keduanya membuat Bram sontak melepas ciumannya.


Lia langsung menundukkan kepalanya malu merasa dipergoki oleh ayahnya. Bram langsung keluar dari dalam mobil membungkukkan kepalanya sedikit memberi salam pada calon ayah mertuanya.


"Selamat siang ayah." Bram mendekat, mengambil tangan ayah Lia dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Huh... untung ayah lihat, kalau tidak, entah apa yang terjadi." sindir ayah Lia membuat Bram merasa bersalah.


"Mbak, harusnya di dalam kamar, atau mencari tempat sepi." suara adik Lia nyeletuk tak jauh dari tempat mereka hendak masuk.


Lia langsung melotot melihat adiknya muncul entah dari mana.


"Hai kakak ipar. Apa kabar?" sapa adik Lia yang bernama Gio, dia mungkin baru tiba dari kota pelajar untuk kuliah.


Karena mendapat kabar kakaknya akan menikah. Ibunya memintanya untuk pulang.


"Hai.." Uluran tangan Gio dibalas oleh Bram.


"Wah, kakak ipar sangat tampan ya. Emang mas Bram mau sama Mbak Lia?" goda Gio sok kenal dengan Bram padahal mereka baru bertemu hari itu.


Bram menoleh menatap Lia yang siap menyerang Gio namun ditahannya karena tak mau Bram melihat sikap bar-barnya yang hanya diketahui keluarganya, terutama adiknya ini.


"Kenapa? Mbak mu cantik kok." Puji Bram membuat Lia memerah tak jadi marah karena pujian Bram.


"Huh... seneng tuh dipuji calon suami." goda Gio membuat Lia langsung masuk ke dalam rumah karena malu.


Bram tersenyum simpul melihat adik kakak itu.


***


"Sudah sampai mana?" tanya ayah Lia menatap Bram yang duduk di sofa depannya.


"Ya?" tanya Bram tak mengerti maksud pertanyaan calon ayah mertuanya.


"Jangan pura-pura bodoh! Ciumannya sudah mulai kapan dan sampai mana?" tanya ayah Lia sarat akan emosi yang tidak terlalu ditunjukkannya.


"Ah, i..itu..." jawab Bram gelagapan karena tak mengira dengan pertanyaan sang calon ayah mertuanya.


"Sudah dong ayah, toh mereka akan menikah. Baru juga ciuman. Ibu percaya, Bram tak akan bertindak jauh sebelum mereka sah sebagai suami istri." sela ibu Lia yang muncul dari belakang membawa nampan berisi minuman.


"Benar kan nak?" tanya ibu Lia beralih menatap Bram.


"Maaf ayah, ibu. Saya janji hal itu tak akan terjadi lagi sebelum kami sah sebagai suami istri." jawab Bram tegas.


"Huh, toh tinggal nunggu tiga hari lagi." sindir ayah Lia.


TBC

__ADS_1


__ADS_2