
Erika melangkahkan kakinya menuju ruang kerja putranya itu. Dia tahu putranya sedang di kantor firma hukumnya. Setelah mendapat kabar dari calon besannya yang dikatakan suaminya. Erika langsung menghubungi calon menantunya itu dan menanyakan kebenarannya. Lia pun menjawab dengan gelagapan dan senyuman malu-malu dengan wajah yang memerah seperti tomat.
Tentu saja hal itu tidak dapat dilihat oleh calon ibu mertuanya itu. Namun dari suara gagap dan gugupnya sungguh sangat kentara, membuat Erika tersenyum di balik ponselnya membayangkan reaksi calon menantunya itu.
Saat pertama kali Erika dikenalkan oleh sahabatnya Mira yang adalah ibu Lia pada putri mereka. Erika langsung menyukai gadis polos dan lugu itu. Sikap sopan santunnya yang malu-malu membuat Erika gemas ingin segera menjadikannya menantunya satu-satunya.
Namun Erika kembali berpikir, apa putranya yang dingin itu akan mau menerima perjodohan mereka nantinya. Hingga saat itulah otak cerdas Erika berpikir keras bagaimana cara agar putranya tidak menolak perjodohan mereka. Erika pun menyusun rencana dengan suaminya cara menyatukan kedua sejoli itu.
Hingga akhirnya Arya memutuskan untuk membuat rencana itu, rencana paksaan dengan dalih pekerjaan Bram yang membentang dua jalur, sebagai CEO di perusahaan keluarga dan sebagai pengacara yang tidak diketahui bahkan diizinkan orang tuanya.
Awalnya Arya bangga pada putranya itu tentang keberhasilan-keberhasilan dalam menangani kasus-kasus dari yang termudah sampai yang tersulit. Hingga Arya harus menahan pujiannya demi rencananya dengan sang istri.
Hingga akhirnya wajah Bram terpapang di sampul surat kabar terkenal membuat para rekan bisnisnya bertanya-tanya dan menghubunginya, bahwa yang dilihat mereka di surat kabar itu benar atau tidak. Arya yang memang belum menanyakan hal itu pada putranya tentu saja hanya diam tak menjawab semua pertanyaan itu.
Hingga saat itu digunakanlah kesempatan untuk menjalankan rencananya dengan istrinya. Dan tanpa banyak drama, Bram menerima semua itu sebagai konsekuensinya dan rasa bersalahnya pada orang tuanya karena dia tak mengatakan yang sebenarnya pada mereka.
Awalnya Arya melongo tak percaya melihat reaksi putranya yang dengan begitu mudahnya mengiyakan perjodohan itu. Arya mengira semua itu akan dilalui dengan penuh perdebatan atau dramatisasi panjang yang telah disusun oleh istrinya. Namun akhirnya Arya menghela nafasnya perlahan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya setelah putranya berlalu dari ruang kerjanya.
Dia merasa semuanya terlalu mudah, mungkin karena dari kecil Bram tak pernah diajari untuk memberontak hingga mengiyakan apapun yang diinginkan oleh orang tuanya.
**
"Apa Bram ada di dalam?" tanya Erika dengan ramah pada sekretaris Bram yang terlihat sibuk menghadap laptopnya. Sekretaris itu terkejut siapa tamunya.
"Ah, nyonya maaf, saya tidak melihat anda." sekretaris itu langsung berdiri sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Tidak apa." jawab Erika cepat.
"Pak Bram ada di dalam nyonya, silahkan!" jawab sekretaris itu ramah dan sopan.
Erika tersenyum ramah. Saat sekretaris itu hendak melakukan dengan panggilan di pesawat telepon yang ada di meja langsung dicegah Erika.
"Aku akan langsung masuk. Jangan beritahu dia! Aku mau memberinya kejutan." ucap Erika tersenyum seringai.
__ADS_1
"I...iya nyonya." jawab sekretaris itu gugup.
Cklek
Erika langsung menyelonong masuk di ruang kerja putranya. Erika menatap sekeliling ruangan melihat Bram yang sedang memejamkan matanya seolah tidur. Bram tak bangun dengan sentakan keras pintu ruangannya. Erika mengernyit heran melihat putranya memejamkan mata seperti tidur di tengah-tengah pekerjaannya.
"Bram..." panggil Erika, namun tak ada sahutan dari yang punya nama.
Masih terlihat tenang dan nyaman dalam tidur tampannya. Erika tersenyum, dia mau mengerjai putranya ini saja. Erika mendekati kursi kerja putranya mengendap-endap diam-diam seperti maling saja.
"Bram.." bisik Erika yang menyerupai desahan.
Hmm, batin Erika tak ada reaksi apapun.
"Mas Bram..." panggil Erika lagi yang lebih mirip desahan yang menggoda.
Binggo, Bram bergerak dalam tidurnya, dia menjadi gelisah saat mendengar panggilan terakhir Erika. Erika memanggil dengan kata-kata yang sama tadi. Lagi-lagi Bram bergerak gelisah. Dalam mimpinya, Bram berbaring di ranjang apartemennya. Lia naik ke ranjangnya juga menghampiri Bram dengan merangkak.
"Jangan!" teriak Bram membelalakkan matanya saat Lia benar-benar mendekap adik kecilnya dengan berani.
Saat melihat wajah sang mama berada di depan matanya, Bram semakin lebih terkejut lagi.
"Ehm..." Erika berdehem agar mundur dua langkah ke belakang.
"Mama..." Bram tersentak sontak berdiri seketika.
"Kau..." Erika menunjuk pada wajah Bram.
"I..iya ma..." jawab Bram gugup salah tingkah.
"Kau tak sedang mimpi mes*m kan Bram?" tuduh Erika membuat wajah Bram langsung pias, pucat dan malu. Wajahnya langsung memerah malu mengingat kembali mimpinya barusan.
"I..itu...ma..mana... mungkin..." elak Bram, Erika memicingkan matanya menatap putranya yang gugup sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Mama ini mamamu, mama tahu dari raut wajahmu karena sering melihat wajah mes*m papamu pada wajahmu." tuduh Erika telak, membuat Bram tak bisa berkata-kata, menutup mulutnya rapat menahan memerah malu di wajahnya.
"Eh..."
"Mama tak menyalahkanmu. Itu semua juga salahmu, di umurmu yang mendekati kepala tiga masih jadi perjaka ting ting..." tuduhan sang mama lagi-lagi telak dan menohok relung hati Bram.
Erika pun mendudukkan dirinya di sofa depan meja kerja Bram yang memang di sediakan untuk tamu.
"Mama ada perlu apa?" tanya Bram mengalihkan pembicaraan demi menahan rasa malunya.
Erika tersenyum geli melihat gelagat putranya yang salah tingkah dan malu-malu.
"Kita percepat saja pernikahan kalian." saran Erika.
"A...apa maksud mama?" seru Bram ikut duduk di sofa tunggal dekat sang mama.
"Mama sudah dengar dari calon besan mama tentang keberanianmu pagi tadi." lagi-lagi Bram dibuat tak berkutik dengan sang mama.
"Tapi... itu..."
"Dua minggu lagi bagaimana?"
"Ma, itu terlalu cepat. Aku harus menangani kasus besarku ini sampai tuntas." tolak Bram dengan alasan yang menurutnya itu tepat.
"Itu bisa diselesaikan setelah pernikahan Bram, akan ada yang menemanimu saat kelelahan pulang ke rumah. Terlalu lama itu juga tidak baik, apalagi bagaimana kalau kalian kebablasan melihat dirimu tadi memimpikan mes*m Lia." Bram langsung memerah kembali disindir sang mama.
"Cukup ma, i...itu..., bagaimana mama tahu?" tanya Bram gugup.
"Huh, dalam mimpimu tadi kau menyebut nama Lia berulang kali... Lia..Lia...jangan..." jelas Erika menirukan gumaman Bram tadi, Bram semakin malu. Wajahnya sangat memerah tersipu malu.
"Ma..." seru Bram memalingkan wajahnya.
TBC
__ADS_1