
Plakk
Satu tamparan keras melayang di pipi Ken, papa Ken memang terkenal memiliki temperamen kasar. Setelah mendengar runut kejadian dari cerita Lena. Dan pengakuan Ken dan Bram secara terpisah. Papa Ken sudah tak bisa menahan emosinya dan langsung melayangkan tamparan keras di pipi Ken yang tidak lemah.
Terbukti Ken langsung menoleh dengan pipi memerah bekas telapak tangan sang papa. Bram dan papanya sempat terkejut melihat reaksi papa Ken yang tak tanggung-tanggung memberikan hukuman pada sang putra di hadapan beberapa orang meski masih di dalam ruangan kesiswaan kampus. Berdasarkan pengakuan itu.
Dosen yang mengurus kedisiplinan mahasiswa dan mahasiswi memberikan hukuman skors untuk Ken selama seminggu dengan melakukan pelayanan masyarakat pula. Dan pada Bram skors tiga hari dan pelayanan masyarakat pula. Dosen juga memberikan hukuman pada Bram karena seharusnya Bram tak ikut emosi. Meski tak membenarkan kekerasan, dosen tak menyalahkan Bram juga.
Ayolah, siapa yang akan tidak emosi jika kita dipukuli secara membabi-buta apalagi kita jelas-jelas tak tahu apa kesalahan kita. Yang lebih mencengangkan, semua hal itu dipicu karena faktor kecemburuan Ken yang berlebihan melihat kekasihnya jalan dengannya yang notabene sahabat sekaligus rekan sekelompok tugas kampus.
Dan baru kali ini, dalam hidup Bram melakukan kesalahan seumur hidupnya. Sejak kecil Bram selalu dalam kesempurnaan. Segalanya dapat diselesaikan dengan tanpa kesalahan sedikitpun. Mungkin karena dirinya berani berteman hingga efeknya dia tak sengaja melakukan kesalahan. Seandainya... seandainya... semua sudah terlambat.
Bram merasa menyesal telah menodai kesempurnaan yang dibangunnya sejak kecil. Bram menghela nafas sejenak setelah hukuman dijatuhkan oleh dosen kesiswaan.
"Terima kasih pada bapak-bapak sudah mau memenuhi undangan kami yang mendadak ini." ucap dosen itu membungkuk merasa bersalah pada dua orang penting itu.
Papa Ken dan papa Bram. Arya Wiguna Pamungkas, dia memang terkenal dengan kesabaran dan rendah hatinya. Dia memang ketat mendidik putranya namun dia bukan tipe orang yang akan menggunakan kekerasan pada putra semata wayangnya. Dia hanya mendesah kecewa melihat putranya yang selalu sempurna tak melakukan kesalahan sekalipun bisa terpancing emosinya.
Apalagi hanya karena urusan memperebutkan seorang gadis. Arya menggelengkan kepalanya tak percaya, dia hanya menepuk-nepuk pundak Bram. Dan pergi meninggalkan ruangan dosen kesiswaan setelah pamit dan berjabat tangan dengan dosen itu serta papa Ken, Darmawan.
"Maafkan kelakuan putra saya bar-bar. Dia memang tidak pandai mengendalikan emosinya." sesal Darmawan menunduk merasa bersalah pada Arya.
"Tidak apa-apa. Namanya juga anak muda. Sebaliknya jangan terlalu keras pada putra kita, ada kalanya anak-anak pernah melakukan kesalahan juga. Haha..." tawa Arya membuat Darma mau tak mau ikut tersenyum.
Kini dia berkaca pada dirinya sendiri saat dulu masih muda pernah menjadi preman kampus yang juga sering melakukan perkelahian yang membuat orang tuanya benar-benar kecewa padanya.
__ADS_1
"Anda benar." jawab Darma dan keduanya pun tertawa senang seperti seorang sahabat.
***
"Kau tak apa nak? Kenapa bisa babak belur begini?" cemas Erika melihat wajah tampan putranya memar-memar dan darah di sudut bibirnya yang sobek.
"Gak apa ma." jawab Bram hendak berlalu ke kamarnya.
"Apa maksudmu gak apa?" bentak Erika yang masih terlihat cemas dan menarik pergelangan tangan putranya untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Duduk!" titah Erika yang membuat Bram menurut tak berani membantah. "Bi, ambilkan kotak P3K!" seru Erika duduk di sebelah putranya yang menghela nafas panjang melihat sang mama yang overprotektif.
"Sungguh Bram tak apa ma." bantah Bram yang langsung mendapat pelototan tajam dari Erika.
"Ssshhh..." desis Bram saat obat-obatan itu menyentuh lukanya.
"Sakit kan? Kau bilang tak apa?" seru Erika sadis meski terlihat kekhawatiran di wajahnya.
"Mama menekannya terlalu dalam, malah semakin sakit kan? Aduh..." protes Bram yang membuat Erika malah semakin menekan luka itu karena gemas dengan penolakan putranya.
***
"Huff.." Darma menghela nafas panjang, duduk di sofa ruang keluarga.
Dengan mama Ken Salma mendekap tubuh putranya yang wajahnya babak belur dengan memar-memar yang tidak sedikit. Serta darah di kedua sudut bibirnya yang sobek. Ken menunduk merasa bersalah dan tak berani mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Setelah kau wisuda, papa akan menikahkanmu dengan pilihan papa." final Darma meninggalkan ruang keluarga masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Pa, Ken mencintai Lena." seru Ken membantah ucapan sang papa yang tak digubris sama sekali oleh Darma. Salma hanya menepuk punggung putranya memberi penghiburan.
"Ma..." rengek Ken menatap Salma yang sibuk mengobati luka di wajah Ken.
"Turuti apa kata papamu nak!" bujuk Salma yang membuat Ken semakin menunduk tak berani menjawab apapun.
***
Setelah hari itu, Lena dipindahkan oleh orang tuanya ke ibukota. Selain karena masalah di kampus. Orang tua Lena diminta oleh saudaranya untuk mengurus bisnisnya. Lena mau tak mau menuruti orang tuanya. Bahkan dia tak sempat berpamitan dengan kekasihnya, Keanu.
Bahkan Bram juga, Bram juga diboyong oleh keluarganya ke ibukota karena permintaan kakaknya Erika yang meminta untuk mengurus orang tuanya yang sedang sakit-sakitan. Hanya Ken dan Karina yang masih menetap di kota tersebut.
TBC
Maaf...maaf..
sekali lagi maaf...
Karena kesibukan di dunia nyata gak sempat update, kemarin-kemarin sudah diusahakan up meski sedikit..
Tetap dukung selalu karyaku
Beri like rate dan vote nya makasih 🙏🙏
__ADS_1