
Pagi itu Bram pergi ke perusahaan cabang milik pamannya di negara itu. Bram langsung masuk tanpa berhenti di depan meja resepsionis. Namun siapa sangka sapaan ramah dari wanita berhijab membuat Bram menghentikan langkahnya sejenak. Dia menoleh menatap wanita itu yang menyapanya ramah.
Namun Bram mengurungkan niatnya untuk menyapanya balik saat ingat wanita itu sudah bersuami. Terlihat dari perutnya yang terlihat membuncit seperti orang hamil. Bram langsung menuju lift tempat Thomas berada, karena mereka sudah berjanji untuk memulai penyelidikan hari ini.
Wanita resepsionis itu terdiam melihat Bram tak menghiraukannya bahkan bersikap acuh padanya. Dia meneliti pakaian serta apapun yang mungkin dilihat aneh oleh Bram.
"Kenapa dia?"
"Apa ada yang aneh denganku?"
"Benar kata Kate, dia pria yang dingin." Guman wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya
"Karin!" Seorang wanita bule menghampiri wanita berhijab itu.
"Sudah ke toilet nya?" Tanya wanita berhijab yang bernama Karina itu.
"Hmm. Ada apa? Tumben wajahmu jutek gitu?" Tanya Kate mendengar decakan kesal Karina.
"Ternyata kau benar. Pria yang kemarin dingin." Jawab Karina agak kesal.
"Pria tampan kemarin?" Tanya Kate bersemangat. Karina mengangguk meneruskan pekerjaannya.
"Dia datang lagi?" Tanya Kate lagi. Lagi-lagi Karina hanya mengangguk. Dia harus banyak duduk karena kehamilannya, Kate yang lebih banyak menyambut tamu ketimbang Karina. Kate sendiri merasa baik-baik saja karena tahu bagaimana keadaan wanita hamil muda. Karina akan membantu jika banyak tamu datang.
***
Bram mendesah di dalam lift. Dia sedikit menyesal telah mengacuhkan Karina. Bukan karena dia suka wanita itu namun dia benar-benar lupa pernah bertemu Karina tapi dimana. Benaknya berpikir siapa Karina, mungkinkah dia kenal dia di suatu tempat atau pernah bertemu dengannya di suatu tempat.
Lift terbuka membuat lamunan Bram seketika buyar, dia memilih melupakan masalahnya itu sejenak. Dia harus segera menyelesaikan masalah terkait dengan korupsi perusahaan juga barang-barang proyek yang dicuri seorang oknum yang dengan bantuan orang dalam perusahaan.
Bram tahu hal itu setelah mempelajari berkas-berkas dari Thomas kemarin. Namun ada yang janggal dari berkas-berkas yang diberikan Thomas kemarin. Seperti ada yang ditutup-tutupi olehnya agar dia terlihat tidak terlibat.
"Selamat pagi tuan." Sapa sekretaris Thomas dengan gaya centilnya yang menggoda.
__ADS_1
"Thomas ada?" Tanya Bram tanpa basa-basi tak menggubris godaan wanita murahan itu.
"Anda sudah ditunggu tuan." Jawab sekretaris itu mencoba membungkuk sengaja memperlihatkan belahan dadanya yang seksi. Namun Bram memilih menghindari itu dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Sedang sekretaris itu berdecak kesal merasa diacuhkan oleh Bram.
"Huh, sombong. Mentang-mentang tampan." Gerutu sekretaris itu sambil duduk kembali di kursinya.
"Tuan Bram." Sambut Thomas pura-pura ramah dengan gaya menjilatnya.
"Hmm."
"Silahkan duduk tuan!" Thomas mempersilahkan duduk Bram di sofa dan Bram segera duduk di salah satu sofa single karena tak Thomas maupun sekretarisnya memepetinya seperti kemarin.
Menggodanya agar tidak melibatkan Thomas sebagai salah seorang kaki tangan orang yang sedang diselidiki Bram. Namun tampaknya rayuan itu gagal membuat Bram berteriak kasar pada Thomas serta sekretarisnya. Bram mengira kalau Thomas dan sekretarisnya akan kapok. Namun ternyata tidak, membuat Bram semakin menambah kecurigaan kalau Thomas benar-benar terlibat dalam kasus itu.
"Tuan mau minum sesuatu?" Tawar Thomas basa-basi.
"Tidak. Aku ingin langsung mempelajari sisia berkas kemarin." Jawab Bram tegas. Bram tak mau kedua orang itu memberikan minuman yang mungkin sudah diberi sesuatu hingga dia akan membuat kesalahan.
"Oh ya tuan. Apa tuan butuh informasi tentang seseorang?" Pancing Thomas tersenyum penuh arti.
"Seseorang? Siapa?" Tanya Bram mengernyit. Dia tak mau masuk ke dalam jebakan pria brengsek ini.
"Tentang resepsionis berhijab kami." Ucap Thomas tanpa basa-basi. Membuat pipi Bram entah kenapa tiba-tiba memerah dan langsung berdehem.
"Jangan katakan kalau kau akan menyuruhnya untuk merayuku!" Seru Bram tak suka.
"Kalau tuan mau, apapun akan saya lakukan?" Ucap Thomas dengan percaya diri.
"Apa kau tak tahu kalau dia sedang hamil?" Ucap Bram kesal dengan nada emosi.
"Apa kau memang sudah terbiasa dengan melakukan hal amoral seperti itu pada karyawanmu sendiri selama ini?" Hardik Bram membuat Thomas bergidik ngeri namun dia tidak menyerah. Apapun akan dilakukannya untuk menyelamatkan hidupnya meski harus mengorbankan karyawannya sendiri.
"Bukankah tuan mengaguminya?" Goda Thomas tak menyerah.
__ADS_1
"Jaga ucapan anda! Jangan membuat saya semakin murka!" Bentak Bram kesal, dia mengendurkan dasinya yang terasa mencekik entah kenapa dia marah saat pria paruh baya di hadapannya ini menawarkan Karina untuk menggodanya.
Thomas yang dibentak semakin bergidik ngeri. Dia mengurungkan niatnya untuk mengiming-imingi Karina.
"Meskipun hamil dia tidak bersuami." Ucapan Thomas mampu membuat Bram melotot tidak suka namun mengurungkan niatnya untuk membentak lagi dan mencerna ucapan Thomas tentang Karina.
Seketika konsentrasinya untuk mempelajari berkas buyar karena entah kenapa dia menjadi sedikit tenang mendengar Karina tidak bersuami meski sedang hamil.
"Apa maksudmu?" Tanya Bram dengan nada rendah tidak emosi seperti tadi. Langsung saja senyum seringai muncul di bibir pria paruh baya brengsek itu merasa umpannya terpancing.
"Yah begitulah tuan. Tapi bukannya anda tidak tertarik dengannya." Pancing Thomas lagi membuat Bram mendelik memelototinya.
"Ah baiklah tuan. Dia bekerja disini sebelum hamil dan setelah sebulan bekerja dia ternyata hamil dan mengaku kalau baru bercerai dari suaminya saat melamar bekerja disini. Dan dia tak tahu kalau sedang hamil. Dan sekarang sudah tiga bulan lebih dia bekerja disini dengan kandungan yang mungkin dua atau tiga bulan tanpa suami." Jelas Thomas membuat Bram berpikir.
Bram tampak terdiam berpikir meski dia pura-pura menatap berkas yang sudah dibukanya sejak tadi tanpa dibalik karena konsentrasinya buyar setelah mendengar penjelasan tentang Karina dari Thomas.
"Saya ingin melihat laporan keuangan dua tahun terakhir." Bram tiba-tiba berdiri dari duduknya membuat Thomas tersentak kaget ikut berdiri dan serba salah.
"Tap tapi tuan.." Thomas berusaha mengelak meski akhirnya gagal dan Bram tetap sulit untuk dirayu.
.
.
TBC
Setelah ini akan langsung dimana Bram sudah memberikan Karina pada Jonathan ya dan sudah balik ke tanah air karena semua cerita ini adalah sequel dari novel saya berjudul "Dua suami".
Yang belum baca disana, baca dulu agar nyambung. Setelah part ini saat akan menceritakan pertemuan Bram dengan Katrina saudara kembar Karina yang menjadi istri Bram.
Selamat membaca...
__ADS_1