
Bram terduduk lemas di sofa kamar mansionnya. Mama dan ibunya menyuruhnya untuk pulang beristirahat karena sudah sejak siang Bram belum ganti pakaian dan mandi. Kedua wanita yang dihormatinya itu tahu betul Bram merasa terpukul dan shock dengan kejadian yang menimpa istrinya. Dia berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri karena atas hal yang menimpa istrinya karena jarang sekali ada di sisi istrinya.
Seharusnya dia lebih memperhatikan kondisi istrinya yang terlihat sedikit aneh belakangan ini. Bukannya Bram diam dan cuek. Dia juga merasakan perilaku istrinya sedikit berubah terutama porsi makannya yang mendadak seperti orang yang kelaparan dan rakus. Namun Bram tak terlalu mempermasalahkan hal itu karena baginya itu adalah hal baik. Itu artinya istrinya dalam kondisi sehat dan baik-baik saja.
Namun Bram tak menampik kalau dirinya juga sedikit kecewa karena kehilangan calon bayi mereka yang bahkan tidak sempat disadari, baik oleh dirinya maupun istrinya.
Tok tok tok
Ketukan pintu kamarnya membuat lamunan Bram buyar. Dia mengusap wajahnya kasar dengan tangannya.
"Masuk!" Titahnya.
Cklek
Muncul bi Ijah dari balik pintu yang melongok mencari keberadaannya.
"Saya sudah menyiapkan makanan yang tuan muda minta." Ucap bi Ijah.
"Iya bi, makasih. Saya mandi dulu dan bersiap." Jawab Bram beranjak dari duduknya.
"Maafkan saya tuan. Saya lalai menjaga nyonya muda." Sesal bi Ijah tertunduk yang membuat Bram mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Gak papa bi, bukan salah siapapun. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kami untuk mempunyai momongan." Jawab Bram ramah mencoba untuk tersenyum meski dadanya terasa nyeri berdenyut.
"Terima kasih, semoga tuan diberi kesabaran dan ketabahan. Dan segera diberikan momongan lagi." Jawab bi Ijah yang hanya diangguki Bram tanpa mampu menjawab karena lidahnya mendadak terasa kelu.
__ADS_1
***
Setelah Lia cukup histeris dan dapat ditenangkan dengan sedikit suntikan penenang dari dokter. Lia kembali terlelap pulas dengan mata sembab dan sesenggukan yang masih sedikit terdengar di telinga Bram. Bram merasa bersalah melihat istrinya yang terlihat shock. Istrinya pasti sangat merasa bersalah dan sedih mendengar apa yang terjadi pada calon bayi yang juga tidak diketahuinya itu.
Itu dia baru mendengar keguguran, bagaimana kalau dia mendengar penyebabnya keguguran. Mungkin Lia akan lebih shock lagi dan semakin menyalahkan dirinya sendiri.
Hingga semua orang terduduk di sofa tanpa bicara apapun pasca Lia kembali terlelap. Mereka sempat kuwalahan melihat Lia histeris dan hampir mengamuk. Untung saja dokter segera datang sebelum Lia kembali histeris.
"Kau pulanglah dulu nak. Bersihkan tubuhmu! Dan makanlah sedikit! Kau pasti lelah dan belum makan sejak siang tadi." Saran Erika menepuk bahu putranya yang terlihat melamun dengan wajah kusut.
"Aku..."
"Mamamu benar nak, biar ibu yang menjaga Lia. Kembali nanti malam saja, sekalian istirahat dan urus dirimu sendiri. Kalau istrimu bangun nanti, dia pasti akan merasa sangat bersalah melihatmu tidak terurus." Saran ibu Lia menyela ucapan Bram.
"Baik Bu. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya titip istri saya." Ibu Lia mengangguk meski diiringi tatapan dingin dari sang ayah mertua.
Bram meninggalkan rumah sakit bersama dengan bi Ijah karena harus menyiapkan keperluan istrinya. Tak lama kedua orang tua Bram juga pamit karena ada perlu yang lainnya. Begitu juga ayah Lia, dia juga ada urusan lain yang tak bisa ditinggalkan. Kini tinggal Lia dan ibunya. Bram juga menempatkan dua penjaga di luar pintu kamar perawatan istrinya.
***
"Apa Lia sudah bangun Bu?" Tanya Bram saat menjelang pukul delapan malam sudah sampai di kamar perawatan istrinya.
"Belum nak." Jawab ibu Lia menggelengkan kepalanya lemah.
"Ibu pulanglah istirahat. Aku yang akan menjaga istriku." Saran Bram yang diangguki ibu Lia.
__ADS_1
"Baiklah."
"Biar diantar pak Maman Bu!" Tawar Bram yang mirip perintah. Ibu Lia mengangguk mengiyakan tak mau berdebat. Memang sudah terlalu malam untuk pulang sendiri naik taksi. Dia juga tak mungkin meminta suaminya untuk menjemputnya. Karena dia tahu urusan suaminya pasti belum selesai.
Bram duduk di kursi tepi ranjang tempat istrinya berbaring sambil mendekap jemari tangan istrinya yang tidak dipasangi jarum infus. Mengecupnya berulang kali dengan penuh kasih sayang. Tanpa sadar air matanya kembali menetes mengingatkan tentang calon bayi mereka.
"Maaf sayang, maafkan aku tak bisa menjaga anak kita." Bisik Bram terdengar putus asa.
"Mas..." Bram langsung tersentak kaget menyadari istrinya sudah sadar.
"Sayang .." Bram langsung berdiri dari duduknya mengelus rambut istrinya lembut.
"Maaf mas... hiks...hiks..." Bisik Lia merasa bersalah. Bram menggeleng.
"Bukan salah siapapun sayang. Mungkin Tuhan lebih sayang pada bayi kita." Jawab Bram mencoba tegar membuat Lia semakin sesenggukan yang langsung ditarik tubuhnya ke dalam dekapannya.
"Aku gak tahu kalau aku hamil mas. Maaf.. hiks..hiks..." Bisik Lia membuat Bram terus menggelengkan kepalanya.
"Ssst... jangan merasa bersalah sayang. Ikhlaskan dia!" Bisik Bram membuat Lia semakin terisak dalam pelukan suaminya.
.
.
TBC
__ADS_1