Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 68


__ADS_3

Setelah kembali cuti seminggu dari luar kota membantu sepupunya. Bram kembali masuk untuk mengurus perusahaan keluarganya. Itu pun atas permintaan istrinya karena tak mau tidak bisa berbakti pada kedua orang tuanya. Lia merasa dirinya sudah baik-baik saja. Meski awalnya Bram ragu, Lia meyakinkan suaminya.


Hingga akhirnya Bram mengiyakan permintaan istrinya dengan catatan dia tak akan pulang tepat waktu tidak sampai larut malam seperti sebelumnya.


"Aku sudah baik-baik saja mas." Ucap Lia meyakinkan suaminya yang enggan untuk berangkat. Bahkan suaminya masih bergelayut mesra dengan mendekapnya dari belakang.


"Jangan membuatku merasa bersalah lagi sayang!" Ucap Bram merasa bersalah.


"Asal mas jangan lembur, pulang tepat waktu. Aku baik-baik saja." Ucap Lia tersenyum menangkup kedua pipi suaminya.


"Okay."


Cup


Bram mengecup bibir istrinya sekilas.


"Aku berangkat." Lia tersenyum menganggukkan kepalanya mengantar suaminya sampai ke depan pintu.


Kesalah pahaman mereka juga sudah dapat diselesaikan. Kini mereka sudah kembali menjadi pasangan suami istri yang mesra dan romantis. Mereka juga sudah mengikhlaskan kepergian janin yang dikandungnya. Masih banyak kesempatan untuk mereka memiliki anak kembali jika Lia berhati-hati.


***


"Kau sudah mulai bekerja lagi?" Tanya Arya yang melihat putranya tiba-tiba muncul di ruangannya. Pasalnya Bram tak memberi tahu keluarganya akan mulai bekerja lagi.


"Iya pa." Bram menyalami papanya dan duduk sebentar di sofa ruang kerja papanya.


"Mungkin aku tidak bisa lembur. Aku akan pulang tepat waktu. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama istriku di mansion." Ucap Bram lagi.


"Baiklah. Itu lebih baik daripada kau tak datang." Jawab Arya meneruskan pekerjaannya.


"Baiklah aku akan kembali ke ruanganku." Bram pamit menuju ruangannya yang ada di lantai paling atas gedung itu. Papanya memilih untuk memiliki ruangan di lantai lima agar tidak terlalu jauh jika dia ingin segera pulang.


***


Panggilan masuk dalam ponselnya membuat Bram mengernyit karena nomer yang tidak tersimpan di ponselnya menghubunginya. Namun dia acuh dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Lagi-lagi ponselnya sampai berdering lima kali dengan nomer yang sama. Dan Bram tetap mengacuhkannya.


Hingga beberapa saat kemudian, partnernya sebagai pengacara yaitu Terry menghubungi ponselnya. Bram pun segera mengangkatnya.


"Hai bro." Sapa Bram.


"Kau dimana?" Jawab Terry tanpa basa-basi tak menjawab sapaan Bram.


"Kenapa?"


"Bisa kau datang ke kantor firma hukum kita?"


"Ada apa?"


"Ada seorang wanita cantik yang mencarimu."

__ADS_1


"Wanita...cantik?"


"Ya. Dan dia tak mau jika tidak denganmu. Katanya dia sudah janji untuk menemuimu."


"Siapa?"


"Sebentar." Terry menutup loud speaker suaranya hendak bertanya pada wanita yang duduk di sofa ruang tamu kantor firma hukum Bram.


"Siapa namamu nona?" Tanya Terry yang juga didengar Bram di seberang meski samar.


"Lena, Magdalena." Jawab wanita itu.


"Kau dengarkan? Namanya Lena, Magdalena. Katanya dia sahabatmu dulu." Jelas Terry setelah wanita yang dimaksud tadi mengatakan namanya.


"Berikan ponselmu padanya!" Titah Bram membuat Terry berdecak.


"Nona, Bram ingin bicara padamu!" Terry mengulurkan ponselnya pada Lena dan diterimanya dengan baik.


"Bram? Kau kah itu?" Jawab Lena dengan suara cemprengnya.


"Ada apa Lena?" Tanya Bram tanpa basa-basi.


"Sudah kukatakan aku akan menemuimu di kantormu. Aku membutuhkan jasamu untuk membantu suamiku." Jelas Lena to the point.


"Aku sudah tidak aktif di sana. Ada temanku yang juga bisa membantumu kalau kau membutuhkan pengacara."


"Tidak. Aku hanya butuh kau. Kemarin saat kita bertemu kau masih seorang pengacara. Seharusnya kau tak mengatakan seperti itu jika kau sudah tidak aktif sebagai pengacara." Kesal Lena dengan suara keras membuat Terry melongo pada wanita yang berani mengomeli temannya yang pendiam itu. Seolah keduanya sudah saling mengenal dalam waktu lama.


"Dimana kantormu?"


"Di ...bla..bla.."


"Baik aku kesana." Lena menyerahkan ponsel Terry dan beranjak dari duduknya keluar dari kantor firma hukum Bram.


"Wah... wanita yang menarik. Sayang sudah punya suami. Dan dia galak." Guman Terry.


"Jangan macam-macam mau!" Ancam Bram dalam ponselnya yang ternyata masih terhubung.


"Hahaha..." Tawa Terry yang dipergoki Bram tentang Lena.


***


"Ada apa?" Tanya Bram begitu Lena datang di kantor dan sudah duduk di sofa ruang kerjanya.


"Aku membutuhkanmu untuk mengurus perceraian suamiku." Ucap Lena langsung.


"Apa maksudmu?" Tanya Bram masih belum mengerti.


"Suamiku ingin bercerai."

__ADS_1


"Tunggu! Apa maksudmu perceraianmu dengan suamimu Ken?" Tanya Bram mengernyitkan dahi bingung.


"Bukan. Sebenarnya..." Lena menjeda ucapannya ragu.


"Apa kau akan bercerai lagi?"


"Tidak seperti itu. Dengarkan aku dulu!" Ucap Lena memotong kata-kata Bram.


"Kau tahu aku sedang hamil kan." Bram mengernyit menatap perut Lena yang memang sedikit membuncit.


"Jangan bilang kalau itu anak Indra!" Tebak Bram kesal.


"Bukan Bram. Dengarkan aku selesai bicara dulu!" Kesal Lena karena sejak tadi ucapannya disela Bram.


"Aku hamil, tentu saja ini anak Ken. Dan kami baru menikah secara siri. Belum mendaftarkan pernikahan kami secara hukum. Karena Ken... masih beristri." Bram terdiam mencerna ucapan Lena.


"Jangan bilang kau adalah seorang pelakor Lena!" Seru Bram marah melihat wanita yang bernama menjadi sahabat itu tega merebut suami wanita lain.


"Kami saling mencintai. Bukankah sangat jahat jika ku menuduhku seorang pelakor. Sedangkan ini kemauan Ken sendiri untuk menikahiku?" Jelas Lena tak mau disalahkan.


"Tapi statusmu masih Indra saat itu. Jadi kau berselingkuh di belakang Indra karena ku kembali pada mantan kekasihmu itu?" Tebak Bram menatap Lena kecewa.


"Maaf. Tapi aku memang tak pernah mencintai Indra. Aku hanya mencintai Ken sebelum kami dijodohkan. Kau tahu cerita itu. Dan setelah dua tahun pernikahanku dengan Indra aku tak kunjung mempunyai anak. Dan apa aku salah jika aku menginginkan anak dari mantan kekasihku yang sekarang menjadi suami siriku setelah perceraianku dengan Indra." Jelas Lena memelas menatap Bram penuh permohonan.


"Huff... bagaimana kalau temanki tadi yang membantumu mengurus perceraianmu?" Tawar Bram, meski dia juga seorang pengacara tapi untuk menolong orang yang salah dia akan berpikir lebih dulu.


"Tidak. Kau berjanji akan membantuku Bram. Kita sahabat yang akan saling menolong bukan?" Pinta Lena memelas lagi.


"Tapi Lena..."


"Please Bram. Aku hanya bisa mengharapkanmu. Kau tahu istri Ken orang jahat. Dia juga selingkuh. Kau tak mau kan jika anakku tidak diakui secara hukum hanya karena kami tidak bisa menikah secara hukum. Kasihan anakku nanti. Padahal aku sudah lama menantikan kehadirannya." Ucap Lena memelas dengan sedih, dia pun tanpa sadar menangis meski sebenarnya itu hanya akting untuk meluluhkan hati Bram.


Bram sendiri yang juga baru saja kehilangan bayi dalam kandungan istrinya pun terenyuh dan terharu mendengar cerita Lena dan melihat kesedihan sahabatnya itu.


"Ok ok... Aku akan membantumu. Boleh aku minta berkas-berkas suamimu. Aku akan mempelajarinya berkasnya dan segera membuat surat pengajuan perceraian." Bram pun akhirnya luluh. Lena tersenyum puas dan senang.


"Terima kasih Bram. Kau memang sahabatku." Ucap Lena tersenyum manis.


Bram berdecak malas, meski dia juga tahu akal bulus Lena. Namun dia tak tega pada bayi yang ada di dalam kandungan Lena yang jika lahir nanti tak dapat diakui ayah kandungnya karena hanya istri sirinya.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak


Beri dukungannya dan masukkan ke dalam favorit kalian

__ADS_1



Terima kasih


__ADS_2