
Lia menatap suaminya penuh rasa bersalah. Apalagi kalau bukan karena malam pertama mereka yang kembali gagal. Bram yang masih sibuk dengan ponselnya tak menyadari istrinya sudah keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya sambil meremas ujung piyama atasnya.
"Hei... kemarilah!" Titah Bram melambai pada istrinya yang hanya berdiri tak jauh dari ranjang.
Lia tak bergeming dari tempatnya berdiri. Masih diselimuti rasa bersalahnya.
"Kenapa?" Tanya Bram berusaha bersikap biasa seperti tak terjadi apapun.
"Apa kita sebaiknya pulang saja?" Lirih Lia menunduk tak berani menatap suaminya masih dengan kedua tangan yang meremas ujung piyamanya.
Bram tersentak dengan ucapan istrinya dan beranjak dari duduknya di ranjang dan menghampiri istrinya.
"Ada apa sayang? Kau ada urusan di rumah? Apa ada yang membuatmu risau?" Cemas Bram menggenggam kedua tangan istrinya.
__ADS_1
Dia masih belum paham maksud ucapan istrinya yang mengajaknya pulang dan otomatis membatalkan bulan madu mereka. Lia mendongak menatap suaminya bingung dengan pertanyaan suaminya.
"Maaf karena aku bulan madu kita jadi gagal." Ucap Lia lagi, membuat Bram mengernyit. Dia menatap istrinya lekat penuh cinta.
"Hei kenapa kau yang minta maaf. Semua bukan salahmu. Dan apa maksudmu gagal? Oh sayang, bulan madu bukan hanya sekedar bercinta saja. Banyak yang bisa kita lakukan selain bercinta. Apalagi bukan salahmu datang bulanmu datang saat kita bulan madu. Toh, kita sudah sah menjadi suami istri, kita bisa melakukannya lain waktu setelah datang bulanmu selesai. Tatap aku!" Jelas Bram tertawa lucu melihat rasa bersalah istrinya karena malam pertama mereka gagal lagi.
Bram memang kecewa, tentu saja sangat kecewa. Malam pertama yang ditunggunya ternyata harus ditunda karena kedatangan tamu bulanan istrinya yang sialnya kita tidak bisa memprediksikan kapan dia akan datang. Dan entah kenapa malah memilih datang diwaktu yang sangat tidak tepat.
Saat istrinya berganti di kamar mandi, dia berulang-ulang berpikir untuk meredakan hasratnya yang sudah diubun-ubun tadi. Juga emosinya yang membuatnya menunda malam pertama mereka. Akhirnya Bram memilih berselancar di ponselnya mencari-cari informasi tentang datang bulan wanita.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Lia menatap bingung.
"Kita bisa jalan-jalan. Melihat keindahan di negara ini. Mengunjungi tempat wisata. Berburu kuliner, apa saja bisa dilakukan. Anggap sebagai liburan kita." Hibur Bram membuat Lia kembali tersenyum.
__ADS_1
Dia sangat malu saat berpikir mes*m, karena setahunya bulan madu adalah saat pasangan suami istri bercinta setiap hari.
"Sungguh tak apa kah?" Tanya Lia sekali lagi menatap suaminya lekat.
Bram juga menatap istrinya lembut. Mengecup sekilas bibir istrinya yang diusapnya.
"Tak masalah sayang, kita bisa lakukan nanti. Anggap saja ini kencan kita setelah menikah karena kesibukan beberapa waktu lalu karena tak pernah bisa menemuimu saat aku sibuk." Ucap Bram membuat Lia sekali lagi tersenyum senang.
"Terima kasih mas. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu sayang."
Kini keduanya berbaring di ranjang kamar mereka, meski Bram harus berkali-kali menahan hasratnya karena berdekatan dengan istrinya. Sebenarnya Bram sudah tak bisa mengendalikan hasratnya. Namun dia berusaha meredamnya dengan memeluk tubuh istrinya erat dan memejamkan mata.
__ADS_1
TBC