Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 49


__ADS_3

Bram meninggalkan istrinya di rumah mertuanya, karena istrinya memaksa untuk ditinggal karena ada sesuatu yang mau dibicarakan dengan ibunya. Bram terpaksa mengiyakan keinginan istrinya yang ingin me time dengan ibunya. Bram menempatkan dua pengawal terbaik milik Alensio grup untuk mengawal istrinya.


Dia tak mau sesuatu terjadi saat sedang tidak bersamanya meski di rumah mertuanya sekalipun. Bram tak mau kecolongan lagi dan merasa semakin bersalah karena membahayakan keselamatan istrinya tentang pekerjaannya yang memang membahayakan.


"Jaga istriku baik-baik!" Titah Bram setelah dia berpamitan dengan istri dan ibu mertuanya.


"Baik tuan!" Jawab kedua tegas.


Lia sebenarnya menolak dengan adanya pengawal yang mengawasinya. Dia merasa tak leluasa melakukan apapun jika diawasi meski itu demi kebaikannya. Namun demi suaminya yang mencintainya Lia menerima dengan sedikit berat hati dan tak rela.


"Bu, kita jalan-jalan yuk! Aku bosan." Ajak Lia menatap ibunya setelah suaminya pamit kerja dan berangkat ke kantor.


"Bukannya suamimu mengajakmu jalan-jalan selama dia cuti?" Jawab ibu Lia menatap putrinya tersenyum.


"Aku juga ingin jalan-jalan hanya dengan ibu juga." Jawab Lia merayu ibunya dengan bergelayut manja di lengan ibunya.


"Baiklah. Ibu juga rindu dengan putri ibu." Lia tersenyum. Setelah meminta izin pada suaminya dan diiyakan. Lia dan ibunya naik mobil Lia. Namun langsung dicegah oleh kedua pengawal yang berjaga di luar rumah ibunya.


"Maaf nona. Tuan muda meminta kami untuk mengikuti dan mengantar kemanapun nona pergi." Ucap salah satu pengawal itu tegas tanpa bantahan.


Lia menghela nafas tak rela, sia-sialah me time nya bersama ibunya.


"Baiklah." Lia terpaksa mengiyakan keinginan kedua pengawal itu dan masuk ke dalam mobil yang disediakan suaminya untuk mengantarkannya kemanapun yang dia mau.


***


Lia terlihat bahagia berjalan di mall dengan sang ibu. Ibunya sudah seperti teman, sahabat dan kakaknya. Lia lebih nyaman jika jalan-jalan berdua dengan sang ibu jika ada sesuatu yang diinginkannya. Namun saat jalan-jalan dengan suaminya juga menyenangkan tapi terlalu posesif dan overprotektif. Ini tak boleh, itu tak boleh. Ini tak setuju, itu tak setuju.


Lia merasa seperti anak kecil yang harus apa-apa izin dulu dengan suaminya. Kalau dengan sang ibu, dia bisa meminta pendapat dan ibu memberikan masukan apa yang Lia inginkan. Tak lupa kedua pengawal mengikuti mereka kemanapun tujuan Lia berjarak beberapa meter di belakangnya.


"Lia!" Panggil seseorang saat Lia hendak masuk ke dalam sebuah cafe yang ada di mall itu.


Lia menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

__ADS_1


"Mas Adi." Balas Lia menyapa pria yang terlihat akrab dengannya itu. Keduanya pun berjabat tangan.


"Lagi jalan-jalan ya?" Tanya pria yang dipanggil Adi itu.


"Iya mas, jalan-jalan sama ibu." Jawab Lia tersenyum.


"Ini ibu aku mas. Kenalkan Bu, atasan Lia di tempat kerja dulu." Ucap Lia lagi memperkenalkan pada Adi.


"Mas, sedang apa disini?" Tanya Lia basa-basi.


"Mau menemui klien dan makan siang dulu. Bagaimana kalau kita makan siang sama-sama?" Ajak Adi sambil menatap Lia dan ibunya bergantian.


Lia menatap ibunya meminta pendapat. Ibu Lia mengangguk tak enak menolak.


"Boleh mas. Mari!"


Mereka masuk ke cafe dan duduk di sebuah meja kosong yang ada di dalam cafe. Sedang kedua pengawal tadi duduk juga di meja kosong tak jauh dari tempat Lia duduk.


"Maaf Adi, aku lama." Ucap seseorang rekan Adi yang diajak bertemu klien teman sekantor juga.


"Iwan."


"Lia."


"Mira, ibunya Lia."


"Ibu dan anak ya? Saya kira tadi adik dan kakak." Canda Iwan setelah dia berkenalan.


Lia dan ibunya tersenyum simpul. Sebenarnya Lia merasa canggung harus bergabung dengan orang asing apa lagi sekarang dirinya sudah bersuami. Tentu saja dia menghargai statusnya sebagai istri meski sedang tak bersamanya. Iwan memang pria yang humoris dan blak-blakan membuat Lia tak nyaman dengan candaannya barusan.


"Oh ya, kesibukanmu sekarang apa Lia?" Tanya Adi setelah memesan makanan pada pelayan.


"Jadi ibu rumah tangga mas." Jawab Lia singkat.

__ADS_1


"Oh begitu ya." Adi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lalu kenapa resign. Harusnya tetap kerja saja ngisi waktu luang. Jadi ibu rumah tangga kan sayang, sayang ijazah waktu sekolah tinggi-tinggi." Ceplos Iwan tanpa basa-basi membuat Lia terdiam.


Adi menyenggol lengan Iwan yang seenaknya berkomentar tentang Lia yang merasa tak enak hati dan serba salah. Namun agaknya Iwan tak peka dengan kode dari Adi.


"Emangnya suamimu ngelarang kamu untuk kerja ya?" Ucap Iwan lagi membuat Adi lagi-lagi menyikutnya dengan lengannya untuk menghentikan ucapannya.


"Suamimu aneh ya, bukannya senang istrinya bekerja menjadi wanita karier yang sukses tapi malah meminta istrinya jadi ibu rumah tangga." Iwan semakin berani mengemukakan pendapatnya tanpa filter membuat Adi menutup wajahnya.


Ibu Lia semakin geram melihat pemuda tak tahu sopan santun dengan berani mengomentari tentang menantunya yang sangat sempurna. Dia sedikit menyesalkan mengiyakan mantan atasan Lia untuk makan siang bersama.


"Sudah selesai mengomentari rumah tangga saya." Jawab Lia menatap tajam pada Iwan dengan tatapan mata tak suka yang kentara.


"Lho, saya mengatakan yang sebenarnya kan?Hehe .." Jawab Iwan cengengesan tak merasa bersalah.


"Siapa kamu berhak mengomentari kehidupan rumah tangga saya? Bahkan kita baru kenal beberapa menit yang lalu. Sebaiknya berkaca dulu sebelum membicarakan orang lain. Apalagi tak tahu cerita sebenarnya. Apapun pendapat yang kau katakan tentangku dan tentang rumah tanggaku maupun suamiku. Itu bukan urusan kamu. Jadi berhenti berpendapat sesuai pemikiranmu. Ayo Bu, kita pergi!" Ajak Lia menarik lengan ibunya dan meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan pergi tanpa pamit bahkan dengan Adi sekalipun.


"Lia tunggu!" Seru Adi mencoba menghentikan Lia namun dicegah Iwan.


"Sudah deh, gak usah diurusi. Baru mentraktir kita segini saja belagu." Cibir Iwan mencegah Adi mengejar Lia.


"Kamu keterlaluan Iwan. Kamu tahu siapa suami Lia?" Ucap Adi menatap Iwan tajam dsn dingin.


"Huh, siapa memangnya?" Jawab Iwan mengejek.


"Dia..."


"Sepertinya pertemuan kita dibatalkan saja. Dan tak ada kelanjutan pembahasan kerja sama kita. Dan saya akan segera menarik investasi saya beberapa waktu lalu." Suara seorang pria yang ditunggu Adi dan Iwan menginterupsi membuat Adi tersentak kaget begitu juga Iwan.


Iwan adalah keponakan direktur tempat Adi bekerja sehingga dia berani bersikap sombong meski jabatannya rendah. Pamannya memberikan jabatan rendah agar Iwan bisa belajar bisnis mulai dari nol. Namun sikap sombongnya masih tetap sama karena merasa menjadi keponakan sang direktur.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2