
Persiapan bulan madu kedua yang direncanakan Bram hampir sembilan puluh lima persen. Besok tinggal menunggu keberangkatan pesawat mereka tinggal landas untuk menuju pulau B. Istrinya menyarankan untuk tidak bulan madu jauh-jauh, seperti luar negeri misalnya. Lia meminta untuk mencari tempat di dalam negeri saja. Dia sudah terlalu lelah dalam perjalanan jika tempatnya jauh. Akan lebih baik dekat tapi bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama.
Hampir empat jam perjalanan pesawat sudah mendarat di bandara pulau B. Tempat wisata juga bulan madu yang paling terkenal di tanah air. Bram memutuskan untuk meminjam salah satu resort milik pamannya untuk menghabiskan bulan madu mereka di pulau B. Awalnya istrinya menolak karena masih jauh lokasinya karena harus menempuh jarak dengan pesawat.
Namun Bram meyakinkan istrinya kalau dia akan suka karena keindahan juga tempat yang pas untuk bulan madu mereka. Lia pun menyetujuinya meski sedikit berat hati.
"Ayo!" Bram menarik jemari tangan istrinya untuk digandeng menuju mobil pribadi jemputannya dari pegawai penanggung jawab resort milik pamannya. Sebelah tangannya lagi menarik koper mereka. Lia hanya tersenyum malu melihat perhatian kecil suaminya itu.
Tak sampai satu jam, mobil memasuki resort mewah yang berada di pinggir pantai pulau yang menampilkan keindahan alam sekitarnya.
Lia tercengang menyaksikan pemandangan indah tersebut. Dia berdiri di balkon kamar utama di lantai dua yang menghadap langsung ke arah pantai.
"Letakkan disana! Ini untukmu! Kau bisa pergi, aku akan menghubungimu jika butuh sesuatu!" Titah Bram pada pria muda penanggung jawab resort. Tak lupa tips diberikan Bram pada pria itu.
"Baik tuan. Terima kasih. Selamat bersenang-senang." Jawab pria muda itu tersenyum senang mendapatkan tips yang lumayan besar.
Bram mengibaskan tangannya mengusir pria itu secara halus dari kamar utama. Pandangan Bram tak lepas dari istrinya saat bercakap dengan pria muda itu. Bram tersenyum ikut bahagia merasakan kebahagiaan dan antusiasme istrinya menikmati keindahan sekitar resort.
"Kau suka." Bisik Bram mendekap tubuh istrinya dari belakang.
"Iya mas, indah sekali." Jawab Lia tersenyum bahagia.
"Kau lebih indah." Bisik Bram lagi mengecupi leher jenjang istrinya yang membuatnya candu.
"Aku .. mandi dulu mas... ah .." Bisik Lia menahan lenguhannya karena suaminya memberikan jejak kepemilikan membuat Lia tanpa sadar mengeluarkan desahannya.
"Mandi bersama!" Jawaban Bram membuat Lia masih saja malu dengan keintiman yang diciptakan suaminya.
Lia pun mengangguk membuat Bram tersenyum sumringah langsung membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melucuti satu persatu pakaiannya. Begitu juga dia tak lupa melucuti pakaian istrinya.
__ADS_1
"Hanya mandi mas?" Pinta Lia dengan nada manja.
"Entahlah sayang, kurasa aku tak bisa menahannya lagi. Sebelum ada tamu yang merusak bulan madu kita." Bisik Bram sambil menyalakan air hangat bathtub kamar mandi.
Lia terdiam masih belum paham dengan ucapan suaminya. Dia terlihat mencerna ucapan suaminya.
"Apakah akan ada tamu yang datang?" Tanya Lia dengan polosnya.
Bram malah tergelak mendengar pertanyaan polos istrinya.
"Yeah... tamu istriku. Semoga dia tidak lagi dan merusak bulan madu kita." Jawab Bram dengan senyuman miring menggoda istrinya.
"Mas!" Seru Lia manja setelah paham maksud ucapan suaminya.
"Aww ....sakit sayang... hahaha..." Bram tergelak sambil mengelus pinggangnya yang dicubit istrinya.
"Aku kan tidak bisa memprediksinya kan?" Ucap Lia malu-malu.
"Kita akan menghabiskan banyak waktu di dalam kamar dan segala sudut resort harus kita coba." Bisik Bram mes*m. Lia hanya tersipu malu.
"Tapi...?" Suara Lia yang menggantung membuat Bram menghentikan cumbuannya.
"Tapi apa?" Tanya Bram sedikit horor dengan ucapan istrinya.
"Aku belum mendapatkan tamu bulananku sebulan ini." Jawab Lia tampak berpikir meski matanya menatap suaminya lekat.
"Jangan bilang kalau minggu ini adalah waktunya?" Selidik Bram menatap istrinya intens.
"Semoga saja mas." Lia tersenyum puas bisa balik menggoda suaminya.
__ADS_1
"Jangan sampai! Kalau kau mengira seperti itu ayo kita mulai sekarang sebelum dia datang. Aku tak rela jika harus hadir saat ini juga." Ucap Bram mulai menyerang istrinya secara brutal, liar dan sedikit kasar. Namun Lia tampak menyukainya. Dan itu artinya keduanya mulai sama-sama nyaman sebagai pasangan.
***
Bram tak berhenti sampai di kamar mandi saja. Setelah menggempur istrinya entah ke berapa kalinya, Bram membopong tubuh istrinya ke ranjang kamar setelah membantu istrinya membersihkan tubuhnya yang sudah mulai lemas dan kehilangan banyak tenaga karena gempurannya.
"Aku lapar mas." Bisik Lia saat melihat suaminya sudah bersiap kembali menyerangnya. Bram yang melihat tubuh lemas istrinya merasa tak tega dan langsung beranjak mengenakan bath rope kamar mandi tanpa menggunakan dalaman apapun. Karena dia memang berencana untuk tidak melepaskan istrinya dari dalam kamar.
"Aku akan ambilkan makanan di dapur. Tunggulah!" Bisik Bram bangkit dari ranjang sambil mengecup kening istrinya.
Lia memejamkan matanya sejenak saat melihat suaminya meninggalkan kamar. Dia sungguh sudah sangat lelah dan lapar. Suaminya benar-benar menepati janjinya untuk tidak melepasnya sedetikpun. Meski dia tak banyak bergerak dan bekerja. Namun tubuhnya bergerak sesuai apa yang dilakukan suaminya. Tentu saja hal itu membuatnya sangat lelah. Suaminya sangat perkasa, itulah yang dirasakan Lia.
Cklek
Tak sampai lima belas menit, Bram sampai ke kamarnya. Namun mendapati istrinya sudah terlelap dengan begitu pulas dan raut wajah kelelahan tercetak jelas di wajahnya. Bram tersenyum dan duduk di tepi ranjang setelah meletakkan nampannya di meja nakas samping ranjang.
"Maafkan aku sayang, tapi kau sudah bagaikan candu untukku. Aku mencintaimu." Bisiknya sambil mengecup kening istrinya lama.
Bram memilih untuk makan terlebih dahulu sambil menunggu istrinya sedikit beristirahat. Setelah dirasa cukup Bram tak akan melepaskan kembali istrinya. Bram tersenyum mengingat percintaan panas mereka tadi di kamar mandi. Suara racauan dan ******* istrinya terdengar sangat seksi di telinganya. Dan hanya karena membayangkan hal itu saja membuat sesuatu di bawah tubuhnya berdiri tegak.
Bram mendekati tubuh istrinya memainkan wajahnya gemas dan menusuk-nusukkan sesuatu yang berdiri di bawah sana dengan intens. Meski begitu Bram merasa belum cukup puas. Namun dia tak tega untuk membangunkan istrinya yang masih terlelap.
"Maafkan aku mengusikmu sayang, milikku sudah sungguh tidak tahan." Bisik Bram dengan wajah yang sudah berkabut gairah.
Bram mulai melancarkan aksinya meski istrinya dalam keadaan terlelap. Dia tak peduli dianggap memperko** istrinya. Tapi dia sungguh sudah tidak tahan. Perlahan tapi pasti Bram membenamkan miliknya ke dalam tubuh istrinya yang membuat istrinya tanpa sadar mendesah dalam tidur lelapnya.
Percintaan panas itu mungkin akan terus berlanjut.
.
__ADS_1
.
TBC