
Lia membuka matanya perlahan menatap kosong di depannya. Setelah semalaman suaminya membuat tubuhnya remuk redam. Sesuai ucapannya, suaminya benar-benar membuatnya tidak istirahat sama sekali. Saat menatap sekeliling dia tak menemukan suaminya ada di sisi ranjang. Lia berbalik dan melihat memo kecil di nakas samping ranjangnya.
'Maaf aku harus pergi sayang, ada sesuatu yang harus kuurus. Terima kasih untuk semalam. Aku semakin mencintaimu, baby.'
Lia tersenyum kecil membaca memo suaminya.
Kini dia sudah menjadi seorang wanita setelah milik berharganya diberikan pada suaminya semalam. Meski awalnya sangat sakit namun semakin lama semakin terasa nikmat. Wajah Lia tiba-tiba memerah dan dadanya berdegup kencang. Lia menutup wajahnya dengan kedua tangannya malu.
***
Brak
Suara benturan keras menghantam pagar jalan. Untung saja Bram mengendarainya dengan pelan. Hingga dia tampak baik-baik saja. Lagi-lagi rem mobilnya blong.
Padahal mobil itu baru dibelinya satu minggu yang lalu pasca dirinya keluar dari rumah sakit. Tak mungkin kan rem nya tidak berfungsi. Hingga Bram curiga ada seseorang yang menyalahi rem mobilnya lagi.
"Ya, Bram." Jawab suara di seberang ponselnya.
"Sepertinya ada yang sekali lagi menyalahi rem mobilku." Jelas Bram yang kini sudah menaiki taksi yang kebetulan lewat.
Dia segera menuju firma hukumnya sebelum terlambat. Setelah menghantam pagar pembatas jalan Bram keluar dengan hati-hati dari mobilnya dan langsung mencegat taksi yang lewat. Dia meninggalkan mobilnya begitu saja. Dia akan meminta orang perusahaannya untuk mengurusnya nanti. Sekarang dia harus mengurus kasusnya yang akan disidangkan besok.
"Apa? Sekarang kau dimana? Kau tak apa?" Tanya Terry cemas menerima penjelasan dari Bram dari ponselnya.
"Aku tak apa. Aku hanya minta kau mengawasinya saja."
"Dia belum datang ke kantor." Bram menghela nafas berat.
__ADS_1
"Tadi katanya dia menghubungi asistenmu untuk mengajukan pengunduran diri. Dan surat pengunduran diri sedang ada padaku." Jelas Terry membuat Bram lagi menghembuskan nafas kasar.
'****.' Umpat Bram dalam hati.
"Aku akan segera sampai." Jawab Bram menutup panggilannya setelah Terry mengiyakan jawabannya.
***
'Sayang, hari ini aku tak bisa pulang untuk dua hari ke depan. Ada sesuatu yang harus aku urus.' Pesan Bram untuk istrinya yang sempat dia kirimkan saat dia sampai di firma hukumnya.
"Kau tak apa-apa? Apa kau terluka?" Tanya Terry saat melihat Bram masuk ke dalam ruangannya dengan sedikit pincang.
"Tak apa hanya tergores sedikit." Jawab Bram sedikit meringis saat melangkah duduk di sofa ruangannya.
Dia merasakan kesakitan untuk melangkah lebih jauh menuju kursi kebesarannya.
"Jangan!" Cegah Bram namun Terry tampaknya tak menggubrisnya.
Bram selalu seperti itu jika terluka. Tak apa-apa, tak apa-apa. Selalu begitu jawabannya. Dia tahu itu sangat sakit. Terlihat dari darah dari pergelangan kakinya yang banyak menetes.
"Jangan beritahu keluargaku, aku tak mau mereka cemas! Terutama istriku." Pinta Bram memelas menatap Terry.
"Aku yang akan menjelaskan nanti, tapi tidak sekarang. Setidaknya biarkan kasus kita selesai besok." Pinta Bram lagi yang hanya ditanggapi helaan nafas oleh Terry yang segera menghubungi dokter pribadinya.
***
Prank
__ADS_1
Gelas yang dipegang Lia jatuh meleset dari rak gelas. Lia terkejut merasa perasaannya tak enak. Dalam benaknya berpikir berharap tak ada sesuatu yang buruk terjadi dengan orang-orang yang disayanginya.
Ting
Bersamaan dengan itu, pesan masuk di ponselnya langsung segera meraihnya.
Senyum Lia terlihat terpaksa setelah membaca pesan suaminya. Dan itu artinya suaminya tidak akan pulang malam ini atau mungkin besok sore atau malam baru pulang. Lia menghela nafas panjang mencoba menghubungi suaminya berharap tak terjadi hal yang buruk pada suaminya. Namun ponsel suaminya mati, hanya operator yang mengatakan kalau sedang tidak aktif.
Lia mengernyit namun dia segera mengenyahkan pikiran buruknya kalau mungkin terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Tak henti-hentinya Lia memanjatkan doa pada Tuhan untuk keselamatan suaminya.
Lia pun kembali duduk meneruskan makannya meski sudah tidak berselera. Dia tak mau sakit dan membuat cemas suaminya hingga menghambat pekerjaan suaminya.
TBC
.
.
Hai, aku mulai up lagi
Masihkah ada yang membacanya?
Terima kasih yang masih setia membacanya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih
__ADS_1