
Sesampainya di tempat parkir apartemen, Bram membukakan pintu mobil untuk istrinya. Bram langsung membopong tubuh istrinya menuju lift khusus menuju apartemennya.
"Kyaa..." Teriak Lia sontak mengalungkan kedua lengannya ke leher suaminya.
"Aku sudah sehat mas, aku bisa jalan sendiri." Ucap Lia memukul pelan bahu suaminya agar menurunkannya.
Untung saja di basemen parkir apartemen itu sepi sehingga tidak ada yang melihatnya. Lia pasti akan sangat malu jika ada orang yang melihat kelakuan romantis suaminya.
"Kau masih belum sembuh benar sayang, aku akan menggendongmu sampai ke apartemen." Putus Bram tegas membuat Lia terdiam sambil menyerukkan wajahnya ke lekukan leher suaminya menyembunyikan dari orang-orang yang melihatnya.
***
"Kau istirahatlah, aku akan menyiapkan makanan untukmu!" Titah Bram menurunkan istrinya di ranjang kamar mereka.
"Mas... aku.. mau mandi. Badanku rasanya lengket setelah berhari-hari tidak mandi." Bisik Lia malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
Bram melirik jam dinding yang menunjukkan hampir pukul enam sore. Yang dikatakan istrinya benar, pasti selama masa penculikan istrinya tidak diperlakukan baik. Hal itu semakin membuat Bram kembali merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan istrinya itu.
"Maaf..." Jawab Bram sendu menatap wajah istrinya merasa bersalah.
"Mas, bukan seperti itu. Aku tak mau terus-terusan melihatmu merasa bersalah. Aku tak menyalahkanmu. Namanya musibah bisa terjadi pada siapapun. Termasuk aku." Jelas Lia menatap suaminya penuh cinta sambil membelai pipi suaminya.
"Tetap saja itu karena pekerjaanku. Kalau saja bukan karena memusuhiku, mereka tak akan menculik mu hingga menjadikanmu sandera." Jawab Bram sendu.
"Mas, aku baik-baik saja. Sungguh. Mas juga sudah berusaha untuk menolongku. Aku sudah sangat beruntung dengan perhatian yang kau lakukan." Jawab Lia membuat Bram tersentuh dengan kata-kata istrinya.
Dan sekali lagi dia jatuh cinta pada istrinya itu. Bram mencium sekilas bibir itu.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi. Sekalian aku akan memandikanmu." Goda Bram tersenyum penuh arti menatap istrinya.
"Ah, a...aku...akan mandi ... sendiri..." Jawab lia membuat Bram tergelak sambil membuka dasinya yang terasa mencekik.
__ADS_1
Jasnya entah sudah berada dimana.
***
"Baunya harum. Pasti enak." Ucapan Lia membuat Bram sontak berbalik menatap istrinya yang muncul di dapur apartemennya.
Bram yang sejak tadi sibuk memasak tersentak.
"Sayang, kau harus banyak istirahat. Tunggulah dikamar, aku akan mengantar makanannya nanti!" Seru Bram cemas dan panik mendekati istrinya untuk menyuruhnya masuk ke dalam kamar.
"Mas, aku baik-baik saja. Sungguh. Lihatlah!" Lia merentangkan kedua tangannya menunjukkan kalau dia sudah baik-baik saja.
Meski masih sedikit rasa trauma yang dirasakannya. Namun dia tak mengatakan pada suaminya karena tak mau melihat suaminya merasa bersalah.
"Aku akan semakin merasa bersalah jika kau tidak baik-baik saja sayang." Bisik Bram sambil mendekap tubuh istrinya yang tadi merentangkan kedua tangannya.
"Mas, gosong!" Seru Lia melihat asap mengepul dari kompor.
Lia tergelak melihat kekacauan yang dilakukan suaminya.
***
"Mas, mau pakai apa pagi ini?" Tanya Lia pagi itu setelah menyiapkan sarapan dia melihat suaminya sudah membuka matanya perlahan yang hendak bangun dari tidurnya.
"Pakai apa?" Bukannya menjawab Bram malah balik bertanya menatap istrinya sudah terlihat cantik di pagi hari.
"Bukannya mas harus ke kantor?" Tanya Lia duduk di tepi ranjang menatap suaminya yang terlihat malas-malasan.
"Oh, aku cuti beberapa hari agar bisa bersama istriku." Jawab Bram membuat Lia tersipu malu mendengar ucapan suaminya.
"Tapi pekerjaan mas pasti banyak dan sibuk?" Jawab Lia mengendalikan perasaannya.
__ADS_1
"Cutiku bersama istriku itu lebih penting. Aku ingin menikmati waktu bersamaku dengan istriku." Bram meraih istrinya hingga terjerembab di atasnya.
"Mas...!" Seru Lia terkejut karena suaminya menariknya tanpa aba-aba.
"Apa aku boleh memintanya? Aku sangat merindukan istriku." Pinta Bram memelas menatap istrinya dengan tatapan penuh hasrat dan suara yang terdengar serak.
Lia terdiam merasakan sesuatu yang tegang di bawah sana. Dia hanya terdiam tak mampu berkata-kata. Lia pun mengangguk melihat tatapan suaminya yang begitu berharap.
Pergulatan panas pagi itu akhirnya terjadi, entah sudah berapa lama hal itu terjadi. Kedua pasangan suami istri itu begitu menikmati malam kedua mereka setelah melewati masa panjang cobaan bahkan musibah yang menimpa istri Bram.
***
"Ya?" Jawab Bram dalam panggilan ponselnya dari Terry sahabatnya.
"Aku masih menikmati masa cutiku?" Jawab Bram lagi memilih pindah ke balkon apartemennya untuk mendengarkan panggilan dari sahabatnya.
"Entahlah kapan aku bisa kembali bekerja. Aku masih harus menemani istriku. Kau tahu sendiri bagaimana klien kita akibat penculikan." Jelas Bram sambil melirik ke dalam kamar mencegah agar istrinya tidak mendengarkan pembicaraannya.
Dia tak mau istrinya trauma dengan kejadian buruk beberapa hari yang lalu. Namun Lia sudah berdiri di samping pintu balkon kamarnya. Di juga sempat mendengar percakapan suaminya dalam ponsel. Dia memang trauma, namun dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan suaminya. Dia tak mengira istrinya bisa melihat gelagat itu. Lia menghela nafas panjang, suaminya sungguh mencintainya.
Dia hanya tak mau melihat dirinya ketakutan. Sudah lima hari ini suaminya tak pergi ke kantor sama sekali, baik kantor firma hukumnya ataupun kantor perusahaan papa mertuanya. Lia merasa bersalah. Suaminya sudah meluangkan waktunya untuk menjaganya dua puluh empat jam disisinya dengan cuti dari kantor meski sesekali mengurus pekerjaannya lewat laptop.
Namun sebagai gantinya, suaminya meminta jatahnya setiap hari setiap saat dan menemaninya kemanapun dirinya mau. Lia merasa sangat diperhatikan dan dicintai oleh suaminya itu. Suaminya sungguh sangat bertanggung jawab padanya.
Terima kasih mas, atas cintamu. Batin Lia menghangat merasakan rasa cinta yang berlimpah dari suaminya.
Lia diam-diam meninggalkan tempat persembunyiannya seolah tak mendengar apapun.
.
.
__ADS_1
TBC