
Bram keluar dari lobi hotel tempatnya menginap semalam. Pagi itu dia sudah bersiap untuk berangkat menuju cabang perusahaan milik pamannya mengurus masalah yang sedang terjadi di perusahaan tersebut.
Mobil yang disewanya selama berada di negara tersebut sudah tiba di lobi hotel. Bram langsung melajukan mobilnya menuju pergi ke tempat yang ditujunya.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sapa resepsionis perusahaan itu ramah pada Bram yang baru datang masuk ke lobi gedung.
"Saya ada janji dengan tuan Thomas." Jawab Bram.
"Baik tuan sebentar saya tanyakan, dengan tuan siapa?" Tanya resepsionis itu ramah.
"Bramantyo." Jawab Bram singkat.
"Baik tuan." Resepsionis itu meraih gagang telepon kantor menghubungi bagian sekretaris Thomas, direktur utama tempatnya bekerja.
Bram menatap sekeliling gedung kantor dan matanya berhenti pada seorang wanita yang terlihat cantik dan seksi dengan tubuh sedikit berisi namun hanya pada bagian perut saja. Dengan hijab syar'i yang menutupi rambutnya membuat kesan semakin elegan dan cantik. Meski begitu masih terlihat seksi bentuk tubuhnya. Dan Bram merasa familiar dengan wajah wanita yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Wanita yang berseragam seperti resepsionis yang ada di hadapannya itu mendekatinya perlahan dan entah kenapa hal itu membuat jantung Bram yang sudah lama mati berdegup kencang. Bram berbalik memalingkan wajahnya menatap kembali ke arah resepsionis yang menyambutnya tadi.
Namun wajah Bram berubah tegang saat wanita yang terasa familiar tadi berdiri di sisi resepsionis yang ada dihadapannya ini. Yang tampaknya sudah selesai menggunakan telepon kantor itu.
"Anda sudah ditunggu oleh tuan Thomas di ruangannya tuan." Ucap resepsionis tadi.
"Terima kasih."
"Di lantai delapan tuan." Ucap resepsionis itu ramah dengan senyum sejuta wattnya membuat Bram salah tingkah yang ikut diperhatikan oleh wanita resepsionis yang menyambutnya tadi.
"Hmm." Bram hanya berdehem melangkah menuju lift yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Dingin sekali." Umpat wanita resepsionis tadi.
"Ada apa?" Tanya wanita berhijab sesama resepsionis itu.
"Pria tadi, kau tidak lihat. Sejak datang tak ada senyum di wajahnya. Tidak sulit untuk tersenyum kan?" Umpat wanita itu kesal membuat wanita berhijab itu tersenyum hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak kaget dengan satunya itu selalu mengkritik siapapun tamu di perusahaan tempatnya bekerja itu.
"Untung tampan." Ucap wanita itu lagi.
"Ya ampun. Kau itu mengumpatnya juga mengaguminya." Ucap wanita berhijab itu.
***
Bram langsung dipersilahkan masuk oleh sekretaris Thomas. Dia pun memasuki ruang kerjanya yang terlihat mewah itu. Padahal hanya perusahaan cabang namun penataan di dalam ruangan hampir mirip dengan perusahaan pusat.
Membuat Bram berdecak dan akhirnya tahu kenapa masalah itu diserahkan padanya. Pamannya ingin keadilan seadil-adilnya. Apalagi jika berhubungan dengan keluarga Bram tak memandang hal itu selama itu kejahatan.
"Anda mau minum apa tuan?" Tanya Thomas dengan tatapan penuh keyakinan kalau dirinya akan baik-baik saja padahal Bram sudah sangat ingin membuat perhitungan dengan pria paruh baya di hadapannya ini.
"Apa saja." Jawab Bram singkat masih menatap tajam Thomas yang langsung bergidik ngeri melihat tatapan Bram.
"Baik tuan sebentar." Thomas langsung keluar menemui sekretarisnya untuk memintanya membuatkan minuman segar untuk Bram yang harus disajikan langsung oleh sekretarisnya. Siapa tahu dapat membujuk Bram untuk membantunya dengan rayuan dari sekretarisnya yang sering dilakukannya selama menjalankan bisnisnya agar lancar.
Setahunya Bram seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya karena kecelakaan dengan membawa turut serta anak mereka yang pertama yang masih dalam kandungan. Thomas yakin Bram akan tergiur dengan iming-imingnya sehingga Bram akan membantunya terjerat dari masalah yang menimpa perusahaan cabang milik iparnya.
***
Bram melangkah hati-hati keluar dari lift sambil menatap meja resepsionis. Entah kenapa dia ingin melihat wanita berhijab yang terlihat familiar tadi. Dia merasa pernah bertemu dengan wanita itu tapi dia lupa dimana. Bram terus memikirkannya saat berada di ruangan Thomas tadi. Namun pikirannya buntu tak menemukan siapa gerangan wanita berhijab tadi.
__ADS_1
Senyum Bram merekah melihat bayangan wanita berhijab resepsionis tadi masih ada di tempatnya. Namun sekarang sendiri tidak bersama wanita yang setahunya hanya pura-pura menyambutnya ramah tadi.
Bram berdiri agak lama di dekat pilar dekat lift menatap wanita berhijab itu yang menyambut tamu dengan ramah penuh ketulusan. Bram seorang pengacara dia tahu betul watak orang satu dengan yang lainnya. Dia juga bisa melihat gelagat orang aneh, asing, berperilaku buruk atau berperilaku baik dengan hanya melihat tindakan orang itu.
Begitu juga dengan dua wanita resepsionis yang dipercayanya berwatak tak sama. Wajah wanita resepsionis tidak berhijab tadi adalah bule asli Kanada dilihat dari wajah bulenya. Sedang wanita berhijab tadi dia yakin betul dia dari tanah air, negara tempat asalnya juga.
"Siapa wanita itu?" Guman Bram masih mengamati gerak-gerik resepsionis tadi.
"Aku yakin pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Tapi dimana ya?" Guman Bram.
"Tuan Bram?" Panggil Thomas terkejut melihat Bram masih ada di dalam gedung kantornya. Padahal sudah satu jam yang lalu. Dan tanpa sadar Bram sudah mengamati resepsionis tadi begitu lama. Dan ternyata sudah ada banyak orang yang menatapnya aneh.
"Ehm.." Bram berdehem menetralkan rasa malunya.
"Apa masih ada yang lainnya tuan?" Tanya Thomas yang diikuti sekretarisnya untuk bertemu klien.
"Tidak." Jawab Bram singkat pergi meninggalkan gedung tanpa bicara apapun.
Thomas mengikuti arah pandang Bram yang mungkin sedang memperhatikan seseorang yang ditebaknya adalah wanita berhijab resepsionis itu. Dan bibirnya pun membentuk senyuman seringai menakutkan menatap wanita berhijab resepsionisnya itu.
"Oh, ternyata kau tertarik pada wanita sopan seperti itu ya?" Guman Thomas dengan senyum seringainya karena dia tadi gagal membuat Bram tergoda oleh sekretarisnya tadi. Dia malah mendapat umpatan dan olokan tajam dari Bram membuat Thomas semakin dendam pada Bram.
.
.
TBC
__ADS_1