
"Tuan, tunggu! Apa maksud anda?" Tanya Adi mengejar kliennya yang sebenarnya ditunggunya setelah makan siang.
Pria yang dikejar itu berhenti dan membalikkan tubuhnya menatap Adi lekat. Hanya Adi yang mengejarnya sedangkan Iwan terlihat enggan membujuk, karena baginya pantang untuk memohon.
Kalau sudah tidak mau yang sudah, tarik-tarik saja. Itulah yang kira-kira dipikirkan Iwan saat itu. Dia lebih memilih makan makanan ketimbang repot-repot membujuk pria klien pamannya yang terlihat sombong.
"Tuan, saya mohon jangan seperti ini. Apa salah kami hingga anda secara tiba-tiba datang membatalkan kerja sama kita yang telah disepakati beberapa waktu lalu." Pinta Adi memelas.
Jika sampai kliennya ini membatalkan dan berniat menarik investasinya bisa dipecat dia dari pekerjaannya. Dan Adi tak mau pekerjaannya yang sudah dibangunnya beberapa tahun lalu hancur seketika. Pria itu melirik ke arah Iwan yang terlihat acuh dan cuek.
"Sepertinya teman anda tak keberatan dengan pembatalan kerja sama ini." Pria itu meninggalkan Adi namun Adi terus mengejarnya.
Adi terlihat berdecak kesal menatap Iwan yang tak mengikuti dirinya memohon pada kliennya.
"Tuan, saya mohon. Ini demi karier saya. Setidaknya beri tahu saya kesalahan kami agar kami memperbaikinya." Pinta Adi memegang jemari tangan pria itu dengan berani membuat tatapan asisten pria itu menatap tajam Adi namun dicegah oleh pria itu.
"Mas Bram?" Panggil seorang wanita saat tak sengaja melintas di depan Adi yang sedang memohon-mohon pada suaminya.
"Sayang." Sapa Bram dengan ramah dan lemah lembut.
Tampak tatapan cinta dari matanya. Berbeda saat dia menatap tajam Adi dan Iwan tadi.
"Dimana ibu?" Tanya Bram melepas paksa genggaman tangan Adi.
"Ibu sedang memilih pakaian di dalam." Lia menunjuk butik di depannya.
"Mas Adi?" Tanya Lia heran melihat mantan atasannya ikut di belakang suaminya.
"Lia? Dia...?" Adi kembali menatap wajah Bram yang tidak asing.
Ternyata Bram adalah suami Lia, pantas saja dia tak mengenalnya. Saat pernikahan, Adi tak bisa datang karena sedang keluar kota perjalanan bisnis dari kantor. Jadi dia tak melihat langsung suami Lia, hanya lewat foto di undangan. Setahunya suami Lia adalah seorang pengacara bukan seorang pengusaha.
__ADS_1
Tak banyak yang tahu, Bram juga merangkap sebagai seorang CEO. Setahu mereka diluar sana Bram adalah seorang pengacara terkenal yang membantu seseorang yang tidak mempunyai biaya untuk menyewa pengacara.
"Kita pulang sayang." Ajak Bram.
"Tuan kumohon!" Pinta Adi memelas.
Bram menghentikan langkahnya menatap lengannya yang dipegang Adi dengan tatapan tajam.
"Ada apa mas?" Tanya Lia menatap suaminya sambil melirik Adi yang terlihat kasihan.
"Tidak ada apa-apa sayang. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada seseorang yang telah menghina istriku." Jawab Bram tanpa melirik Adi.
Asistennya langsung maju begitu mendapat kode dari Bram untuk mengatasi Adi. Bram menggandeng tangan istrinya menghampiri ibu mertuanya yang sedang fokus memilih pakaian.
***
"Apa yang kalian lakukan? Aku menyuruh kalian melakukan apapun agar pertemuan membahas kerja sama ini berjalan lancar. Tapi kenapa pihak investor mengatakan ingin menarik investasi mereka di perusahaan!" Seru seorang pria paruh baya dengan tubuh tambun terlihat marah sambil meraup wajahnya dengan tangannya gusar.
Adi dan Iwan hanya menundukkan kepalanya terdiam tak berani menjawab apapun. Kesalahan yang dilakukan Iwan yang telah menghina istri Bram membuat perusahaan hampir gulung tikar. Perusahaan Bram adalah penanam modal terbesar dari sekian banyak perusahaan. Itupun dulu dilakukan setelah tahu istrinya pernah bekerja di perusahaan tersebut.
Tapi sekarang karena ulah keponakannya perusahaannya harus siap-siap bankrut karena bisa ditebaknya para penanam modal yang lain akan ikut-ikutan menarik investasi mereka. Karena semuanya mau menanam modal pada perusahaannya karena ada perusahaan Bram yang notabene perusahaan besar yang mau menanamkan modalnya.
"Kenapa paman begitu cemas kehilangan satu investor?" Jawab Iwan tanpa rasa bersalah.
"Satu investor kamu bilang? Kamu sitahu siapa investor itu. Ha...!" Teriak paman Iwan menuding-nuding wajah Iwan kesal.
Dia sedikit banyak tahu apa yang dilakukan Iwan saat mereka hendak melakukan pertemuan. Iwan menghina istri CEO yang ternyata adalah mantan karyawannya. Dia terpaksa resign atas permintaan suaminya karena tak mau capek dan sebagai gantinya akan menanamkan sedikit modal untuk perusahaan tempat istrinya bekerja.
"Memang siapa dia? Dia bahkan seenaknya menarik investasinya tanpa basa-basi. Apa itu terlihat profesional untuk pengusaha dengan perusahaan besar." Komentar Iwan lagi semakin membuat direktur itu jengkel.
"Dasar anak tak tahu diri. Aku menyesal telah memperkerjakanmu. Kalau tahu akan begini akhirnya, aku tak akan mau memberimu pekerjaan. Hari ini kau kupecat! Jangan harap kau bisa menikmati kartu-kartumu dan fasilitasmu karena semua itu dibiayai oleh perusahaanku. Dan sekarang karena sudah bankrut, tak akan ada yang kau dapatkan!" Ucap direktur kesal.
__ADS_1
"Apa maksud paman, paman tak bisa melakukan hal itu padaku. Paman bercanda kan?" Pinta Iwan memelas, dia tak bisa hidup tanpa kartu-kartu itu.
Dia akan menjadi gembel jika tak mendapatkan fasilitas yang didapatkannya selama ini. Adi hanya terdiam tampak menghela nafas kesal. Dia juga menyayangkan sikap Iwan tadi padahal dia sudah memperingatkan. Namun Iwan terlalu percaya diri dan sombong. Dia sangat mendukung apa yang dilakukan direktur pada keponakannya yang keterlaluan itu.
"Keluar kau!" Usir direktur pada Iwan.
"Paman, kumohon! Maafkan aku jika salah, apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku!" Pinta Iwan memelas.
"Menebus? Memangnya apa yang bisa kau lakukan selain membuat masalah!" Seru direktur kesal.
Dia sendiri bingung harus melakukan apa agar pihak perusahaan mereka membatalkan niatnya untuk menarik investasinya.
"Apapun akan kulakukan?" Pinta Iwan memelas, dia tak mau kehilangan segala fasilitasnya.
"Okay, memohonlah pada mereka untuk tidak menarik investasi mereka. Minta maaf pada Lia jika perlu berlututlah sampai Lia memaafkanmu dan mau membujuk suaminya untuk membatalkan niatnya. Aku tahu Lia tidak sekejam itu namun berharap lah Lia akan memaafkanmu." Seru paman Iwan menatapnya tajam.
"Tapi paman?" Iwan terlihat ragu.
"Kalau tidak mau bersiaplah menjadi gembel!" Sela direktur kesal.
Iwan menundukkan kepalanya merasa bersalah namun juga kesal. Dia bukan tipe orang yang mau meminta maaf apalagi sampai berlutut. Mau ditaruh dimana harga dirinya. Namun dia juga tak mau menjadi gembel. Dia tak tahu kalau rekan bisnis yang akan mereka temui adalah suami dari mantan karyawan perusahaan pamannya yang jabatannya kini digantikan olehnya.
"Aku akan coba paman." Jawab Iwan menyerah.
Dia pun pergi meninggalkan ruangan direktur. Adi yang mengikuti langkah Iwan menghentikan langkahnya saat hendak ikut Iwan keluar karena direktur memanggilnya.
.
.
TBC
__ADS_1