Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 57


__ADS_3

Tubuh Lia terasa remuk pagi itu. Semalaman suaminya benar-benar tak melepaskannya. Setelah semalam suaminya 'memperko**nya' Lia tak bisa untuk tidak membuka matanya. Dan hal itu semakin membuat suaminya gencar menyerangnya membuat Lia mau tak mau menerima hujaman, hentakan dan gen**tan yang membuat Lia mendesah keenakan dan kenikmatan tiada tara. Tubuhnya entah dibolak-balik berapa kali hingga dia merasa lemas dan benar-benar kelelahan.


Hingga akhirnya saat suaminya mencapai pelepasannya, Lia memohon pada suaminya untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Dengan telaten suaminya menyuapinya penuh kasih sayang, membuat Lia terbuai dan merasa sangat dicintai.


Lia membuka matanya menatap ke sebelah ranjang yang sudah kosong tak ada siapapun.


"Selamat pagi, sayang." Sapa Bram sambil membawa nampan berisi makanan meletakkan di meja depan sofa tak jauh dari ranjangnya. Masih menggunakan bath rope kamar mandi yang tentu saja tanpa dalaman. Dia masih berencana untuk mengurung istrinya di dalam kamar seharian ini.


"Kau sudah bangun?" Bram mendekat ke arah ranjang, duduk di tepi ranjang menatap istrinya dengan senyum manisnya.


"Mas, sudah bangun?" Bukannya menjawab, Lia malah balik bertanya dengan mata masih terlihat mengantuk.


"Aku membuatkan sarapan untukmu." Jawab Bram tersenyum mengambil piring berisi makanan.


"Mas, memasak sendiri?" Tanya Lia merasa bersalah menatap Bram penuh harap.


"Tidak. Aku meminta layanan dari penanggung jawab untuk mengirim makanan pagi tadi." Jawab Bram membuat Lia tersenyum lega.


"Kenapa? Kau ingin makan masakanku?" Tanya Bram menggoda.


"Apa mas tidak capek?" Tanya Lia yang melihat suaminya masih segar bugar meski semalaman menyerangnya membabi buta. Namun saat ini terlihat seperti tak terjadi apapun. Padahal dirinya merasa tubuhnya remuk redam.


"Kenapa? Kau capek?"


"Sangat. Mas benar-benar menyerangku tiada ampun." Jawaban Lia membuat Bram terbahak-bahak bahagia. Tak ada raut wajah bersalah ataupun penyesalan.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, kau membuatku semakin bergairah. Lihatlah sekarang! Aku menginginkanmu lagi!" Bram membuka bath rope bagian bawahnya yang terdapat miliknya yang menjulang berdiri tegak membuat Lia tersentak malu-malu langsung menutup wajahnya yang memerah.


"Mas."


"Kenapa sayang, kau sudah melihatnya berulang kali. Tapi inilah kenyataannya. Hahaha.." Bram kembali tergelak melihat istrinya malu-malu, padahal dia sudah melihat berkali-kali.


"Sekarang kau mau mandi dulu atau makan dulu?" Tanya Bram setelah puas tertawa.


"A...aku... mau mandi dulu." Lia beranjak dari ranjang sambil membelitkan selimutnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Auww..." Lia meringis kesakitan merasakan inti tubuhnya sakit. Dia kembali jatuh ke sisi ranjang kalau saja Bram tidak dengan sigap menangkapnya.


"Kau baik-baik saja sayang?" Tanya Bram cemas.


"Kau pikir karena siapa?" Seru Lia dengan wajah memerah.


"Mas?" Seru Lia manja yang mendengar ucapan polosnya yang terdengar mengejeknya.


"Sungguh aku tak tahu sayang, bagian mana yang sakit?" Tanya Bram yang benar-benar belum paham dan mengerti maksud istrinya.


"Disini." Lia menunjuk intinya yang membuat Bram mengikuti arah telunjuk istrinya. Bram tampak mengernyitkan keningnya.


"Bukannya ini bukan yang pertama sayang?" Tanya Bram dengan masih tingkah polosnya. Lia memutar matanya jengah melihat kepolosan suaminya yang mes*m.


"Jangan bercanda ya mas?"

__ADS_1


"Sungguh aku gak ngerti sayang?"


"Bantu aku ke kamar mandi saja!" Titah Lia kesal.


"Oh, okay." Bram langsung membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan kran air hangat pada bath tub kamar mandi setelah meletakkan tubuh istrinya di dalamnya dan membuang selimutnya.


"Keluarlah mas!" Pinta Lia yang membuat Bram mengentikan gerakannya melepas bath rope nya.


"Tidak sayang." Bram melanjutkan pergerakannya.


"Kumohon mas, aku butuh istirahat!" Pinta Lia memelas sambil menangkupkan kedua tangannya di dada memohon.


"Hanya mandi. Aku janji." Bram menjulurkan jari telunjuk dengan jari tengahnya menyatakan janjinya sambil tersenyum sok polos. Lia menatap menganga melihat suaminya yang tak mampu ditolaknya.


"Hanya mandi!" Tegas Lia membuat Bram dengan antusias mengangguk-anggukkan kepalanya sumringah.


***


Mandi yang katanya hanya mandi benar-benar tidak sesuai dengan ucapan suaminya. Bram yang awalnya memang berniat hanya mandi sambil memanjakan tubuh istrinya malah membuatnya tersiksa di bawah sana. Hingga akhirnya dia kembali menyerang istrinya meski ditolak. Namun akhirnya Lia pasrah suaminya kembali menggempurnya. Tapi hanya sekali, tidak untuk berulang kali.


Bram terlihat tak puas, namun dia akhirnya menuruti keinginan istrinya. Istrinya memang butuh istirahat. Bram menghela nafasnya panjang, membopong tubuh istrinya keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan bath rope juga di tubuhnya tanpa dalaman juga. Karena Bram yang melarangnya saat istrinya hendak memakai dalaman.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2