Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 78


__ADS_3

Pesawat mendarat di bandara tempat Bram tiba. Bram segera berlari tanpa memperdulikan barang-barangnya. Sopir yang sengaja dimintanya untuk menjemputnya disuruh untuk mengambil koper-kopernya dan mobilnya langsung tancap gas menuju rumah sakit tempat istrinya berada. Kabar terakhir yang diterimanya istrinya dalam kondisi kritis.


Bram merasa sangat bersalah mendengarnya. Dia hanya berharap tiba tepat waktu di sisi istrinya jika Tuhan lebih menyayangi istrinya. Bram sudah pasrah dengan keadaan itu, apalagi saat mendengar bahwa nyawa calon anaknya tidak tertolong. Seketika dunianya runtuh hancur berkeping-keping Bram mendengar orang-orang yang dicintainya perlahan meninggalkannya.


"Maafkan aku sayang...maaf..." Bisik Bram dalam mobil yang dikendarainya.


Bram menambah kecepatannya menuju rumah sakit yang mungkin dalam tiga puluh detik dia akan sampai.


Bram pun memarkirkan mobilnya serampangan di halaman rumah sakit. Dia tak memperdulikan securiti keamanan rumah sakit menegurnya. Bram langsung berlari menuju ke dalam gedung rumah sakit.


"Dimana ruangan istri saya?" Tanya Bram pada resepsionis rumah sakit dengan nafas memburu.


"Siapa nama istri anda?"


"Lia, Delia... "


"Bram." Panggilan seseorang menghentikan ucapannya. Bram menoleh ke arah suara.


"Ayah." Bram segera menghampiri ayah mertuanya yang menatapnya cemas dengan mata memerah menahan tangis.


"Bagaimana keadaan Lia yah? Dimana Lia yah?" Tanya Bram bertubi-tubi.


"Ayolah cepat!" Jawab ayah Lia melangkah menuju ruang ICU tempat istrinya dirawat.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja kan ayah? Dia tidak apa-apa kan ayah?" Tanya Bram dengan derai air mata mengikuti langkah ayah mertuanya dengan tatapan mata cemas dan panik.


Ayah Lia tetap diam tak menjawab pertanyaan Bram. Dia sendiri bingung harus menjawab apa karena kondisi Lia sungguh sangat memprihatikan. Kecil kemungkinan dia aka. sembuh ataupun hidup. Hanya keajaiban yang mungkin ada.


Bram menatap nanar arah ranjang tempat istrinya dirawat. Banyak selang alat-alat rumah sakit penunjang kehidupan menempel di seluruh tubuh istrinya membuat Bram miris melihatnya. Seketika rasa bersalah menggelayuti pikirannya. Bram sungguh-sungguh sangat menyesal meninggalkan istrinya di hari kurang dari dua minggu kelahirannya.


"Mas Bram..." Desis Lia lirih menatap Bram yang belum mendekat ke arahnya. Menatapnya dengan mata penuh penyesalan dan air mata.


"Maafkan aku mas .. maaf.." Bisik Lia dengan terbata-bata mempertahankan tenaganya yang kian melemah.


"Tidak sayang.. tidak... jangan katakan itu!" Jawab Bram dengan gelengan kepala sambil air mata terus mengalir tanpa henti.


"Maaf... mungkin... aku... tidak bisa... berada di sisimu... lagi..." Ucap Lia menatap Bram dengan senyumannya.


"Jangan katakan itu sayang, kau akan sembuh. Kau akan hidup. Kita akan bersama selamanya." Jawab Bram.


"Kau akan sembuh... kumohon!" Ucap Bram sambil menangis sesenggukan menahan tangisnya dan tak lupa mendekap jemari tangan istrinya.


Ayah dan ibu Lia yang menatap keduanya dari luar jendela kaca ruang ICU menangis melihat interaksi keduanya. Isak tangis sesenggukan terdengar di luar jendela kaca ruang ICU itu. Ayah Lia hanya memegang pundak ibu Lia menyemangati.


"Mas, berbahagialah... meski ... tanpaku..." Jawaban terakhir Lia membuatnya sesak dan alat rumah sakit berdering nyaring memekakkan telinga namun tak membuat Bram bergeming dari tempatnya masih sambil memegang erat jemari tangan istrinya.


"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Kumohon! Jangan!" Bisik Bram tak tahan lagi menumpahkan tangisannya.

__ADS_1


Dokter memasuki ruang perawatan Lia memeriksa keadaan Lia yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Perawat yang mengikuti dokter yang bertanggung jawab atas Lia menggelengkan kepalanya menatap perawat itu dan kemudian menutupi seluruh tubuh Lia dengan selimut hingga menutupi wajahnya menandakan kalau istri Bram meninggal dunia.


Bram terduduk lemas di lantai dengan tangis yang terdengar menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Dokter dan perawat segera meninggalkan ruangan memberikan ruang pada keluarga pasien. Ayah dan ibu Lia langsung masuk ke dalam ruang ICU menangis kencang mendengar putusan dokter yang menyatakan kematian pada putrinya.


Ayah Lia yang sejak tadi berusaha tegar juga luruh ke lantai dingin rumah sakit melihat putrinya menghembuskan nafas terakhirnya bersama dengan calon cucunya hanya berselang beberapa jam.


Arya papa Bram yang masih dirawat di rumah sakit di luar negeri masih belum diizinkan bepergian dengan pesawat menunduk lemah dengan istrinya yang sudah menangis kencang di dalam ruang perawatan rumah sakit tempat suaminya dirawat. Penyesalan terlihat jelas di muka keduanya. Apalagi mereka tidak bisa berada di sisi menantunya dan anaknya di saat terakhir menantunya menghembuskan nafas terakhirnya.


Keduanya sekarang hanya bisa saling memeluk satu sama lain menguatkan diri karena ditinggalkan menantu tersayang mereka juga calon cucu pertamanya.


Kabar bi Ijah yang mengatakan bahwa menantunya menghembuskan nafas terakhirnya sepuluh menit lalu membuat keduanya merasa bersalah. Meski dia tak bisa berada di sisi putranya untuk menguatkan, mereka berharap putranya baik-baik saja pasca ditinggalkan istri tercintanya.


***


Jenazah Lia sudah dimandikan dan disholatkan di dalam peti dari rumah sakit. Para pelayat sudah berkumpul di sekitar mansion milik Bram. Bram terduduk lemas di samping peti mati istrinya menatap kosong dan nanar pada peti itu. Semua pelayat yang datang menatap Bram dengan tatapan kasihan. Terry duduk di sisi sahabatnya itu memberi kekuatan. Jo dan seluruh keluarga besar orang tuanya juga ikut hadir. Mewakili kedua orang Bram yang saat ini tidak bisa hadir.


Tak ketinggalan Lena juga datang ke rumah duka sebagai wujud persahabatan dan pertemuannya pada Bram.


Hingga akhirnya pak kiayi setempat memberi kode pada tuan rumah untuk segera membawa jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Jo dan Terry memberi semangat pada Bram untuk terus melanjutkan hidup meski ditinggalkan oleh istri dan anaknya.


Bram dengan lemas berdiri dengan dibantu Jo dan Terry untuk mengantar istrinya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dengan lemah dia pun mengikuti instruksi kedua orang yang ada di sisinya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2