
Sudah lebih dari tiga hari suaminya tidak pulang. Dan juga tak ada kabar, Lia menghubungi ponsel suaminya namun tidak aktif. Lia sungguh cemas, sudah dua hari kemarin dia menenangkan diri menghibur dirinya mungkin suaminya sedang sibuk hingga lupa mengisi ponselnya.
Hingga hari ketiga Lia memberanikan diri menghubungi ponsel suaminya. Dia tak peduli jika dianggap terlalu posesif hingga mengganggu pekerjaan suaminya. Suaminya sudah hampir tiga hari tak ada kabar. Saat bertanya pada mama mertuanya, Erika menjawabnya dengan enteng.
'Bram memang selalu seperti itu. Kalau sudah bersama pekerjaannya apalagi profesinya sebagai pengacara, dia lupa segalanya. Tapi yakinlah kalau tak ada hal buruk yang dilakukannya. Dia semata-mata karena pekerjaannya. Tapi, dia kan sekarang sudah punya istri, harusnya memberi kabar sebentar kek pada istrinya. Apa dia lupa waktu lagi?' Penjelasan terakhir sang mama mertuanya membuat Lia sedikit lega dan juga sedikit hilang kecemasannya.
Namun kesabarannya hari ini mencapai batas, dia berhak menghubungi suaminya terlebih dahulu. Dia berhak bertanya dimana dan bagaimana serta sedang apa suaminya saat ini. Namun berkali-kali dia menghubungi ponselnya namun tetap tidak aktif ponselnya.
Dan telepon kantor tidak ada yang mengangkatnya seolah tidak ada orang yang berada di tempat. Lia berdiri mondar-mandir kesana-kemari di dalam kamar apartemen suaminya. Dia sungguh belum tenang jika belum mendengar kabar dari suaminya.
__ADS_1
**
Lia berlari dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang unit gawat darurat di rumah sakit yang agak jauh dari apartemen suaminya dan jauh pula dari kantor firma hukum suaminya. Bisa dikatakan kabar yang tadi diterima dari rumah sakit pinggiran kota.
"Apa yang dilakukannya hingga sampai kecelakaan di pinggiran kota ya Tuhan." Guman Lia dalam langkahnya menuju ruang yang dituju.
"Maaf, saya Delia suami Bramantyo yang dihubungi tadi." Ucap Lia menghampiri beberapa polisi yang berjaga di depan ruang unit gawat darurat.
"Lalu? Bagaimana keadaan suami saya pak?" Tanya Lia mencoba mengendalikan emosinya yang campur aduk sedih dan sakit yang dirasakannya.
__ADS_1
"Keluarga pasien." Seru dokter yang baru saja keluar dari ruang unit gawat darurat.
"Saya istrinya dok." Sela Lia langsung berdiri menghampiri dokter meski tubuhnya terasa lemah.
"Syukurlah suami anda segera dibawa ke rumah sakit. Jadi dia masih bisa tertolong. Hanya luka-luka luar di tubuhnya. Sepertinya sistem keamanan pada mobilnya sangat baik. Sehingga tidak ada luka serius pada pasien. Mungkin akan sadar besok. Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan." Jelas dokter membuat Lia semakin terhuyung ke belakang.
Lututnya lemas, tubuhnya lemah. Rasa lega dan cemas berhimpitan di dadanya. Polisi yang membantunya tadi hingga digiring untuk duduk di kursi tunggu.
Lia kembali berdiri mengikuti langkah para perawat yang menggiring ranjang suaminya untuk dibawa ke ruang perawatan. Lia menatap pilu wajah suaminya yang banyak berbalut perban yang melingkar di kepalanya. Tatapan sedih dan cemas muncul di wajahnya.
__ADS_1
TBC