Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 66


__ADS_3

Setelah memikirkan matang-matang tentang kepergian untuk mendatangi di mana lokasi sepupunya berada. Bram pun akhirnya berangkat setelah berpamitan dengan istri dan mamanya. Mamanya berjanji akan selalu ada di samping istrinya selama dia tidak di mansion. Meski terlihat tak rela, Bram tak bisa acuh dengan kasus yang menimpa sepupunya. Bagaimana pun dia adalah pengacara pribadi keluarga besarnya.


Dia akan mati-matian membela keluarga besarnya selama mereka tak bersalah. Bram ingin membawa serta istrinya namun kondisinya yang baru pulih membuat Bram urung karena tak mau membuat istrinya semakin kesulitan hingga mempengaruhi kesehatannya lagi.


Dan dengan terpaksa dia meninggalkan istrinya di mansionnya. Tentunya dengan pengawalan yang ketat seperti sebelumnya. Meski hal buruk jarang terjadi. Itu hanyalah wujud sedikit perhatian Bram sebagai seorang suami yang jarang berada di sisi istrinya.


"Maafkan aku." Bisik Bram dalam dekapan istrinya. Lia hanya terdiam sambil sesenggukan. Sebenarnya dia tak rela ditinggalkan sendirian lagi oleh suaminya. Namun dia tak boleh egois, suaminya adalah seorang pengacara dan pria mapan dengan usahanya yang tidak sedikit. Bahkan malah sangat terkenal.


Kalau saja tubuhnya tidak dalam masa pemulihan, dia pasti akan memilih ikut kemanapun suaminya pergi.


Lia hanya mengangguk dalam dekapan itu. Saat mengemasi koper suaminya, air matanya tak bisa dibendung lagi. Dia tak rela, dia sedih. Dia ingin mencegah tapi dia tak terlalu berani mengungkapkan perasaannya. Hingga pamitan suaminya membuatnya tak mampu membendung air matanya membuat Bram semakin merasa bersalah.


"Aku akan menghubungimu jika sudah sampai tujuan." Ucap Bram sudah kelima kalinya membuat Lia tertawa melihat wajah rasa bersalah suaminya.


***


"Bagaimana kalau kita spa saja di rumah? Mama akan memanggil langganan mama untuk datang kemari." Ajak Erika setelah beberapa jam Bram berangkat.


"Terserah mama saja." Jawab Lia tidak bersemangat. Erika menghela nafas berat. Kalau saja Lia tidak sedang masa pemulihan, Erika pasti akan mengajak menantunya jalan-jalan, shopping dan bersenang-senang. Erika pun memilih untuk menghubungi salon langganannya untuk segera datang ke mansion putranya.


Kini keduanya sedang mendapat pelayanan spa paket komplit VVIP yang sering dilakukan oleh Erika saat di salon. Lia terlihat menikmati dan melupakan sedikit masalahnya. Ternyata dia sedikit lebih baik daripada terlalu memikirkan masalah yang entah kenapa tak kunjung usai itu.


"Lain kali kalau ada masalah jangan terlalu dipikirkan. Tidak baik untuk kesehatan tubuh dan pikiran kita. Boleh kita memikirkannya tapi jangan terlalu berat. Ada kalanya kita harus meletakkan sebentar masalah kita dan bersenang-senang. Toh tak ada gunanya terlalu berlarut-larut dalam masalah. Yang rugi kita juga. Dibawa santai saja." Nasehat Erika sambil menikmati pijatan facial di wajahnya oleh orang-orang ahli dari salon langganannya.


"Iya ma, makasih." Jawab Lia tersenyum meski Erika tak melihatnya karena sedang memejamkan mata dia ikut tersenyum juga.


***


"Sayang...sayang..." Panggil Bram setelah seminggu mengurus masalah sepupunya Jonathan. Dia masuk ke dalam mansionnya mencari-cari keberadaan istrinya yang tak kunjung muncul. Dia melirik sebentar ke arah dapur yang dilewatinya namun tak ada siapapun. Tentu saja karena ini masih jam tiga sore. Masih panjang waktu untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Bram tak sabar mencari-cari keberadaan istrinya ke dalam kamar mereka.


Cklek


Bram masuk ke dalam kamar tapi tak ada tanda-tanda istrinya ada di dalam kamar. Dia mendekati pintu kamar mandi namun tak ada tanda ada orang di dalamnya.


"Kemana kamu sayang?" Guman Bram cemas tak mendapati istrinya dimanapun. Bram memilih untuk membersihkan tubuhnya sebentar karena merasakan lengket di tubuhnya. Setelah menyelesaikan sidang pertamanya, Bram langsung tancap gas pulang daripada mampir di hotel tempatnya menginap. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


Mendengar kisah sepupunya yang juga merindukan kekasihnya.... tidak...istri orang tepatnya.


Wah, sepupunya itu sungguh berani mencintai istri orang. Meski rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja seharusnya sepupunya itu tidak memperkeruh suasana dengan menikahi istri orang itu meski secara siri. Semoga saja aku selalu bahagia bersama istriku. Aamiin...


Cklek


Lia masuk ke dalam kamar setelah selesai dari kebun. Dia memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berkebun sambil membunuh waktu. Suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya.


Lia menatap sekeliling kamar tak ada siapapun.


Siapa di dalam kamar mandi? Mungkinkah mas Bram? Batin Lia berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar mandi mencoba mendengar siapa gerangan yang ada di dalam kamar mandi, dia tak mendapati sesuatu yang menunjukkan suaminya pulang.


Cklek


"Aaaa..." Teriak Lia saat pintu kamar mandi terbuka dan dia masih mengendap-endap. Lia segera mengusap dadanya.


"Sayang, kau kemana saja? Aku mencarimu." Sapa Bram langsung mendekap tubuh mulus istrinya yang dirindukannya beberapa hari itu.


"Sesak mas." Bram langsung melepas dekapannya dengan kedua tangan masih setia melingkar di pinggangnya.


"Mas kapan pulang? Kok gak panggil aku?" Tanya Lia menatap suaminya penuh tanya.

__ADS_1


"Barusan. Aku memanggil-manggilmu berkali-kali tapi kau tak ada dimanapun. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dulu sebelum mencarimu kembali. Dan ini, kau berkeringat? Apa yang kau lakukan?" Tanya Bram cemas melihat keringat menetes di wajah istrinya.


"Aku di kebun samping mas, mencoba mengisi waktu. Aku bosan." Lia menjauhi suaminya mencari handuk kecil untuk mengusap peluhnya.


"Jangan terlalu capek sayang, kau baru sembuh!" Peringat Bram sambil mengikuti langkah istrinya. Dia juga sambil mengusap rambut yang masih basah karena dia baru saja keramas.


"Hanya sebentar, itu pun tidak lama. Mungkin karena cuaca panas jadi aku berkeringat. Bukannya itu malah sehat?" Ucap Lia berbalik menatap suaminya karena tubuhnya diputar oleh suaminya. Dia hanya bisa menurut tak mampu menolak. Dia juga merindukan sentuhan suaminya.


"Aku merindukanmu." Bisik Bram langsung memagut bibir istrinya yang tak didapatkannya lebih dari tiga minggu sejak istrinya dirawat. Lia membalas pula pagutan suaminya dengan penuh nafsu. Namun Bram langsung melepaskannya saat teringat pesan dokter.


"Mandilah! Kita makan malam di luar." Ucap Bram melangkah menuju ke dalam walk-in closet. Lia terlihat kecewa meski dirinya juga harus mandi dulu.


.


.


TBC


Hai pembaca setiaku


Baca dan masukkan ke daftar favoritmu


Karya baruku



Terima kasih


Dukung terus karyaku ya.

__ADS_1


__ADS_2