Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 69


__ADS_3

Setelah mempelajari berkas perceraian Ken selama dua minggu ini. Bram dapat menarik kesimpulan kalau Ken menikah dengan seorang gadis tetangganya sendiri yang sudah dianggapnya seorang adik karena perjodohan orang tuanya. Dalam pernikahan mereka lebih dari tujuh tahun dikaruniai seorang putri berusia enam tahun dan genap tujuh tahun jika orang tuanya bercerai.


Setelah diangkat menjadi direktur penanggung jawab proyek di perusahaan tempatnya bekerja. Ken bertemu kembali dengan mantan kekasihnya Lena yang ternyata mereka masih saling mencintai dan akhirnya bersatu kembali setelah sekian lama berpisah.


Mereka pun menjalin hubungan serius hingga Lena hamil anak Ken. Lena pun menuntut pertanggung jawaban dari Ken yang langsung diiyakan hanya secara siri. Dan Lena menerimanya karena status keduanya masih memiliki pasangan. Lena pun menuntut perceraian dengan suaminya dengan alasan Indra mandul.


Indra yang juga sepupu jauhnya shock mendengar kehamilan istrinya dengan pria lain hingga akhirnya menerima perceraian tersebut meski masih mencintai istrinya itu. Disini Bram mendengar kisah mereka dari pihak Ken dan Lena. Sementara pihak Indra, sepupunya tak pernah membeberkan masalah perceraiannya.


Meski Indra murah senyum dan terlihat sumringah bahagia tapi Indra bukan pria yang akan mengumbar aibnya meski pada keluarganya sekalipun. Bram bisa menarik kesimpulan kalau sepupunya Indra belum terima kalau dia dituduh sebagai pria mandul. Bukankah anak adalah rejeki dari Tuhan yang artinya kapanpun bisa diberikan, kenapa harus memvonis salah satu pasangan mandul meski pernikahan mereka sudah lebih dari beberapa tahun.


Bram menghela nafas panjang, dia terlihat bimbang dengan pernyataan Lena dan Ken namun lebih Lena yang mendominasi ceritanya. Bahwa istri Ken tidak mampu menarik perhatian Ken. Bahkan sampai tujuh tahun pernikahan, istrinya tampak tidak menarik sebagai seorang wanita. Ken sampai saat ini masih menyayangi istrinya sebagai seorang adik saja.


"Aku penasaran, bagaimana wajah wanita itu?" Batin Bram menatap berkas-berkas perceraian itu.


"Seburuk apa wanita itu hingga tak mampu membuat seorang Ken berpaling." Guman Bram.


Waktu menunjukkan pukul empat sore. Sesuai janjinya dia akan pulang tepat waktu dan meninggalkan pekerjaannya untuk pulang ke mansionnya. Dia akan meninggalkan pekerjaannya jika sudah waktunya pulang kerja.


Bram segera bersiap untuk pulang.


Di dalam perjalanan Bram selalu terjebak dalam lampu merah terus. Bram berdecak kesal karena waktunya semakin molor untuk pulang ke mansionnya.


Brukk...


Spion mobilnya diserempet sebuah mobil yang langsung meminggirkan mobilnya juga mobil Bram.


"Maaf tuan, maaf... saya buru-buru, tidak sengaja menyenggolnya." Ucap wanita yang keluar dari dalam mobil itu. Bram melirik wanita yang terlihat merasa bersalah itu. Bram menyentuh spionnya yang terlihat tidak terlalu rusak tapi masih bisa dipakai.


"Tak apa." Jawab Bram masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Maaf tuan sungguh saya minta maaf. Saya akan menggantinya." Ucap wanita itu semakin merasa bersalah karena Bram begitu mudah memaafkannya.

__ADS_1


"Tidak apa. Ini masih bisa digunakan. Lain kali hati-hati meski terburu-buru." Bram langsung melajukan mobilnya meninggalkan wanita yang merasa bersalah itu.


"Maaf tuan maaf." Wanita itu masih saja minta maaf meski mobil Bram semakin menjauh. Bram tersenyum tipis melihat wanita itu di kejauhan.


"Mama tak apa?" Tanya seorang gadis kecil yang turun dari mobil wanita itu.


"Kamu tak apa sayang? Maafkan mama kurang hati-hati." Sesal wanita itu memeluk putrinya.


Bram masih mengintip interaksi ibu dan anak itu dari kejauhan lewat spion karena saat itu lampu masih merah pertanda berhenti.


***


"Kau sudah pulang?" Sapa Lia begitu melihat suaminya muncul di pintu depan.


"Aku merindukanmu." Bram memeluk tubuh istrinya manja.


"Mas kenapa? Baru tadi pagi juga." Jawab Lia membalas pelukan suaminya.


"Mau mandi? Aku siapkan air hangatnya?" Tawar Lia menatap suaminya lembut.


"Mandi bersama?" Bisik Bram membuat Lia tersipu malu.


"A...aku sudah mandi mas." Jawab Lia malu-malu.


"Mandi lagi? Ya?" Pinta Bram. Lia tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan suaminya. Bram langsung membopong tubuh istrinya ke dalam kamar mereka dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


***


"Mas kenapa?" Tanya Lia duduk di bathtub kamar mandi setelah satu ronde percintaan panas mereka. Lia duduk di depan tubuh suaminya yang sedang melamun.


"Semoga segera tumbuh ya?" Jawaban Bram membuat Lia tersenyum haru. Apalagi suaminya mengelus perutnya dengan penuh harap.

__ADS_1


"Mas ingin punya anak berapa?" Tanya Lia basa-basi.


"Berapapun asal itu denganmu." Jawab Bram membuat Lia tersipu malu. Lia memutar tubuhnya menghadap suaminya. Bram menatap istrinya penuh cinta. Lia menangkup kedua pipi suaminya dan mengecup bibir itu sekilas.


"Alhamdulillah..m keinginan mas sudah terkabul." Bram masih terdiam belum paham maksud ucapan istrinya.


"Ah..." Bram sontak terkejut mendengar ucapan istrinya yang mendadak itu.


"Benarkah!" Ucap Bram berbinar-binar.


Sudah lebih dari dua bulan sejak keguguran istrinya. Dan dokter juga memberikan vitamin penguat kandungan untuk istrinya jika sewaktu-waktu promil tidak terlalu berbahaya untuk ibu dan janinnya. Dan sekarang istrinya mengatakan kalau keinginannya terkabul


"Bagaimana kau tahu? Kau periksa ke dokter? Kapan?" Lia menggelengkan kepalanya melihat antusiasme suaminya mendapat kabar kehamilan keduanya.


"Lalu?"


"Aku awalnya tak percaya melihat alat tes kehamilan itu. Karena bagaimanapun juga aku pernah mengalami keguguran, aku tak mau terjadi sesuatu karena aku ceroboh. Sudah lima hari aku tidak mendapatkan tamu bulananku. Dan ternyata aku benar-benar hamil." Jelas Lia dengan senyum bahagia.


"Terima kasih sayang. Terima kasih." Ucap Bram memeluk istrinya erat merasakan kebahagiaan yang membuncah.


"Aku juga bahagia mas." Jawab Lia membalas pelukan suaminya.


"Tunggu? Tadi, aku tidak membahayakannya kan?" Tanya Bram ganti cemas dan panik perihal percintaan panas mereka tadi.


"Aku yakin dia baik-baik saja. Dia kuat mas." Hibur Lia sambil mengelus perutnya yang masih rata. Bram ikut mengelusnya dan tak henti-hentinya mengecup perut istrinya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2