Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 83


__ADS_3

Lagi-lagi Bram harus merasakan kecewa lagi setelah sekian lama mampu membuka hatinya setelah kepergian istri dan anaknya. Pertemuan dia wanita bernama Karina membuat Bram harus rela menyerahkannya pada sepupunya Jonathan karena anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak dari sepupunya itu.


Pria yang menelantarkan Karina dalam keadaan hamil ternyata pria bodoh yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Dan dia tak mungkin setega itu memisahkan kedua insan yang saling mencintai karena keadaan yang harus membuat mereka berpisah. Dan tak mungkin juga dia memisahkan anak dan ayah kandung mereka.


Status sosial yang selalu menjadi permasalahan pamannya itu masih terlihat kentara di benak pria yang tidak lagi muda itu. Berulang kali ayahnya menasehati agar jangan memandang semua hal dengan status sosial namun pamannya itu tak mengindahkan nasehat ayah Bram. Hingga akhirnya setelah kejadian itu, pamannya baru menyadari kalau status sosial tinggi tak menjamin perilaku orang juga tinggi.


Terbukti Karina seorang wanita kalangan menengah kebawah mampu menunjukkan dia tak seperti orang kolot pada umumnya. Namun malah terlihat lebih terhormat dan terpelajar karena mungkin didikan dari sang ibu yang adalah seorang guru. Namun sepertinya Bram harus rela melupakan wanita yang nyaris sempurna itu. Kemana lagi dia akan mendapatkan wanita yang sama seperti Karina.


"Excuse me sir." Sapa seorang wanita yang terlihat familiar di wajahnya dengan logat bahasa Inggrisnya yang kental karena terlalu lama hidup di luar negeri. Dengan rambut blonde pirang bukan sejak lahir membuat Bram memicing tanpa sadar menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Tatapan Bram berhenti pada anak laki-laki bule dengan mata biru menggandeng jemari tangan wanita yang tidak asing itu erat.


"Tuan." Panggil wanita itu lagi dengan bahasa tanah air berharap pria di hadapannya ini mengerti ucapannya.


"Ya?" Jawab Bram salah tingkah meski langsung dapat mengendalikan dirinya. Wajahnya kembali datar dan dingin.


"Bisa minta tolong, di lantai berapa acara resepsi pernikahan diadakan?" Tanya wanita itu bicara dengan khas medok.


"Siapa...?"


"Karina. Nama pengantin wanitanya Karina." Ucap wanita itu menyela ucapan Bram seolah tahu apa yang akan dikatakan Bram.


"Tentu. Aku sepupu mempelai pria." Ucap Bram memperkenalkan diri secara tidak langsung.


"Benarkah? Wah, syukurlah. Saya tidak harus sendiri untuk menghadirinya." Ucap wanita itu tersenyum, sama persis senyumnya dengan senyum mempelai wanita.

__ADS_1


Bram sesaat terdiam karena terpana dengan ucapan wanita di hadapannya itu yang terkesan bar bar berbeda dengan wajah lembut yang dikenalnya selama ini.


"Oh ya, saya Katrina. Saudara kembar Karina. Mungkin anda tidak pernah melihat kami berdua. Kami sejak kecil sudah terpisah, Karina dirawat orang tua kami sedang saya dirawat kakek dan nenek dari ayah kami." Katrina memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bram. Namun Bram masih terdiam menatap ke arah wanita di hadapannya itu.


"Tuan. Ayolah!" Katrina meraih jemari tangan Bram untuk berjabat tangan, Bram tersentak dengan tarikan tiba-tiba wanita itu yang terkesan berani dengan pria asing.


"Siapa nama tuan?" Tanya Katrina sok akrab.


"Bram. Bramantyo." Jawab Bram masih belum bisa mengendalikan perasaannya karena keagresifan wanita di hadapannya itu yang sangat berbeda dengan wanita lemah lembut saudari kembarnya.


"Bisa antar aku Bram...eh maaf... bolehkah saya memanggil anda Bram saja. Di luar negeri kami terbiasa memanggil orang dengan nama saja." Ucap Katrina lagi banyak bicara.


"Tentu."


"Oh hai boy." Sapa Bram menatap Bobby yang juga menatapnya sejak tadi penuh intimidasi.


"Hello uncle. You like my mom?" Pertanyaan Bram membuat Bram terkejut. Dia tahu betul maksud pertanyaan pria kecil bule itu.


"Bob, apa yang kau katakan?" Marah Katrina menatap putranya kesal. Putranya memang berumur tujuh tahun tapi kepekaan anak itu sangat besar.


"No mom. Paman ini menatap mama seolah ingin memangsa mom." Jawab Bobby tak mau kalah dengan tatapan mata tajam pada Bram tak suka.


"Ah, boy itu... tidak... seperti yang kau pikirkan..." Bram salah tingkah ditatap membunuh oleh pria kecil itu.

__ADS_1


"Tapi paman..."


"Bob, cukup." Tegas Katrina setengah membentak membuat Bobby terdiam tapi masih menatap Bram kesal sambil berdecak.


"Maaf, aku.. bukan maksudku seperti itu..." Bram segera meralat sikapnya sejak tadi.


"Jangan cemaskan ucapannya, dia selalu posesif padaku. Dia selalu seperti ini jika aku ngobrol dia pria bukan papanya. Aku yang seharusnya minta maaf atas perlakuan putraku." Sesal Katrina.


"No mom. Aku..."


"Diam Bob. Atau aku akan mengantarmu pada dad." Ancam Katrina membuat Bob terdiam kesal. Bram sedikit tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Aku akan antar ke tempat resepsi pernikahan." Tawar Bram, mungkin datang bersama dengan wanita itu tidak membuat Bram seperti orang bodoh meski tahu Katrina wanita bersuami dan punya anak yang membencinya sepertinya. Entah kenapa Bram tersenyum mengingat hal itu.


Keduanya pun berbincang akrab sambil berjalan menuju ballroom tempat resepsi pernikahan Jo dan Karina dilangsungkan. Bram yang tadi hendak masuk mengurungkan niatnya melihat banyak pasangan yang datang. Dan melihat raut wajah bahagia kedua mempelai membuat hatinya miris. Bahkan mamanya yang menenangkan dirinya tadi tak mampu membuat Bram berani masuk ke dalam ballroom pernikahan.


Kini dia dengan percaya diri datang bersama saudari kembar Karina yang terlihat blak-blakan dan ceplas-ceplos membuat Bram bisa menghilangkan perasaannya gugupnya tadi. Apalagi mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Dan Bram yakin sebenarnya keduanya saling menyayangi hanya cara mereka mengatakannya berbeda dengan orang lain.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2