
Bram sudah sembuh total, istrinya sudah mengizinkannya untuk pergi bekerja. Itupun harus dilakukan sampai jam lima sore. Lia tidak mengizinkannya untuk lembur atau menyelidiki kasus malam-malam jika itu bisa ditunda. Sampai benar-benar sehat benar.
Meski dokter sudah menyatakan sembuh total, namun harus dibarengi pola hidup sehat dan pola makan yang sehat juga. Itulah sebabnya Lia membatasi ruang gerak suaminya untuk sementara ini. Lia memberikan solusi untuk menyerahkan pekerjaan yang mendesak pada orang kepercayaannya saja.
Dan Bram terpaksa menyetujuinya meski dia kurang puas. Namun memang kesehatannya saat ini lebih penting dari apapun. Apalagi operasi terakhir kali saat kecelakaan itu benar-benar berefek sangat besar padanya. Dia juga tak mau sembrono meski keamanan di mobilnya sangat memadai.
"Sudah jam makan siang, kita makan siang dulu. Aku sudah membawanya dari rumah." Titah Lia siang itu saat dia tiba di kantor firma hukum milik suaminya.
"Baiklah sayang." Bram menurut, dia terpaksa menunda pekerjaannya saat itu demi istrinya.
Karena istrinya janji dalam beberapa hari kedepan, dia akan sering datang ke kantor saat jam makan siang untuk makan bersama masakannya dari rumah.
**
"Aku pulang dulu." Pamit Lia pada suaminya setelah membereskan meja dan membawa kembali tempat bekal makanan tadi.
"Hati-hati!" Jawab Bram menarik pinggang istrinya intens.
"Mas, ini kantor?"
"Siapa bilang bukan kantor?" Goda Bram tersenyum menatap wajah merona istrinya malu-malu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau ada yang ma...?"
Cklek
Pintu ruangan Bram tiba-tiba terbuka dan muncul Terry, orang kepercayaan Bram. Sahabat baik Bram juga.
"Ah, maaf. Aku akan datang lagi nanti." Terry langsung pergi meninggalkan ruangan Bram lagi sambil menutup pintu merasa bersalah.
Apalagi Bram menatapnya tajam karena Terry menyelonong masuk karena Terry pun sudah terbiasa masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Dan Bram juga tak protes, baru kali ini dia protes karena kemesraannya dengan istrinya terganggu.
Bram pun berdecak kesal. Kemesraannya langsung pupus seketika. Karena istrinya tadi spontan melepas pelukannya karena terkejut saat pintu ruangan suaminya terbuka.
"Di rumah saja. Jangan disini! Kumohon!" Pinta Lia sambil mengatupkan kedua tangannya di dada memohon pada suaminya.
"Aku akan minta lebih jika di rumah." Ucap Bram.
Lia langsung menutup mulutnya malu mendengar ucapan suaminya.
"Terserah suamiku saja." Goda Lia tersenyum imut, dia pun langsung pergi meninggalkan ruangan suaminya.
Bram hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tersenyum melihat salah tingkah istrinya.
__ADS_1
**
"Apa ini?" Tanya Bram membaca berkas yang dibawa Terry di ruangannya.
Ya, saat istrinya sudah pamit pulang, Bram langsung menghubungi Terry untuk segera ke ruangannya bertanya apa yang ingin disampaikannya tadi. Meski sempat ada godaan dari Terry sebelum dia menyerahkan berkas tersebut.
"Kau bisa baca disitu, semua tercatat jelas disitu." Jawab Terry tenang sambil duduk bersandar di sofa dengan kaki disilangkan salah satunya di atas kaki yang lain.
"Apa dia berusaha memanipulasinya?" Tanya Bram mulai murka.
Terry malah dengan santainya mengedikkan kedua bahunya.
"Mungkin? Aku menyadarinya saat mencurigai gerakannya beberapa waktu lalu." Jawab Terry kembali duduk tegak dan meletakkan kakinya sejajar kembali.
"Kau mencurigainya?" Bram mengernyitkan keningnya menatap wajah Terry penasaran apa yang akan disampaikannya.
"Dia...bla..bla...bla.." Penjelasan Terry panjang lebar membuat Bram mengangguk-angguk kepalanya menyetujui penjelasan Terry.
Bram menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Dia sungguh tak percaya penyelidikan pada orang yang dicurigainya ternyata benar adanya.
"Sial." Umpat Bram kesal.
__ADS_1
TBC