Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 73


__ADS_3

Hari itu Bram mulai mengurus kasus perceraian Ken dan Karina. Dia tak lagi bertemu pihak Ken ataupun pihak Karina hanya perwakilan dari pengacara masing-masing. Bram sedang menatap berkas-berkas perceraian di atas meja. Dia merasa sangat bersalah melihat kompensasi yang didapatkan pihak Karina. Karena sebagian kekayaan Ken lebih dari setengah yang diberikannya pada calon mantan istrinya itu.


Bram hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Setega itu Ken pada calon mantan istrinya dan anaknya. Bram tahu kalau semua ini pasti Lena yang merencanakannya. Padahal setahunya istri sah Ken tak seperti yang dituduhkan oleh Lena.


Bram serba salah disitu. Apalagi mendengar permintaan terakhir Karina saat mengatakan padanya dengan nada bercanda beberapa waktu lalu.


"Bisakah aku meminta suamiku kembali saja?" Begitulah yang dikatakan Karina dengan wajah tersenyum penuh harap padanya. Bukan malah marah dan kesal serta menuntut banyak harta dari gugatan cerai yang dilayangkan Ken.


Hati Bram langsung mencelos saat Karina mengatakan kalau dia bercanda. Dan dengan senyum manisnya yang kentara sekali berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. Sesat hati Bram tergerak untuk menghentikan melanjutkan menjadi pengacara kasus perceraian yang mewakili Ken.


Bram mengusap wajahnya kasar. Saat interupsi hakim masuk ke ruang persidangan, Bram langsung ikut berdiri memberi hormat dan kembali duduk sesuai interupsi. Benar-benar kedua belah pihak tak ada yang datang, bahkan sampai persidangan mediasi tak ada yang datang juga selain pengacara yang mewakili pihak masing-masing.


Hingga sebulan kemudian ketuk palu tanda sahnya perceraian keduanya pun dilakukan oleh hakim. Bram hanya tersenyum sambil berjabatan tangan dengan pengacara pihak Karina. Dia seperti orang bodoh saja. Baru kali ini mengurus kasus perceraian dengan mudah tanpa perlu bersusah payah memperjuangkan harta gono-gini ataupun hak asuh anak.


Bram menghela nafas panjang keluar dari ruang persidangan. Dia hanya melakukan tugasnya dan sudah selesai. Namun entah kenapa tidak mendapatkan kepuasan seperti sebelum-sebelumnya. Dia malah seperti memakan gaji buta dari urusan perceraian yang begitu mudahnya.


***


Bram kembali ke perusahaan keluarganya mulai konsentrasi mengurus pekerjaannya. Dia benar-benar harus pensiun dari pengacara karena rasa bersalahnya. Namun dia tetap merasa tidak rela. Bagaimana pun juga menjadi seorang pengacara adalah cita-citanya meski dia harus rela mengorbankannya demi anak dan istrinya.

__ADS_1


"Huff..." Bram menghela nafas berat. Dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dan melupakan kasus perceraian itu.


Tok tok tok


"Masuk!" Interupsi Bram dari dalam ruang kerja.


"Meeting lima belas menit lagi dimulai tuan." Ucap sekretaris Bram.


"Okay." Jawab Bram menyiapkan bahan meeting dan mulai membereskan meja kerjanya dulu.


Dia pun berdiri setelah selesai dan bertepatan sekretarisnya membawakan notulen meeting mereka hari itu.


***


"Apa kabar anak papa?" Sapa Bram mencium sambil mengelus perut istrinya penuh cinta.


"Baik papa." Jawab Lia menirukan suara anak kecil.


"Dan bagaimana kabar mamanya?" Bram ganti mengecupi wajah istrinya mesra.

__ADS_1


"Geli...mas..." Jawab Lia tertawa kegelian membuat siapapun yang melihatnya merasa malu melihat kemesraan pasangan yang hendak dikaruniai seorang anak itu.


"Mas mau mandi atau makan malam dulu?" Tawar Lia.


"Aku ingin memakanmu." Jawaban Bram membuat wajah Lia sontak memerah.


"Masss." Teriak Lia manja.


"Hahahaha." Bram menuntun istrinya ke dalam kamar mereka.


Setelah kehamilan istrinya lebih besar, Bram memindahkan kamar mereka untuk sementara di lantai bawah agar istrinya tidak banyak naik turun tangga. Dan istrinya hanya menurut, baginya dimanapun asal dengan suaminya dia tak masalah.


Bram langsung menyerang bibir istrinya dengan nafsu yang menggelora. Dan tak melepaskan bibir itu dengan mudah. Dia sungguh merindukan istrinya karena menahan gejolak nafsunya karena kehamilan istrinya. Kini dia benar-benar sudah tak tahan lagi, apalagi keadaan hatinya sedang kacau saat ini. Dia memilih untuk melampiaskan dengan mencumbui tubuh istrinya.


"Aku mencintaimu sayang." Bisik Bram setelah merasa puas dan cukup melampiaskan nafsunya. Namun mungkin istrinya terlalu lelah melayaninya hingga terlelap dalam tidurnya.


Bram beranjak dari ranjang menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya, karena tadi dia belum sempat mandi karena langsung menyerang istrinya. Bram tersenyum-senyum sendiri mengingat percintaan panas mereka barusan. Rasa tidak tenang sejak tadi sudah berangsur menghilang.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2