
Bram terlihat duduk merenung di meja ruang kerjanya. Ceramah panjang dan sindiran halus yang diberikan oleh calon ayah mertuanya membuatnya berkali-kali menghela nafas panjang. Dia sungguh sangat malu saat dipergoki tadi.
Baru dua kali dia berciuman dengan calon istrinya dan dipergoki calon ayah mertuanya itu sungguh sangat memalukan. Kalaupun dipergoki kenapa bukan saat dirinya sudah menikah dengannya.
"Dan... dan... ke.. kenapa ciuman bisa selembut itu..." guman Bram membuat wajahnya semakin memerah malu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ah, sejak kapan aku semes*m ini." Gumamnya lagi.
Bram mencoba mengendalikan kemes*mannya, membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya.
"Kenapa? Aku juga sudah dewasa, bukan anak-anak. Sudah saatnya aku mengenal semua itu. Aku pun juga harus belajar lebih giat tentang malam pertama juga. Aku kan juga harus menunjukkan hal itu nanti saat malam pertama kami. Apa yang salah dengan itu semua?" oceh Bram di kursi kerjanya.
"Tuan..." panggil sekretaris papa Bram yang sudah masuk, karena Bram tak mendengarnya saat dia mengetuk pintu berulang kali tadi. Bram masih terlihat melamun.
"Tuan Bram..." sekretaris itu bicara agak kencang agar Bram mendengarnya.
"Ya?" Bram langsung tersentak berdiri dari duduknya tanpa sadar.
"Ah, maaf tuan mengagetkan anda." jawab sekretaris itu merasa bersalah karena putra atasannya itu terkejut dalam lamunannya.
"Ah, tidak. A... ada apa?" tanya Bram gelagapan merasa malu.
"Meeting sepuluh menit lagi." ucap sekretaris itu.
"Baik. Ayo!" Bram merapikan jasnya dan keluar dari dalam ruangan diikuti sekretaris itu.
***
"Ayah tidak seharusnya seperti itu." ucap ibu Lia saat Bram sudah pergi.
"Seperti itu bagaimana maksud ibu?" tanya ayah Lia.
"Mereka sudah sama-sama dewasa. Apalagi dalam waktu tiga hari ke depan mereka menikah."
__ADS_1
"Lalu?"
"Sudah hal biasa untuk mereka yang namanya ciuman dan berpegangan tangan. Toh mereka melakukannya karena saling mencintai." jelas ibu Lia.
"Huh... tetap saja tidak boleh." ujar ayah Lia yang tetap tak mau mengalah.
"Apalagi langsung memutuskan pingitan yang bahkan masih untuk besok itu." ucap ibu Lia sedikit kesal. Ayah Lia memang keras kepala, begitulah yang dipikirkan ibu Lia saat itu.
"Apa bedanya tiga hari dan dia hari. Tinggal besok juga."
"Ayah, ayah tahu siapa yang paling sedih saat ayah memutuskan hal itu?" tanya ibu Lia.
"Siapa?"
"Putrimu. Delia. Dia yang terlihat paling sedih saat ayah memutuskan untuk pingitan diajukan sehari." jawab ibu Lia sedikit ketus.
"Loh.. loh... loh... kenapa?"
"Lah, ayah tidak tahu. Putri kita yang lebih dulu mencintai Bram, putri kita yang awalnya bersedia menikah dengan Bram. Putri kita juga yang mencintai Bram lebih banyak. Tentu saja putri kita yang paling sedih saat mereka dipingit meski tiga hari lagi mereka menikah." ayah Lia terdiam mendengar penjelasan istrinya yang terakhir.
***
Bram sudah bersiap dengan setelan jas pernikahan yang dicobanya beberapa hari yang lalu saat fitting gaun pengantin. Bram terlalu menawan dan mempesona. Pernikahan termegah yang digadang-gadang menghabiskan dana yang tidak sedikit itu karena Bram adalah putra satu-satunya keluarga Pamungkas membuat Erika, sang mama Bram menyiapkan pernikahan mewah itu dengan mewah di gedung ballroom hotel milik keluarga kakaknya, Farida, mama Jo.
Tentu saja itu salah satu hadiah yang diberikan sang kakak demi pernikahan keponakan mereka yang sudah seperti putranya itu karena dulu saat Jo masih kecil, Bram sering memberi perhatian seperti seorang kakak pada adiknya sendiri. Namun kini Jo masih sedang menempuh pendidikan di Oxford university London Inggris.
Di tempat asal sang papa, Jo memilih kuliah disana karena juga ingin menemani sang nenek yang sudah ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang kakek.
"Kau sudah siap nak?" tanya Erika masuk ke dalam ruang ganti pakaian pria.
"Sudah ma." jawab Bram tersenyum menatap sang mama.
"Tampan sekali putra mama." puji Erika dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Bram seperti peka terhadap Erika, dia pun memeluk mamanya.
"Hiks... hiks..." Erika malah menangis di dekapan putranya.
"Kenapa mama malah menangis?"ujar Bram tanpa sadar air matanya juga menetes dan segera diusapnya sebelum mamanya tahu.
"Putraku akhirnya menikah...hiks..hiks.." bisik Erika lirih membuat hatinya semakin sedih.
"Apa maksud mama, toh q tak kemana-mana ma. Kami sepakat pulang ke apartemenku sebelum rumah kami selesai di renovasi."
Buk
"Auw... sakit ma." Bram mengusap dadanya yang dipukul sang mama berpura-pura kesakitan.
"Kau itu ya, tak tahu apa ini momen mama sedang sedih." cemberut Erika.
"Lihat make up mama luntur kan!" goda Bram sambil mengusap air mata Erika lembut. Erika lagi-lagi memukuli dada Bram gemas.
"Jangan menggoda mama!" ucap Erika cemberut.
Mereka pun tertawa bahagia, hingga seseorang menginterupsi mereka untuk segera bersiap karena ijab qobul akan segera dimulai.
**
SAH
Ucapan kata sah telah menjawab pertanyaan pak penghulu begitu kalimat ijab qobul diucapkan Bram hari itu. Akhirnya kedua sejoli itu sah sebagai suami istri mulai hari itu. Semua orang mengucap hamdalah saat kata sah diucapkan semua orang. Lia mulai keluar dari ruang gantinya untuk duduk di sisi Bram di depan penghulu.
Dia melaksanakan aturan sedemikian rupa sesuai petunjuk seorang yang sudah menjadi tugasnya untuk menuntun Lia. Termasuk menyalami tangan Bram yang baru beberapa menit lalu sudah sah menjadi suaminya baik secara agama dan hukum. Bram mengecup kening istrinya lembut setelah melirik ke arah calon ayah mertuanya yang sekarang sudah menjadi ayah mertuanya itu.
Yang merasa dilirik hanya berdehem menandakan tak ada larangan lagi bagi mereka. Lia yang paham maksud lirikan Bram tersenyum tersenyum malu. Akhirnya kesabarannya berbuah manis. Lia tersenyum bahagia saat bibir suaminya mengecup keningnya dengan takzim, ada yang berdebar kencang di dadanya.
Begitu juga Bram, perasaannya membuncah bahagia. Hingga prosesi dilanjutkan sungkem kepada orang tua mempelai pria dan berlanjut ke mempelai wanita.
__ADS_1
TBC