Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 61


__ADS_3

Tak sampai satu jam, mobil pribadi yang membawa Lia ke rumah sakit keluarga mereka sampai. Bi Ijah langsung meminta petugas yang berjaga membantunya menurunkan sang nyonya yang sudah pingsan.


"Bi, ini ponsel nyonya. Hubungi nyonya besar!" Saran pak Maman menyerahkan ponsel sang nyonya.


"A.. aku lupa pak." Jawab bi Ijah merasa bersalah dan cemas.


"Huff.. sekarang belum terlambat. Atau hubungi tuan muda langsung." Saran pak Maman. Bi Ijah mengangguk menerima ponsel yang ternyata tidak dipassword.


"Ada apa nak?" Seru Erika sumringah di seberang yang disangkanya menantu kesayangannya.


"I...ini bibi nyonya." Ucap bi Ijah ragu.


"Ada apa bi? Dimana Lia?" Tanya Erika mengernyitkan dahinya heran.


"Nyonya muda... nyonya muda... beliau..."


"Cepat katakan Bi!" Seru Erika tak sabaran. Wajahnya sudah berganti cemas dan panik jika terjadi sesuatu dengan menantunya.


"Nyonya muda sekarang sedang di UGD rumah sakit XX nyonya." Jawab bi Ijah langsung lancar begitu mendengar kemarahan sang nyonya besar.


"Apa? Apa yang terjadi dengan menantuku?" Teriakan Erika membuat bi Ijah semakin ketakutan dan merasa bersalah.


"Nyonya sebaiknya datang kemari. Nyonya muda masih di ruang UGD diperiksa dokter, nya."


"Baik, aku akan segera kesana!" Seru Erika menutup ponselnya segera berlari ke garasi mobilnya berteriak memanggil sopir pribadinya yang ternyata mengelap mobil.


***


"Bi Ijah, apa yang terjadi?" Tanya Erika cemas dan panik saat tiba di ruang UGD, hanya ada bi Ijah dan pak Maman.


"Nyonya muda, Nya." Jawab bi Ijah panik.


"Tenanglah Bi, jelaskan dengan tenang!" Jawab Erika.


"Tadi..."

__ADS_1


Cklek


"Keluarga pasien." Seru dokter saat keluar dari ruang UGD dengan wajah sendu.


"Iya dok, saya mamanya." Jawab Erika belum sempat mendengar penjelasan bi Ijah.


"Mari ikut ke ruangan saya, nyonya!" Ajak dokter itu diikuti Erika.


"Ada apa dok?" Tanya Erika cemas.


"Dimana suami pasien?" Bukannya menjawab dokter itu malah bertanya.


"Dia sedang dalam perjalanan kemari. Katakan saja ada apa pada saya dulu!" Bohong Erika mendesak dokter tentang apa yang terjadi dengan menantunya.


"Begini, sebelumnya saya minta maaf. Dan saya juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Menantu anda mengalami keguguran." Erika terbelalak mendengar penjelasan dokter.


"A.. apa maksud dokter?" Tanya Erika lagi.


"Menantu anda hamil sudah memasuki usia empat minggu. Dan karena kandungannya lemah, sehingga janin tidak bisa bertahan dan mengalami keguguran." Jelas dokter itu.


***


Erika terdiam di kursi tunggu didepan UGD. Dia seperti orang linglung saja mendengar calon cucunya meninggal. Cucu yang sangat diinginkan sejak lama. Dari putra tunggal satu-satunya. Namun sekarang seolah takdir mempermainkannya, calon cucunya harus pergi saat masih berusia dua bulan dalam kandungan menantunya.


"Nyonya besar .." Suara bi Ijah menyadarkan lamunannya.


"Eh, iya bi?"


"Minumlah dulu Nya!" Bi Ijah menyerahkan botol minuman air putih padanya.


"Makasih bi." Jawab Erika meneguk air itu.


"Sama-sama nyonya."


"Kau bisa ceritakan apa yang terjadi bi?" Tanya Erika meminta bi Ijah duduk di bangku kosong sebelahnya.

__ADS_1


Bi Ijah mulai bercerita tentang Lia yang pagi tadi merasa lapar, padahal baru selesai sarapan satu jam sebelumnya. Lia menginginkan camilan makanan ringan atau buah-buahan segar. Karena yang ada di kulkas hanya ada nanas dan apel, Lia mengiyakan tawaran buah itu. Malah minta tambah nanasnya dan membuat bi Ijah menuruti keinginan sang majikannya.


Dan hingga makan siang bi Ijah melihat Lia kesakitan sambil memegangi perutnya dengan darah yang mengalir di pahanya.


"Jadi bibi tak tahu kalau Lia hamil?" Pertanyaan bi Ijah mengejutkannya dan semakin membuatnya merasa bersalah.


"Nyo..nya..hamil?" Erika mengangguk, dia sudah bisa menerima telah kehilangan calon cucunya. Bi Ijah malah terlihat shock sambil menutup mulutnya tak percaya.


"Maafkan bibi Nya, hiks...hiks... semua salah bibi karena memberikannya buah itu." Sesal Bi Ijah menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Erika menepuk pundak wanita paruh baya yang sudah melayani keluarganya sejak putranya masih kecil.


"Mungkin belum rejeki mereka untuk diberikan seorang momongan bi. Semuanya sudah menjadi takdir bi, bukan salah siapapun." Hibur Erika menatap wanita rapuh yang sudah dianggapnya keluarga itu.


"Tapi.. kalau... kalau saja.. hiks..."


"Bibi sudah menghubungi Bram?" Seketika tubuh bi Ijah membeku mendengar ucapan Erika yang membuatnya lupa menghubungi orang yang paling penting disini.


"Bibi lupa Nya." Erika menepuk jidatnya.


"Sekarang hubungi dia bi, pakai ponsel Lia." Titah Erika.


"Ta...tapi Nya...a..apa tuan muda akan marah nanti?" Jawab bi Ijah takut dan ragu.


"Dia akan lebih marah kalau tak segera dihubungi." Jawab Erika santai membuat bi Ijah semakin ketakutan dan panik namun apa yang dikatakan nyonya besar benar.


Dan bi Ijah pun memberanikan diri untuk menghubungi Bram di dekat sang nyonya duduk mencegah hal-hal yang mungkin saja membuat tuan mudanya murka.


Flashback off


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2