Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 63


__ADS_3

Sudah seminggu ini Lia dirawat di rumah sakit pasca keguguran dan pemulihan dalam penguretan. Dokter pun mengizinkan Lia pulang dari rumah sakit. Selama itu pula Bram menunggui istrinya siang dan malam memilih untuk cuti dari pekerjaannya. Setelah kejadian penculikan beberapa waktu lalu yang membuat Bram merasa bersalah kini dia juga semakin merasa bersalah pada istrinya. Menempatkan keluarganya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Bram seolah mendapatkan karma dari kesalahannya yang entah itu apa. Namun orang tuanya selalu menguatkannya untuk terus bersabar dan menerima segala cobaan yang diberikan sang pemilik hidupnya.


Bram sendiri tak merasa hidupnya baik sejak dia kecil. Namun dia berusaha untuk tidak membuat kesalahan setiap apa yang dilakukannya. Dia berusaha melakukan dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun. Namun, dia malah membuat kesalahan besar. Tidak hanya membuat istrinya dalam bahaya tapi dia sudah membuat dia kehilangan calon bayi mereka dengan memercayakan istrinya pada pengawal dan pelayan di mansionnya.


Bukannya tak mau memperhatikan istrinya, namun keadaan memaksanya untuk tidak bisa selalu berada di sisi istrinya saat membutuhkan bantuannya. Hingga kehilangan calon bayi yang diimpikan oleh keluarga kecilnya. Namun dia harus rela menelan pil kekecewaan lagi dan merasa bersalah.


Bram lebih banyak diam saat keduanya sudah sampai di mansion. Dia meletakkan tubuh istrinya perlahan dari halaman depan mansion saat mobilnya terparkir. Awalnya istrinya menolak gendongannya karena dia memang sudah sembuh. Namun Bram terlihat memaksa dan itu membuat Lia tak bisa menolak karena dia tahu suaminya sedang tidak baik-baik saja.


"Terima kasih." Ucap Lia setelah istrinya memilih duduk dengan bersandar pada dashboard ranjang.


"Akan kuambilkan makan siang!" Ucap Bram yang hendak dicegah Lia namun terlambat, suaminya sudah berlari keluar kamar mungkin ke dapur.


***


"Dokter menyarankan untuk makan-makanan lembut dulu. Makanlah!" Bram mulai menyuapi istrinya.


"A.. aku bisa makan sendiri mas. Aku ... sudah sembuh." Cicit Lia membuat Bram terdiam dengan tatapan dingin membuat Lia bergidik dan mengurungnya niatnya untuk menolak suaminya yang tak mau dibantah.

__ADS_1


"Kau harus makan banyak agar segera sehat." Saran Bram sambil terus menyuapi istrinya.


"Sudah cukup mas." Lia menolak setelah lima kali suapan merasakan perutnya tak enak. Dia tak mau muntah karena takut menyinggung perasaan suaminya.


Bram menghela nafas kecewa karena makanan yang dibawanya masih banyak hanya berkurang beberapa suap. Istrinya seperti menahan mual untuk tidak muntah.


"Baiklah. Istirahatlah!" Tawar Bram membantu istrinya hendak berbaring dan dia pun hanya menurut tak mau membantah karena perasaan suaminya tidak sedang baik-baik saja.


"Mas." Lia mencekal pergelangan tangan suaminya saat hendak membalikkan tubuhnya.


"Hmm." Bram menatap istrinya dingin. Dan Lia melihat tatapan suaminya itu. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu.


"Hiks...hiks... maaf mas.. maaf..." Bisik Lia di dalam isak tangisnya setelah suaminya meninggalkannya sendiri. Padahal dia ingin tidur didampingi suaminya saat ini. Dia.. merindukan suaminya yang selalu tersenyum dan memberinya perhatian lebih.


***


Bram mengguyur tubuhnya di bawah shower kamar mandi di sebelah kamar utama tempat istrinya berada. Dia agak lama menikmati guyuran air dingin untuk memadamkan otaknya yang dengan tega membuat istrinya menangis. Namun dia ingin sekali marah dan berteriak menyalahkan dirinya sendiri karena ketidakbecusannya menjaga istrinya.


Istrinya terlalu sabar dan tabah serta pengertian meski dirinya sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan janjinya di awal pernikahan untuk selalu ada setiap istrinya membutuhkannya hanyalah bualan belaka sekarang. Nyatanya Bram tak berani mendekati istrinya yang sempat terdengar isak tangisnya saat dirinya keluar dari kamar.

__ADS_1


Ya, dia tadi mendengar isak tangis istrinya setelah dirinya berlalu dan menutup pintu kamar. Dia tak langsung pergi. Dia sempat berdiri sebentar di balik pintu merasa bersalah. Ingin dia berlari memeluk dan mendekap erat tubuh istrinya. Namun hati kecilnya merasa bersalah karena tak mampu melindungi calon bayi dan istrinya.


Hampir lebih dari tiga puluh menit Bram menghabiskan waktunya mengguyur tubuhnya di bawah shower kamar mandi. Dia sudah merasakan kedinginan. Dia pun segera menyelesaikan mandinya dan mengganti pakaiannya yang sudah tersedia di lemari kamar itu.


***


Bram masuk kembali ke dalam kamar sudah mendapati istrinya terlelap dengan mata sembab dan basah. Dia mengusap air matanya perlahan.


"Maafkan aku sayang... karena aku kau lagi-lagi harus menderita. Aku tidak pantas berada di sisimu jika itu membuatmu selalu berada di ambang maut. Maaf." Bram kembali meninggalkan kamar memilih untuk tidur di kamar sebelah membuat dada Lia berdenyut sakit melihat suaminya tidak tidur bersamanya.


Ya, tadi dia masih belum terlelap. Dia hanya pura-pura terlelap saat mendengar pintu kamar terbuka. Dia mengira suaminya akan ikut berbaring di sisinya dan mendekapnya erat dari belakang. Dia sungguh merindukan suaminya, sentuhan, perhatian dan kecupan sayangnya.


"Kenapa kau memilih meninggalkanku mas?" Bisik Lia lagi-lagi sesenggukan dalam tidurnya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2