
Lena setiap hari datang ke gedung kantor perusahaan Bram. Setelah satu bulan tak ada perkembangan tentang kasus perceraian suaminya. Lena menghubungi Bram yang selalu dijawab kita bertemu nanti. Namun Lena semakin kesal saja dengan jawaban Bram yang selalu sama. Seolah Bram enggan membantunya untuk mengurus perceraian suaminya.
Kalau saja Lena sedang tidak mempertahankan harta gono-gini suaminya, Lena pasti akan memilih pengacara lain. Namun dengan Bram semudah menjentikkan jari jika mengurus hal ini. Untuk itulah Lena masih saja mempertahankan Bram untuk menjadi pengacara kasus perceraian suaminya. Sekaligus mengurus harta gono-gini suaminya agar mantan istri suaminya tidak mendapatkan apapun.
Harta suaminya harus menjadi miliknya semua. Toh itu semua juga untuk anaknya kelak.
"Ada yang bisa dibantu ?" Tanya resepsionis bagian informasi saat melihat Lena memasuki gedung.
"Saya ingin bertemu dengan Bramantyo." Jawab Lena langsung tanpa basa-basi. Dia terlihat angkuh dan sombong.
"Maaf, apa anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis itu ramah.
"Aku tak butuh janji dengannya. Saya sudah berkali-kali menghubungi dan dia mengatakan akan menemui saya esok harinya. Tapi nyatanya?" Seru Lena emosi. Dia merasa dipermainkan Bram.
"Sebentar, saya hubungi sekretaris.."
"Tidak perlu. Saya akan langsung ke ruangannya." Lena langsung nyelonong ke dalam lift yang kebetulan sedang terbuka. Resepsionis sudah berusaha mencegahnya namun sepertinya dia terlambat. Resepsionis itu segera menghubungi sekretaris Bram untuk memberi tahukan tentang Lena.
***
"Apa Bram ada di dalam?" Tanya Lena to the point begitu sampai di depan ruang kerja Bram. Tampak sekretaris berusaha mencegahnya untuk menanyainya membuat Lena memutar bola mata malas.
"Maaf nyonya. Apa anda sudah membuat janji?" Tanya sekretaris Bram.
"Saya tak perlu janji untuk bertemu dengannya." Lena langsung menatap pintu dibalik ruang Bram itu.
"Bram, aku tahu kau di dalam. Bram." Teriak Lena yang membuat sekretaris Bram tersentak kaget dengan tamu bosnya yang bar-bar.
__ADS_1
"Nyonya .."
"Bram." Teriak Lena lagi tak menggubris sekretaris Bram.
Bram yang saat itu sedang membahas berkas laporan dengan para bawahannya tersentak kaget mendengar teriakkan Lena yang bar-bar.
"Ada apa itu?" Tanya Bram seolah pada dirinya sendiri.
"Sepertinya ada tamu yang memaksa masuk tuan." Jawab salah seorang bawahannya.
"Kita sudahi dulu pembahasan ini. Kalian boleh keluar." Titah Bram akhirnya. Dia mengikuti langkah para bawahannya sekaligus memastikan siapa yang bar-bar di luar ruangannya itu.
Cklek
Semua orang menatap aneh pada Lena, pelaku yang berteriak heboh di luar pintu ruang kerja atasannya.
"Lena!" Ucap Bram melihat siapa yang membuat kehebohan di depan ruangannya.
***
"Ya Tuhan Lena. Kau membuat keributan di kantorku." Seru Bram marah setelah mempersilahkan Lena masuk dan duduk di sofa ruang kerjanya.
"Salah siapa mengacukanku." Jawab Lena sewot membela dirinya. Dia tak mau disalahkan meski caranya salah.
"Aku tidak mengacuhkanmu. Kau tahu sendiri aku sudah tidak aktif di firma hukumku. Aku sekarang memfokuskan diri menjadi CEO di perusahaan keluargaku. Aku memang berjanji untuk membantuku tapi bukan berarti aku harus melupakan tanggung jawabku sebagai CEO." Omel Bram kesal menatap Lena penuh intimidasi.
"Tapi ini sudah lebih dari sebulan. Tapi kau belum ada kabar sama sekali." Elak Lena disalahkan.
__ADS_1
"Aku sudah katakan, aku akan melakukan saat aku tidak terlalu sibuk. Aku juga sudah menyarankanmu untuk mencari pengacara lain. Tapi kau tetap memintaku untuk mengurus kasusmu."
"Maaf. Kau tahu sendiri, kandunganku semakin membesar. Aku tak mau anakku saat lahir kami belum menikah secara hukum. Bagaimana status anakku nanti." Elak Lena mencari alasan. Bram tampak menghela nafas mengendalikan emosinya agar tidak berteriak lebih kencang lagi pada wanita hamil di hadapannya ini yang juga sahabatnya dulu.
"Okay, tapi tidak sekarang atau dalam waktu dekat ini jika kau menginginkan jasaku. Istriku juga hamil, dan aku harus lebih ekstra menjaga istriku karena kandungannya lemah. Jadi, setidaknya setelah trisemester pertama istriku terlewati. Setidaknya satu bulan lagi." Jelas Bram.
"Itu..."
"Kalau kau tidak sabar, aku akan meminta rekanku sesama pengacara. Dia juga cukup berkompeten seperti diriku."
"Tidak. Aku akan menunggumu. Dan kuharap sesuai dengan ucapanmu. Jangan sampai anakku lahir dan kami belum menikah secara hukum. Hanya itu yang kuminta." Melas Lena menatap Bram dengan tatapan penuh permohonan.
"Okay." Bram menghembuskan nafasnya lega. Berurusan dengan Lena memang memacu adrenalin emosinya.
Lena pun ngeloyor pergi meninggalkan ruangan Bram tanpa pamit. Bram sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd sahabatnya itu. Bram mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
***
"Kau sudah pulang sayang." Sapa Lia melihat suaminya terlihat lelah dan sedikit kusut.
"Hmm." Jawaban Bram membuat Lia mengernyit. Tak biasanya suaminya bad mood seperti ini. Biasanya apapun masalahnya suaminya pasti bisa mengendalikan emosinya.
"Mas capek ya?" Tanya Lia membantu suaminya melepas jas kantornya dan kemejanya bersiap untuk mandi.
"Begitulah." Jawab Bram dengan enggan. Dia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi berendam dalam bathtub yang air hangatnya sudah disiapkan oleh istrinya.
.
__ADS_1
.
TBC