
"Bibi sudah menghubungi tuan Bram?" Tanya tukang kebun itu.
"Ya ampun, hampir aku lupa pak."
"Segera hubungi bi, lebih baik tuan tahu secepatnya."
"Tapi... gimana menghubunginya pak?"
"Ini ponsel nyonya. Tadi bibi meninggalkannya di jok mobil." Bi Ijah ragu menerima ponsel itu. Dia bingung bagaimana memberi kabar pada tuannya tentang istrinya namun dia tetap harus menghubunginya memberikan kabar buruk ini.
Flashback off
***
Bram duduk di kursi pesawat kelas ekonomi. Karena kelas bisnis sudah habis. Kalau saja bukan hal mendesak, Bram tak pernah naik pesawat kelas ekonomi. Kabar kecelakaan ini membuat dia merasa kosong.
Firasat buruk yang dirasakannya ini ternyata tentang hal ini. Bram yang masih shock hanya terdiam di tempat duduknya. Bayangan tubuh istrinya bersimbah darah dengan perut buncitnya yang sebentar lagi akan melihat dunia seolah kandas. Dia tak mendapat kabar tentang keadaan bayi dalam perut istrinya hanya kabar tentang istrinya yang sekarang sedang kritis. Malaikat maut bisa saja menjemputnya setiap saat.
Dunia Bram seolah runtuh saat bi Ijah mengatakan hal itu di ponsel. Rasa bersalah pun terus menggerogoti dadanya yang seketika langsung sesak merasa bersalah karena tega meninggalkan istrinya sendiri dalam keadaan hamil besar yang mungkin membutuhkan perhatian seorang suami. Bram sungguh-sungguh sangat menyesal dan merasa bersalah. Dia berharap kedua orang yang disayanginya selamat.
***
"Keluarga pasien!" Panggil dokter saat keluar dari dalam ruang UGD.
"Saya asisten rumah tangganya dok." Bi Ijah langsung mendekati dokter dengan raut wajah cemas dan panik.
"Dimana keluarga pasien? Suami atau orang tuanya?" Tanya dokter yang terlihat cemas.
"Tuan masih dalam perjalanan pulang dok dari luar negeri. Dan tuan besar masih dirawat di rumah sakit disana karena serangan jantung dengan nyonya besar yang menungguinya. Orang tua nyonya Lia sudah pergi ke luar kota. Saya sudah menghubungi mereka dan dalam perjalanan kemari dok." Jelas bi Ijah cemas.
"Saya sepertinya tidak bisa menunggu. Keadaan pasien sedang gawat dan kritis. Dan kami harus segera mengeluarkan bayinya yang seperti sudah meninggal di dalam kandungan."
"Ya Tuhan." Bi Ijah terkulai lemas langsung ditahan tukang kebun yang masih berdiri di sisinya.
__ADS_1
"Sabar bi." Hibur tukang kebun itu.
"Kami harus segera meminta persetujuan untuk melakukan tindakan pada bayinya agar tidak terjadi hal kita inginkan." Jelas dokter itu dengan tatapan lemah dan tak berdaya.
"Sebentar lagi mereka sampai dok, apa tidak bisa menunggu?" Pinta bi Ijah dengan penuh harap. Deraian air mata tak bisa dihentikannya. Dia merasa bersalah terhadap apa yang terjadi pada nyonya mudanya.
"Kami khawatir jika tidak segera dilakukan tindakan makan akan lebih sulit jika ibunya telah tiada." Sesal dokter itu. Bi Ijah lagi-lagi tersentak kaget sontak menutup mulutnya spontan.
"Apa memang tak ada harapan lagi dok?"
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Benturan aspal membuat tubuh pasien benar-benar sudah tidak bisa ditolong lagi. Hanya keajaiban yang dapat terjadi. Itupun mungkin akan membuat pasien mengalami lumpuh permanen." Jelas dokter itu membuat bi Ijah tak mampu lagi menopang tubuhnya dan terkulai lemas jatuh ke lantai.
"Hiks... hiks...nyonya... maafkan bibi nyonya..." Bisik bi Ijah.
"Dokter, pasien mengalami gagal jantung." Seru perawat membuat dokter langsung masuk ke dalam menolong pasien.
"Bagaimana pak? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya bi Ijah masih sesenggukan menahan tangisnya.
"Aku juga bingung bi." Jawab tukang kebun.
"Apa kita harus menghubungi ibu nyonya Lia pak?" Tanya bi Ijah meminta pendapat.
"Kalau mereka bisa dihubungi tidak ada pilihan lain bi." Jawab tukang kebun itu.
"Ada apa dok?" Tanya tukang kebun melihat wajah dokter pucat dan panik.
"Cepat putuskan sepertinya ibunya tidak mungkin bisa bertahan lagi!" Pinta dokter itu menatap kedua orang asisten rumah tangga itu.
"Lakukan yang terbaik untuk nyonya kami dokter!" Jawab bi Ijah akhirnya yang diangguki tukang kebun itu.
***
"Mas Bram..." Lirih Lia dalam ruang UGD itu. Setelah jenazah bayinya berhasil dikeluarkan dari dalam perutnya. Lia sempat membuka matanya sejenak seolah dia merasakan sebagai seorang ibu kalau bayinya sudah tiada.
__ADS_1
"Ibu bisa mendengar saya, maaf ibu..." Tanya dokter itu mendengar gumaman Lia.
"Mas Bram..." Lirih Lia lagi dan sang dokter langsung memberi kode pada perawat untuk memanggil orang yang dipanggil pasien.
"Maaf, bisa bertemu mas Bram? Pasien terus menyebut namanya." Ucap perawat menatap kedua orang paruh baya itu.
"Dia masih dalam perjalanan dok. Tak tahu kapan sampainya." Jawab tukang kebun yang masih terlihat waras.
"Bagaimana kalau bibi yang menemui pasien?" Tawar perawat itu.
"Tapi sus..."
"Ada apa ini?" Tanya ayah Lia yang datang dengan ibu Lia dengan wajah cemas dan panik. Ketakutan tampak jelas di wajah keduanya.
"Siapa kalian?" Tanya perawat itu.
"Saya ibunya dok, bagaimana keadaan putri saya?" Tanya ibu Lia cemas dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Mari masuk ke dalam!" Ajak perawat itu.
Keduanya masuk ke dalam, ayah Lia tidak diizinkan karena hanya satu orang yang boleh masuk.
"Lia, ini ibu nak..." Panggil ibu Lia sambil menahan air matanya meski masih tersisa sesenggukan.
"Mas Bram..." Bisik Lia lirih dengan rasa sakit yang sangat. Ibu Lia pun menangis mesti tanpa suara.
"Dia sedang dalam perjalanan kemari nak." Hibur ibu Lia.
"Mas Bram..." Bisik Lia berulang-ulang membuat ibu Lia terenyuh semakin menangis tanpa suara.
.
.
__ADS_1
TBC