Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 31


__ADS_3

Lia masih tersenyum-senyum sendiri di meja restoran yang ditempati mereka. Bram sedang memesan makanan di meja pesanan. Lia sungguh bahagia melihat keposesifan suaminya. Sungguh sangat menggemaskan wajah suaminya yang sedang cemburu.


"Apa ada yang aneh dengan diriku?" Tanya Bram saat kembali ke meja makan mereka melihat istrinya masih tersenyum menatapnya.


Sesungguhnya Bram sangat malu karena harus menunjukkan rasa cemburunya tadi. Apalagi setelah mereka masuk ke dalam restoran, istrinya menggodanya karena kecemburuannya. Itulah sebabnya Bram memilih menuju meja pemesanan untuk menghindari tatapan senyuman istrinya.


"Terima kasih mas." Bram mengernyit mendengar ucapan istrinya.


"Untuk?"


"Sudah mau mencintaiku." Senyum di bibir Bram luntur, berganti dengan tatapan penuh cinta pada istrinya.


Perasaannya entah kenapa membuncah bahagia. Baru kali ini dia merasakan perasaannya seperti ini. Perasaan senang, nyaman dan posesif. Seolah tak mau jika miliknya diganggu. Kalau saja Bram tadi tak bisa mengendalikan dirinya, mungkin pria yang mengaku teman lama istrinya itu melakukan lebih dari minta nomer ponsel, mungkin Bram akan menghajar hingga babak belur pria tadi.

__ADS_1


Namun pekerjaannya sebagai pengacara yang sering bertemu banyak orang yang membuatnya emosi, Bram mampu mengendalikan dirinya. Meski sedang emosi saat bekerja, Bram tak seposesif itu. Namun kali ini Bram benar-benar hampir kehilangan kesabaran saat pria tadi baru minta nomer ponsel istrinya. Entahlah!


"Apa maksudmu? Aku selalu mencintaimu. Baru denganmu aku merasakan perasaan seperti ini. Aku pun juga akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita." Ucap Bram tegas, tanpa sadar membuat air mata Lia menetes terharu bahagia mendengar pernyataan cinta suaminya untuk kesekian kalinya.


"Hei, ada apa? Kenapa menangis? Kau tak suka?" Bram langsung menghampiri kursi istrinya yang tadi duduk di hadapannya terhalang meja, kini Bram mendekap tubuh istrinya di sisinya.


Untung saja tempat meja makan mereka terletak di pojokan karena Bram tak mau istrinya jadi pusat perhatian dan dimangsa oleh predator buas.


"Aku... aku sangat bahagia. Aku menangis bahagia." Bisik Lia dalam dekapan suaminya. Hingga makanan datang membuat keduanya spontan melepaskan dekapan mereka meski Bram terlihat tak rela dan kesal.


"Kita makan dulu! Kau ingin yang lain?" Tanya Bram lembut, menyiapkan makanan untuk istrinya.


Lia sudah menolak namun Bram bersikeras untuk melayani istrinya. Dada Lia berkali-kali membuncah bahagia merasakan perhatian yang sedikit berlebihan dari suaminya. Namun dirinya suka.

__ADS_1


***


"Kau capek? Mandilah! Lalu istirahat." Titah Bram lembut dan Lia mengangguk mengiyakan saat hari sudah mulai gelap dan mereka pun kembali ke resort.


Bram memesan makan malam untuk dibawa ke resort karena melihat istrinya yang sudah terlihat kelelahan karena hampir seharian istrinya memilih mengajaknya jalan kaki daripada naik mobil sewaannya karena jarak yang didatangi dekat sekali. Sekalian melihat-lihat udara luar.


Tak lama, Lia keluar dari dalam kamar mandi tepat saat pesanan makanan mereka tiba. Bram menuju pintu mengambil pesanan sebelum mandi untuk ganti membersihkan tubuhnya.


"Kita makan malam di sini saja, kau terlihat capek." Ucap Bram sambil meletakkan makanannya di meja makan dan menatanya.


Lia langsung mendekati meja makan mencegah suaminya menata makannya.


"Mandilah dulu! Biar aku yang menatanya!" Tawar Lia membuat Bram tersenyum mengiyakan.

__ADS_1


Tak lupa mengecup bibir istrinya sekilas sebelum kembali ke kamar mereka untuk mandi. Lia pun membalasnya meski masih ada rasa malu padanya.


TBC


__ADS_2