Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 44


__ADS_3

Bram berdiri di depan pintu kamar hotel yang ditunjuk oleh beberapa orang di ponselnya tadi. Dia terlihat ragu untuk mengetuk pintu kamar itu. Dia hanya berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya selama di tempat penculik.


Ting tong ting tong


Bram menekan bel pintu kamar hotel. Tak sampai beberapa detik, pintu terbuka perlahan menatap Bram dari ujung kaki ke ujung kepala. Kalau Bram tak membawa apapun sebagai senjata jika dia berani macam-macam.


"Masuk!" Titah seseorang itu yang memakai masker hitam yang menutupi wajahnya.


Bram ikut masuk setelah orang itu juga masuk.


"Dimana istriku?"


Bruk


"Ukh..." Bram ikut tak sadarkan diri karena seseorang memukul tengkuknya dari belakang.


Tiga orang yang diketahui di dalam kamar tersebut, dua orang diantaranya mengikat kaki dan tangan Bram ke belakang. Matanya ditutup dengan penutup kain hitam yang tak mudah ditembus dengan mata telanjang.


Satu orang diantaranya mengawasi Bram agar tidak melawan semisal tiba-tiba sadar dari pingsannya.


***


Di sudut lain.


"Apa sudah terdengar?" Tanya pria itu.


"Belum begitu jelas ketua." Jawab pria yang lainnya.


"Kita tunggu sebentar." ucap pria pertama tadi.


"Sssshh....sshh..." Suara berdesis dari radio yang sengaja didengar oleh orang-orang itu sontak membuat pria tadi memberi kode untuk tetap diam mendengarkan suara dari radio mereka.


"Bodoh sekali dia langsung datang di tempat yang diminta bos." Suara dari radio tersebut.


"Katanya pengacara pintar, semudah itu bisa dibohongi." Suara yang lainnya lagi.


"Cinta memang buta. Begitulah kalau orang terdekat kita dalam bahaya. Sebahaya apapun pasti akan langsung datang meski itu bukan informasi yang sebenarnya." Suara pria ketiga.


"Sudahlah, yang penting kita sudah mengikuti apa kata bos." Jawab pria pertama yang menjadi pemimpin mereka.


"Oh ya, sampai kapan kita akan menungguinya?" Tanya pria kedua.


"Ya, lagipula istri pengacara itu sebenarnya dimana?" Tanya pria ketiga mengiyakan pertanyaan pria kedua.

__ADS_1


"Kalian ini cerewet sekali. Tunggu sampai bos menghubungi kita." Jawab pria pertama yang dan detik berikutnya, ponselnya berdering.


"Iya bos." Jawab pria pertama itu di dalam panggilannya.


"..."


"Kami sudah mengikatnya seperti apa yang bos katakan!" Jawab pria pertama itu lagi.


"..."


"Sampai kapan kita akan menungguinya disini? Bagaimana kalau dia bangun dan mengamuk?" Tanya pria pertama itu.


Kedua temannya hanya diam ikut menyimak.


"..."


"Siapa yang akan menjaganya jika kita kesana?" Tanya pria pertama itu lagi.


"..." Pria pertama itu menoleh menatap Bram yang masih terbaring di ranjang.


Pria pertama tampak mengangguk-angguk dan mengiyakan ucapan dari seberang ponselnya.


"Ayo!" Ajak pria pertama setelah menutup panggilan ponselnya.


"Bagaimana dengannya?" Tanya pria ketiga sambil menunjuk ke arah Bram.


"Bos menyuruh kita untuk meninggalkannya disini." Jawab pria pertama.


"Apa? Kau yakin? Bagaimana kalau dia melaporkan kita ke polisi?" Tanya pria ketiga yang terlihat kurang bernyali.


"Iya betul." Ucap pria kedua.


"Dia tak sempat melihat wajah kita, dia tak akan tahu tentang kita." Jawab pria pertama menenangkan kedua temannya.


Mereka pun meninggalkan kamar tersebut sekaligus membersihkan jejak-jejak mereka yang dapat menjadikan titik penyelidikan polisi jika suatu saat akan menyelidiki.


**


Di tempat mendengarkan di radio tadi.


"Kalian bantu tuan Bram melepaskan diri!" Titah pimpinan mereka.


"Baik tuan!"

__ADS_1


"Yang lain ikut aku membututi ketiga pria itu. Hati-hati jangan sampai mencurigakan." Titah pimpinan mereka.


Terdapat sepuluh orang yang mengikuti pimpinan mereka membututi ketiga pria tadi.


***


"Bagaimana?" Tanya Bram saat orang-orangnya melepaskannya dari ikatan ketiga pria tadi.


"Ketua dan beberapa orang sedang membuntuti ketiga pria tadi." Jawab salah seorang pria itu.


Flashback on


Saat Bram hendak menuju hotel yang ditunjuk penculik. Bram berhenti sejenak di tempat janjiannya dengan ketua tim keamanan Alensio grup. Dia diberi tahu rencana mereka karena tak mendapatkan lokasi istri Bram berada. Meski mereka mengatakan Bram harus ke hotel, belum tentu istrinya ada di hotel.


Oleh sebab itu, atas saran Budi, ketua tim keamanan Alensio grup. Demi mendapatkan istrinya kembali, Bram menuruti keinginan Budi dengan membawa semacam alat penyadap yang ditempelkan ke salah satu tiga pria tadi entah pada siapapun pasti akan menuju tempat dimana istrinya berada jika di dalam hotel tidak ada.


Flashback off


"Ayo kita ikuti mereka!" Ucap Bram antusias.


"Tunggu tuan!" Cegah salah seorang dari mereka.


"Ada apa?" Tanya Bram berbalik menatap keduanya.


"Ketua meminta anda untuk menuju ke persidangan dan mempercayakan istri anda pada ketua. Percayalah! Anda harus menyelesaikan kasus itu jika perjuangan anda tidak ingin sia-sia." Jelas pria itu.


"Bagaimana dengan istriku?" Tanya Bram sendu.


"Ketua sudah menemukan lokasi dimana istri anda. Dan percayalah, ketua akan melakukan segala upaya untuk menyelamatkan istri anda meski nyawa menjadi taruhannya." Jelas pria lainnya dengan yakin.


Bram menatap keduanya bergantian berusaha meyakinkan dirinya untuk mempercayai ucapan mereka. Yang dikatakan keduanya benar, orang ini harus dijebloskan ke penjara terdalam biar membusuk sekalian. Kejahatannya terlalu besar dan serius. Inilah kesempatannya untuk menunjukkan pada khalayak ramai kalau pria yang dielu-elukan selama ini adalah seorang yang munafik.


Dan dia juga ingin siapa dalang dari penculikan istrinya. Apa rekan kerja yang dianggapnya sahabat itu terlibat atau tidak. Dia akan memaafkannya jika dia tidak terlibat dalam penculikan istrinya mengingat keduanya sudah bersahabat cukup lama. Namun dia akan membalas lebih buruk jika ternyata sahabatnya adalah dalang dari penculikan istrinya.


"Baiklah, aku percayakan pada ketua kalian. Kabari aku jika istriku sudah aman!" Jawab Bram akhirnya memberi kode dengan anggukan kepala dan tersenyum simpul.


Kedua pria itu ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya juga.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2