Pengorbanan Nayra

Pengorbanan Nayra
Melupakan Aisha


__ADS_3

Bi Surti merasa iba melihat Rama menangis. Karena baru kali ini Bi Surti melihat majikannya itu menangis. Dulu waktu Aisha meninggal sekalipun, Rama tidak pernah menangis di hadapan keluarganya.


Rama menyeka air matanya kemudian masuk ke kamar dan mengambil ponselnya. Rama mencoba menghubungi Nayra.


Tut.. Tut.. Tut... (menyambungkan)


Namun tidak ada jawaban dari Nayra. Rama mencoba sekali lagi. Tapi Nayra tetap tidak menjawab panggilannya. Rama frustasi. Dia pun melempar ponselnya ke atas tempat tidur kemudian menghampiri Bi Surti yang sejak tadi berdiri memperhatikannya di depan pintu.


"Bi Surti, kenapa tadi Bi Surti nggak mencegah Nayra pergi Bi?"


"Em.. Maafkan Bibi, Pak Rama. Bibi memang sengaja membiarkan Bu Nayra pergi"


"Tapi kenapa Bi?"


"Soalnya selama ini Bibi kasihan sama Bu Nayra Pak. Bu Nayra sudah banyak berkorban demi Pak Rama dan juga Non Kyara. Tapi Pak Rama nggak pernah sedikit pun menghargai pengorbanan Bu Nayra..."


"Bibi benar-benar kagum sama Bu Nayra Pak. Di saat gadis seusianya masih belajar dan bergaul bersama teman-temannya, Bu Nayra memilih mengorbankan masa mudanya dan menikah dengan Pak Rama demi memenuhi wasiat Bu Aisha..."


Rama terdiam mencerna kata-kata Bi Surti. Kemudian perempuan paruh baya itu pun melanjutkan kalimatnya.


"Walaupun Bu Aisha sudah meninggal, tapi selama ini Non Kyara tidak kurang kasih sayang seorang ibu, Pak. Bu Nayra sangat menyayangi Non Kyara dan menganggap Non Kyara seperti anak kandungnya sendiri..."


Rama mulai menangis lagi.


"Selama ini Bu Nayra juga berusaha menjadi istri yang baik untuk Pak Rama. Setiap hari Bu Nayra memasak makanan kesukaan Pak Rama. Dulu Bu Nayra pernah bertanya sama Bibi, apa saja makanan kesukaan Pak Rama. Dia pun belajar dari Bibi bagaimana cara membuatnya.."


Air mata Rama mengalir makin deras di kedua pipinya.


"Pak Rama, apa Pak Rama tau kalau setiap hari Bu Nayra selalu menunggu Pak Rama pulang?"


"Apa?? Tapi kenapa dia harus menungguku Bi? Kenapa dia nggak tidur saja di kamarnya? Kenapa dia malah tidur di meja makan?"


"Apa Pak Rama belum sadar juga kalau selama ini Bu Nayra sangat mencintai Pak Rama?"


"Apa?? Nayra mencintaiku??"


"Iya Pak Rama. Walaupun Bu Nayra nggak pernah bilang apa-apa sama Bibi. Tapi Bibi bisa melihatnya Pak. Bu Nayra sampai merubah penampilannya memakai hijab itu juga demi Pak Rama. Bu Nayra ingin terlihat seperti Bu Aisha karena Bu Nayra pikir Pak Rama suka perempuan yang berhijab"


Rama terkejut mendengar kata-kata Bi Surti. Rama tidak menyangka kalau ternyata selama ini Nayra sangat mencintainya. Rama juga tidak menyangka kalau ternyata selama ini ada seorang istri yang selalu menunggunya di rumah. Kenapa Rama baru sadar di saat Nayra sudah pergi meninggalkannya? Rama benar-benar bodoh.


"Pak Rama.. Orang yang sudah meninggal tidak akan pernah bisa hidup lagi Pak. Kalau Bibi boleh memberikan saran, lebih baik Pak Rama lupakan saja Bu Aisha. Dan lanjutkanlah hidup Pak Rama bersama Bu Nayra dan Non Kyara. Pak Rama nggak mau kan kehilangan perempuan sebaik Bu Nayra yang sudah mengorbankan hidupnya demi Pak Rama dan juga Non Kyara?"


Rama mencerna semua kata-kata yang diucapkan Bi Surti.


'Benar apa yang dikatakan Bi Surti. Aku sudah kehilangan Aisha. Aku nggak mau lagi kehilangan perempuan sebaik Nayra.. Mulai sekarang aku akan berusaha melupakan Aisha dan belajar mencintai Nayra...' gumam Rama dalam hati.


"Terima kasih Bi Surti. Bibi sudah menyadarkanku.."


Bi Surti tersenyum lega mendengar kata-kata Rama.


"Alhamdulillah ya Allah..." ucap Bi Surti seraya menengadahkan kedua tangannya.


***

__ADS_1


Seharian ini Kyara terus saja menangis dan mencari Nayra. Kyara juga tidak mau makan. Mbak Santi sampai kewalahan menghadapinya. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa.


"Mamaaa..." teriak Kyara sambil menangis.


"Mbak Santi Mama mana??"


"Mama kan lagi kuliah Non"


"Kenapa Mama nggak pulang pulang Mbak?"


"Bi Surti, tolong hubungi Pak Rama Bi! Dari tadi Non Kyara nangis terus nyariin Bu Nayra. Dia juga nggak mau makan"


"Iya Mbak"


Bi Surti bergegas menelpon Rama menggunakan telepon rumah.


Rama : "Hallo"


Surti : "Hallo Pak Rama. Pak, Non Kyara dari tadi nangis terus nyariin Bu Nayra Pak. Non Kyara juga nggak mau makan. Kami tidak tau lagi harus berbuat apa"


Rama : "Bilang saja kalau Nayra sedang kuliah Bi"


Surti : "Sudah Pak. Tapi Non Kyara terus saja nanyain Bu Nayra"


Rama : "Ya sudah Bi. Saya segera pulang"


Surti : "Terima kasih Pak"


Setengah jam kemudian, Rama sampai di rumah.


Kyara berlari menghampiri Rama. Rama pun langsung menggendongnya.


"Mama kan lagi kuliah sayang. Nanti juga pulang"


"Tapi kenapa lama sekali Pa? Kiya mau main sama Mama"


"Gimana kalau Kiya main sama Papa dulu sambil nunggu Mama pulang?"


Kyara pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Tapi Papa ganti baju dulu ya sayang ya. Kiya tunggu di sini dulu!"


"Iya Pa"


Rama pun menurunkan Kyara. Mbak Santi dan Bi Surti lega karena Kyara sudah berhenti menangis.


"Sambil nunggu Papa ganti baju, Non Kiya makan dulu ya Non"


Mbak Santi meletakkan sepiring makanan di depan Kyara. Kyara pun langsung meraih sendok dan menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Mbak Santi dan Bi Surti lega karena Kyara sudah mau makan.


***


Setelah puas bermain bersama Rama, Kyara pun mulai mengantuk.

__ADS_1


"Mbak Santi sepertinya Kyara sudah ngantuk. Tolong ajak dia tidur!" seru Rama.


"Baik Pak"


Mbak Santi pun menggendong Kyara dan membawanya masuk ke kamar.


Rama pun menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sampai di kamarnya, Rama menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rama teringat pada Nayra. Entah kenapa sejak semalam bayangan wajah Nayra selalu menghantui pikirannya.


Rama berdiri lalu mengambil ponselnya di atas meja. Dia mencoba menghubungi Nayra lagi.


Tut.. Tut.. Tut... (menyambungkan)


Namun tidak ada jawaban dari Nayra.


"Tolong angkat telponnya Nay!"


Rama pun mencoba sampai tiga kali tapi tetap saja Nayra tidak mau menjawabnya. Rama pun mengirim pesan whatsapp pada Nayra.


{ Nayra.. kenapa kamu nggak mau menjawab panggilanku Nay? Apa kamu masih marah sama aku? Aku minta maaf Nay... }


Nayra hanya membaca pesan itu tapi tidak membalasnya. Rama pun mengirim pesan lagi.


{ Kyara dari tadi nangis nyariin kamu Nay. Apa yang harus ku katakan padanya? }


Nayra tetap tidak membalasnya. Rama bingung. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa.


Rama menatap foto pernikahannya dengan Aisha yang tergantung di dinding kamarnya. Rama pun menurunkan foto itu kemudian mengeluarkan foto itu dari bingkainya. Setelah itu, Rama mengambil album foto pernikahannya dengan Aisha di lemari pakaiannya.


Rama membawa foto-foto itu ke belakang rumah. Rama duduk di sebuah kursi kayu sambil menatap foto itu untuk yang terakhir kalinya.


"Selamat tinggal Aisha..."


Rama pun membakar foto itu satu per satu. Rama bersungguh-sungguh ingin melupakan Aisha dan ingin membuka lembaran baru bersama Nayra.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG................


Jangan lupa LIKE, komentar, dan VOTE nya ya! Makasih.. ๐Ÿ™


__ADS_2