
Rama sontak membulatkan kedua matanya setelah membaca surat itu.
"Sofia, kamu HAMIL??"
"Iya Pak. Dan Anda adalah ayah dari bayi dalam kandungan saya ini"
"Apa??"
"Bagaimana mungkin?? Kamu jangan asal bicara Sofia!" seru Rama setengah berteriak.
"Tapi ini kenyataannya Pak, dan saya tidak asal bicara"
"Tidak mungkin! Saya tidak pernah sekalipun berhubungan denganmu. Bagaimana mungkin kalau saya adalah ayah dari bayi yang kamu kandung?"
"Mungkin Bapak tidak ingat kalau Bapak pernah memperkosa saya waktu di Singapur"
"Apa??" Rama syok mendengar ucapan Sofia.
"Apa yang kamu katakan Sofia? Kapan aku memperkosamu?"
"Saya mengatakan yang sebenarnya Pak. Apa Bapak ingat waktu pesta anniversary klien kita di Singapur?"
Rama memutar kembali ingatannya. Dia ingat malam itu dia dan semua staff yang lain diundang ke acara anniversary kliennya di sebuah restoran.
"Malam itu Bapak minum kan? Kemudian Bapak mabuk karena tidak terbiasa minum minuman keras. Saya yang membantu Bapak kembali ke apartemen.."
"Dan malam itu secara tidak sadar Bapak sudah menarik tangan saya kemudian memperkosa saya Pak. Waktu itu Bapak memanggil saya Nayra. Bapak mengira kalau saya adalah Nayra, istri Bapak.."
"Tidak mungkin" Rama menggeleng-gelengkan kan kepalanya.
"Awalnya saya berusaha melawan Pak, tapi karena tenaga Bapak jauh lebih besar, saya tidak berdaya Pak" Sofia mulai menitikkan air matanya.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Saya tidak mungkin melakukan hal serendah itu!" Rama meninggikan suaranya.
Brraakk!!
Rama berdiri kemudian menggebrak meja kerjanya dengan kedua telapak tangannya lalu menatap Sofia dengan tatapan penuh amarah.
Sofia terhenyak.
"Saya tidak mungkin memperkosa kamu! Kamu pasti bohong kan?" Rama menunjuk muka Sofia.
"Sa.. saya tidak bohong Pak. Buat apa saya membohongi Bapak untuk urusan seperti ini?" air mata Sofia pun meleleh di kedua pipinya.
"Tadinya saya ingin tutup mulut dan melupakan kejadian malam itu Pak. Karena saya tau Bapak tidak sengaja melakukannya. Dan saya juga tidak ingin merusak rumah tangga Bapak. Tapi sekarang saya hamil Pak. Jadi saya terpaksa memberi tahu Bapak karena saya tidak tau lagi harus berbuat apa" lanjut Sofia.
"Saya tetap tidak percaya dengan semua kata-katamu Sofia.."
"Sekarang keluar dari ruangan saya! Atau saya akan memecatmu!" seru Rama sambil menunjuk ke arah pintu.
"Apa? Bapak ingin memecat saya Pak? Kenapa Bapak tega melakukan ini sama saya Pak? Bapak sudah merenggut kesucian saya dan sekarang Bapak mau membuang saya begitu saja? Dimana rasa tanggung jawab Bapak?"
Rama mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya kian memuncak.
"Jadi apa mau kamu Sofia?"
"Saya mau Bapak bertanggung jawab dan menikahi saya. Kalau Bapak tidak mau bertanggung jawab, saya terpaksa akan menggugurkan bayi ini Pak. Dan saya tidak main-main dengan kata-kata saya"
Rama terkejut. Dia tidak tau lagi harus mengatakan apa dan harus berbuat apa. Pikirannya buntu.
__ADS_1
"Saya beri Bapak waktu sampai besok untuk memikirkannya. Permisi Pak" Sofia pun berlalu meninggalkan ruang kerja Rama sambil menghapus air matanya.
Rama terduduk lemas di kursi kerjanya. Dia meraup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Astaghfirullahaladziim.. ya Allah cobaan apa ini?"
Rama mencoba mengingat kembali kejadian malam itu.
"Malam itu aku nggak seharusnya minum minuman sialan itu.. Ya Allah kenapa aku sampai khilaf? Ampuni aku ya Allah.. Waktu itu aku terpaksa minum karena semua orang terus saja mendesakku. Itu baru pertama kalinya aku minum. Dan aku juga cuma minum sedikit. Kenapa aku bisa sampai mabuk dan nggak ingat apa-apa?"
"Waktu bangun tidur, tiba-tiba aku sudah ada di apartemen. Waktu itu Sofia bilang kalau dia yang sudah mengantarku pulang ke apartemen"
"Apa mungkin malam itu aku sudah memperkosa Sofia?? Tapi kenapa aku sama sekali nggak ingat apa-apa?"
Rama terus saja memikirkan hal itu sampai kepalanya pusing. Dia tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya di kantor. Tak lama kemudian dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sampai di rumah..
"Assalamu'alaikum" ucap Rama kepada semua orang yang ada di rumah.
Saat itu Pak Samsul, Bu Maya dan Nayra sedang menemani Kyara bermain di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam" sahut semuanya.
"Rama kenapa kamu sudah pulang?" tanya Bu Maya dengan heran. Pak Samsul dan Nayra juga sama herannya.
"Kepalaku pusing Ma"
Nayra pun berjalan menghampiri Rama.
"Kepala kamu pusing Mas? Sudah minum obat belum?" Nayra menyentuh kening Rama dengan telapak tangannya.
"Kalau gitu biar aku ambilin obat dulu ya Mas. Kamu istirahat saja di kamar"
"Em" Rama menganggukkan kepalanya kemudian naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Nayra bergegas mengambil obat sakit kepala di kotak P3K dan segelas air putih di dapur. Setelah itu dia bergegas membawanya ke kamar.
Rama sudah berbaring di atas tempat tidur dengan memejamkan matanya. Nayra pun menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
"Minum obatnya dulu Mas!"
Rama pun membuka matanya kemudian duduk dan meminum obat yang diberikan Nayra.
"Mas Rama pasti kecapean karena habis pulang dari luar negri. Apa mau aku pijitin?"
"Nggak usah sayang, aku cuma butuh istirahat"
"Baiklah. Istirahatlah! Aku keluar dulu ya"
Nayra berdiri dan hendak melangkah keluar. Tapi tiba-tiba saja Rama menarik tangan Nayra hingga Nayra jatuh terduduk lagi. Rama pun mendekap tubuh Nayra dengan erat. Nayra terkesiap.
"Kamu kenapa Mas?"
Rama hanya diam saja dan masih memeluk Nayra dengan erat. Nayra jadi khawatir.
"Apa ada masalah di kantor?"
"Bukan"
__ADS_1
"Lalu kenapa?"
"Sayang, aku sangat takut"
"Kamu takut apa Mas?"
"Aku takut kehilanganmu. Jangan pernah tinggalin aku ya!"
Nayra melepaskan pelukannya lalu menatap Rama dengan tajam.
"Kamu bicara apa sih Mas? Aku nggak ngerti"
Rama pun menggenggam kedua tangan Nayra.
"Sayang berjanjilah padaku! Apa pun yang terjadi kamu nggak akan pernah ninggalin aku!"
"Kamu kenapa sih Mas? Aku bener-bener nggak ngerti apa maksud kamu"
"Aku mohon berjanjilah!"
"Iya aku janji, aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Tapi ada apa sebenarnya Mas? Jangan membuatku takut!"
Rama menggeleng perlahan sambil memaksakan senyumnya.
"Nggak pa pa sayang. Aku cuma takut kalau suatu saat nanti kamu akan pergi ninggalin aku seperti waktu itu"
"Aku yang seharusnya takut Mas. Aku takut kalau kamu akan ninggalin aku karena sampai sekarang aku belum bisa hamil"
"Itu nggak akan pernah terjadi sayang. Sampai kapan pun aku nggak akan pernah ninggalin kamu, mau kamu bisa hamil atau enggak"
"Terima kasih Mas. Aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
Rama pun memeluk Nayra lagi kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG............................
Jangan lupa LIKE, komen dan VOTE yg banyak setelah membaca!! Agar aku semangat utk menulis eps selanjutnya.. makasii ππ
__ADS_1