
Nayra diam-diam mengirim pesan kepada Aditya dan memberitahunya kalau Alina akan pulang ke Bogor malam ini juga.
Setelah sholat maghrib, Aditya pun langsung tancap gas menuju rumah Rama. Aditya ingin meminta maaf kepada Alina sebelum Alina pergi.
Sampai di rumah Rama, Aditya melihat Mang Dudung sedang memasukkan koper Alina ke dalam bagasi mobil. Tak lama kemudian, Rama dan Alina keluar dari rumah disusul oleh Nayra yang menggendong Kyara, Mbak Santi dan juga Bi Surti.
Betapa terkejutnya Rama dan Alina saat melihat kedatangan Aditya. Aditya pun menghampiri mereka.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Rama dengan ketus.
"Aku ingin bicara sebentar sama Alina, Mas"
"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi! Pergi kamu dari sini!" seru Rama sambil menunjuk ke arah pintu gerbang.
"Alina, tolong kasih aku kesempatan untuk bicara sama kamu! Sebentar saja.." Aditya memohon kepada Alina.
"Baiklah. Kebetulan aku juga mau bicara sama kamu"
"Sebentar ya Kak!" ucap Alina kepada Rama. Rama pun menganggukkan kepala.
Alina mengajak Aditya ke taman di halaman rumah. Mereka berdua pun duduk di sebuah bangku panjang.
Mereka saling berdiam diri untuk beberapa saat. Lalu tiba-tiba saja Alina melepas cincin yang ada di jari manisnya. Alina pun meraih tangan Aditya lalu meletakkan cincin itu di telapak tangannya.
Aditya tersentak kaget.
"Cincin ini aku kembalikan sama kamu" kata Alina.
Aditya menatap cincin yang ada di tangannya kemudian menatap Alina.
"Maksud kamu, kamu memutuskan pertunangan kita?"
Mereka berdua saling bertatapan. Aditya tidak menyangka kalau Alina akan memutuskan pertunangan mereka.
"Bukankah kamu mencintai perempuan lain? Jadi lebih baik kita putus!"
"Aku nggak habis pikir Mas. Kenapa kamu bisa menyukai Nayra? Kakak iparku sendiri"
"Alina, sebenarnya ada hal yang belum kamu ketahui.."
"Aku dan Nayra.. dulu kami pernah pacaran sewaktu kami masih kuliah di Jogja"
"Apa??" Kali ini Alina yang tersentak kaget.
"Maaf kalau selama ini aku nggak pernah cerita sama kamu"
Aditya pun menceritakan semuanya kepada Alina tentang hubungannya dengan Nayra di masa lalu, sampai akhirnya Nayra meninggalkannya tanpa kabar lalu menikah dengan Rama.
Tanpa terasa Alina menitikkan air mata mendengar cerita Aditya. Tiba-tiba ada rasa iba menyelinap di hatinya.
"Alina, awalnya aku datang ke Jakarta hanya demi Nayra. Aku ingin memperjuangkan cintaku. Aku ingin merebutnya kembali dari tangan kakakmu. Tapi aku gagal.."
__ADS_1
Aditya tertunduk.
"Nayra lebih memilih kakakmu daripada aku. Dan aku pun pasrah dengan keputusannya. Aku ingin kembali ke Jogja tapi kakakmu menghalangiku. Dia bilang dia ingin membantuku menjadi arsitek yang hebat untuk membalas budi karena aku pernah menyelamatkan nyawanya.."
Aditya menghela nafas panjang lalu melanjutkan ceritanya. Alina mendengarkan dengan seksama.
"Lalu aku bertemu denganmu. Semakin hari aku merasa kalau kamu sudah jatuh cinta sama aku.."
"Lalu aku berfikir, kalau aku bisa menikah sama kamu, aku akan selalu ada di dekat Nayra walau aku tak bisa memilikinya"
"Apa?? Jadi selama ini kamu hanya memanfaatkan aku??"
"Maafkan aku Alina"
"Kenapa kamu begitu jahat sama aku Mas? Apa bagi kamu aku ini hanya sebuah boneka yang bisa kau permainan seenaknya saja? Aku ini juga manusia Mas. Aku punya hati dan juga perasaan. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku?"
"Aku minta maaf Alina"
Alina mengepalkan kedua tangannya lalu memukul pundak Aditya berkali-kali.
"Kamu tega Mas! Padahal aku sangat mencintai kamu. Kenapa kamu begitu jahat sama aku?"
"Pukul lah Alina, pukul sampai kamu puas! Aku memang pantas mendapatkannya"
"Mas, apa sampai sekarang kamu belum bisa melupakan Nayra? Apa tidak ada sedikit pun rasa cinta di hatimu untuk ku?"
Tidak ada jawaban dari Aditya.
"Tatap mataku Mas! Dan katakan kalau kamu cinta sama aku! Aku akan melupakan semuanya, dan kita bisa mulai lagi dari awal.."
"Alina maafkan aku. Selama ini aku sudah terlalu banyak menyakiti hatimu. Dan sekarang aku tidak mau menyakitimu lagi dengan terus membohongimu.."
"Alina, aku tidak pernah mencintaimu.. maafkan aku"
Tes
Tes
Bulir-bulir air mata pun berjatuhan membasahi kedua pipi Alina. Hatinya begitu sakit mendengar kata-kata Aditya. Kata-kata Aditya bagaikan pisau yang mengiris-iris hatinya.
Aditya merasa sangat bersalah. Hatinya begitu perih melihat air mata Alina. Dia ingin sekali memeluk gadis itu. Tapi diurungkannya.
"Menangislah sepuasnya Alina! Jika itu mampu mengurangi kesedihanmu.."
"Mas, selama ini aku selalu bermimpi. Kelak aku akan menikah sama kamu. Kita akan tinggal di rumah impian kamu. Dan kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita.."
"Tapi dalam sekejap kamu telah menghancurkan semua impianku dengan mengatakan kamu tidak pernah mencintaiku. Aku tidak pernah berfikir kalau ternyata cinta kamu itu palsu Mas.."
"Maafkan aku Alina. Aku memang bukan lelaki yang baik. Dan aku tidak pantas mendapatkan gadis sebaik dirimu.."
"Semoga kelak kamu mendapatkan laki-laki yang baik. Laki-laki yang tulus mencintai kamu dan bisa membuatmu bahagia. Sekali lagi maafkan aku. Selamat tinggal Alina.."
__ADS_1
Aditya pun berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan Alina sendirian di sana. Alina menatap kepergian Aditya dengan berlinang air mata.
Kemudian Aditya menghampiri Rama dan Nayra yang sejak tadi duduk di teras memperhatikan mereka.
"Aditya apa yang kau lakukan pada adik ku? Apa kamu belum puas menyakiti hatinya? Apa kamu sengaja mempermainkan adik ku untuk balas dendam sama aku karena aku telah mengambil Nayra dari kamu?"
Aditya tersentak kaget.
"Maaf Mas, tapi aku tidak sedikit pun menyimpan dendam sama kamu. Aku cuma ingin berada di dekat Nayra"
"Jadi benar sampai saat ini kamu masih mencintai istriku?"
Aditya terdiam.
"Aku minta maaf Mas. Maaf kalau selama ini aku sudah menyakiti kalian semua. Besok aku akan mengantar surat pengunduran diriku ke kantor. Dan aku akan menjauh dari kehidupan kalian untuk selama-lamanya"
"Mas Adit, apa yang kamu katakan? Lalu bagaimana dengan Alina?" tanya Nayra.
"Alina sudah memutuskan pertunangan kami Nay. Dia sudah mengembalikan cincin ini" Aditya menunjukkan cincin yang ada di tangannya.
"Apa??" Nayra terkejut mendengar ucapan Aditya.
"Aku pergi Nay, Mas Rama. Semoga kalian selalu bahagia. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Setelah Aditya pergi, Rama dan Nayra pun bergegas menghampiri Alina yang masih duduk di taman. Rama langsung memeluk adiknya yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Sabar Alina, kamu harus kuat. Mungkin Aditya bukan jodoh kamu. Kamu harus ikhlas melepaskannya.." Rama mengusap lembut punggung Alina.
Nayra tidak bisa menahan sebak di dadanya. Dia pun ikut menangis menyaksikan pemandangan yang ada di depan matanya saat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG....................
LIKE, komen dan VOTE yg banyak ya setelah membaca!! Tengkyu.. ๐