
"Jangan mimpi kamu Sofia!" seru Nayra dengan tegas.
"Sampai kapan pun Mas Rama nggak akan pernah menikahi kamu. Dan aku nggak akan pernah membiarkan kamu merusak rumah tangga kami" lanjut Nayra.
"Ada apa ini?" Pak Samsul menimpali percakapan mereka.
"Rama, Nayra, bisa tolong kalian jelaskan sama Mama apa yang sebenarnya terjadi? Siapa perempuan ini?" tanya Bu Maya.
"Om, Tante, perkenalkan saya Sofia, sekretaris Pak Rama. Dan sekarang saya sedang mengandung anak Pak Rama, cucu kalian"
Semua orang membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Sofia.
"Apa itu benar Rama?" tanya Bu Maya.
"Rama sebaiknya ajak perempuan ini ke ruang tengah, kita bicarakan masalah ini di sana. Jangan sampai para tamu undangan mendengarkan ini semua!" ucap Pak Samsul berbisik di telinga Rama.
"Baik Pa"
Rama pun menarik tangan Sofia menuju ruang tengah. Yang lain mengikuti. Para tamu undangan pun berbisik-bisik melihat seluruh anggota keluarga meninggalkan ruang pesta.
"Sekarang kalian jelaskan sama papa apa yang terjadi sebenarnya!" seru Pak Samsul setelah semuanya duduk.
Rama pun mulai bercerita. Semua mendengarkan dengan seksama.
"Ma, Pa, malam itu waktu di Singapur, aku dan staff yang lain diundang ke acara anniversarry klien kami. Waktu itu semua orang mendesakku untuk minum. Aku nggak enak menolak tawaran mereka dan aku terpaksa minum sedikit.."
"Setelah itu aku merasa kepalaku pusing dan aku nggak ingat apa-apa lagi. Mungkin aku pingsan" lanjut Rama.
"Bapak mabuk, dan aku yang sudah mengantar Bapak kembali ke apartemen Bapak" Sofia menimpali.
"Dan malam itu.. secara tidak sadar Bapak telah menarik tangan saya dan meniduri saya. Waktu itu Bapak memanggil saya Nayra karena Bapak mengira saya ini istri Bapak. Dan saya tidak berdaya melawan, karena kekuatan Bapak lebih besar" lanjut Sofia seraya menitikkan air matanya.
"Rama, apa kamu benar-benar tidak ingat kejadian itu?" tanya Pak Samsul.
"Rama benar-benar nggak ingat Pa. Sumpah. Rama nggak ingat apa-apa. Mungkin saja dia hanya mengarang cerita Pa"
"Apa? Mengarang cerita? Bukankah waktu itu saya sudah menunjukkan bukti sama Bapak dan Nayra"
"Bukti apa?" tanya Bu Maya.
Sofia pun mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Bu Maya.
"Lihat ini Tante!"
Bu Maya syok saat melihat foto itu. Dia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya. Kedua matanya terbelalak.
__ADS_1
Pak Samsul, Alina dan Aditya pun berhambur melihat foto tersebut. Seketika mata mereka pun terbelalak.
"Rama apa ini?" tanya Bu Maya.
"Foto itu mungkin sudah direkayasa oleh Sofia Ma"
"Nayra, apa kamu sudah melihat foto ini?" tanya Aditya karena melihat Nayra hanya diam saja.
"Sudah Mas"
"Dan kamu nggak sakit hati melihat foto ini?" tanya Aditya dengan begitu heran.
"Awalnya aku memang sakit hati Mas, tapi setelah itu aku sadar kalau itu mungkin cuma rekayasa Sofia yang ingin menghancurkan rumah tanggaku"
"Tapi itu bukan rekayasa, foto itu nyata. Saya mengambil foto itu untuk antisipasi jika suatu saat nanti saya hamil, saya akan menunjukkan foto itu sebagai bukti kalau Pak Rama sudah meniduri saya malam itu" sahut Sofia.
"Om, Tante, anak yang saya kandung ini adalah anak Pak Rama, cucu kalian. Kemarin saya sudah melakukan tes DNA dan hasilnya akan keluar dua minggu lagi. Jika terbukti ini anak Pak Rama, saya mohon kepada Om dan Tante untuk membujuk Pak Rama agar bertanggung jawab dan menikahi saya!" lanjut Sofia.
"Enggak! Saya nggak akan pernah menikahi kamu Sofia! Sekarang kamu pergi dari sini!" seru Rama seraya mengarahkan jarinya ke arah pintu keluar.
Sofia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya memohon belas kasihan dari Pak Samsul dan Bu Maya.
"Om, Tante, tolong kasihanilah saya! Saya nggak sanggup jika harus membesarkan anak ini seorang diri. Pak Rama sudah memecat saya dari kantor. Saya tidak punya penghasilan lagi. Saya juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Om, Tante, tolong bujuk Pak Rama untuk menikahi saya!" ucap Sofia dengan muka memelas.
Pak Samsul dan Bu Maya saling berpandangan.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Nayra.
"Apa maksud kamu sayang?" tanya Rama.
"Mas, jika nanti terbukti anak itu adalah anak kamu, kita akan bertanggung jawab. Kita akan menafkahi anak itu. Kalau perlu kita yang akan merawat dan membesarkannya tanpa harus menikahi ibunya"
"Apa?? Enggak. Saya nggak mau. Pak Rama tetap harus menikahi saya!" sahut Sofia.
"Enggak Sofia. Sampai kapan pun aku nggak rela membagi suamiku dengan perempuan lain, apalagi perempuan murahan seperti kamu!" ucap Nayra dengan lantang.
"Sudah sudah.. kalian jangan bertengkar lagi! Sebaiknya kita tunggu saja hasil tes DNA-nya. Jika kita sudah tau hasilnya, baru kita akan tentukan langkah selanjutnya" Pak Samsul berusaha menengahi.
"Sekarang kita semua kembali ke pesta, tamu-tamu pasti sudah menunggu kita" lanjut Pak Samsul.
Mereka semua pun kembali ke ruang pesta. Sofia pulang dengan kecewa karena tidak mendapatkan dukungan dari siapa pun. Awalnya dia berharap kalau Pak Samsul dan Bu Maya akan mengasihaninya dan mendukungnya.
***
Setelah acara selesai, Aditya dan kedua orang tuanya pamit pulang ke Jakarta. Sementara Rama, Nayra dan Kyara menginap di rumah Pak Samsul.
__ADS_1
Malam itu, mereka berbincang-bincang di ruang keluarga mengenai masalah tadi.
"Rama kenapa kamu sampai menyentuh alkohol?" tanya Pak Samsul dengan heran.
"Rama khilaf Pa. Rama memang bodoh. Nggak seharusnya Rama menyentuh minuman haram itu"
"Sekarang lihat akibatnya! Kasihan istri kamu, Nayra"
"Sabar ya Kak!" Alina mengusap lembut punggung Nayra.
"Iya Alina"
"Nayra, walaupun Mama sangat menginginkan cucu, tapi Mama nggak mau cucu dari perempuan itu. Mama hanya mau cucu dari kamu dan Rama" ucap Bu Maya.
"Maaf Ma, karena sampai sekarang Nayra belum bisa memberi Mama cucu"
"Nggak pa pa sayang, Mama akan sabar menunggu. Semoga saja anak yang dikandung perempuan itu bukanlah anak Rama"
"Aamiin. Nayra juga berharap demikian Ma. Tapi kalau seandainya anak itu anak Mas Rama, Nayra akan ikhlas menerimanya Ma. Nayra akan merawat dan menyayangi anak itu seperti Nayra merawat dan menyayangi Kyara"
Semua orang begitu terharu mendengar ucapan Nayra. Bola mata mereka mulai berair.
"Sayang, sebenarnya hati kamu ini terbuat dari apa? Kenapa kamu selalu saja berkorban demi orang lain tanpa memikirkan kebahagiaanmu sendiri?" tanya Rama dengan mata yang berkaca-kaca.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...............
__ADS_1
LIKE dan VOTE yg banyak ya setelah membaca!! Makasii.. ππ