
Alina berlari sekencang-kencangnya. Alina tau kalau Aditya mengejarnya. Dia pun bersembunyi di balik semak-semak hingga Aditya tidak bisa menemukannya. Begitu Aditya kembali ke kontrakannya, Alina pun melangkah pergi.
Alina berjalan tak tentu arah dan tujuan. Bulir-bulir air mata mengalir deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak. Hatinya begitu sakit.
'Tuhan.. baru kali ini aku mencintai seseorang dengan sepenuh hatiku. Tapi kenapa dia malah menyimpan foto perempuan lain di saat kami sudah bertunangan? Aku benar-benar kecewa sama kamu Mas..' gumamnya dalam hati.
Alina mengangkat tangan kanannya dan melihat cincin yang melekat di jari manisnya. Cincin pertunangannya dengan Aditya. Dan Alina semakin menangis. Dia pun duduk di sebuah bangku di tepi jalan lalu menangis sepuasnya di sana.
Siang itu langit terlihat begitu mendung semendung hatinya kala itu. Lalu tiba-tiba saja ada titik-titik air yang jatuh dari langit. Alina masih diam tak bergerak.
'Mungkin air hujan mampu menyembunyikan air mataku.. dengan begini orang lain tidak akan tau kalau aku sedang menangis...'
Hujan turun semakin deras. Alina masih tak bergeming. Alina membiarkan seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup terkena air hujan.
Di sisi lain, Aditya begitu cemas mencari Alina kesana-kemari menaiki motornya. Aditya semakin cemas saat hujan mulai turun tapi dia belum juga menemukan Alina.
'Alina sebenarnya kamu dimana?' pertanyaan itu yang selalu muncul di kepalanya saat itu.
Aditya menepikan motornya saat hujan turun semakin deras. Dia pun berteduh di emperan toko karena dia tidak membawa jas hujan.
'Ya Allah.. lindungilah Alina di mana pun dia berada. Berilah aku petunjuk agar aku segera menemukannya..' gumam Aditya dalam hati.
***
Nayra mencoba menghubungi Alina berulang kali tapi ponsel Alina masih belum aktif. Nayra begitu mencemaskan Alina. Dia pun menghubungi Rama yang sedang berusaha mencari Alina.
Nayra : "Mas, gimana? Ada kabar?"
Rama : "Belum sayang. Aku belum menemukan Alina"
Nayra : "Ya Allah dimana Alina? Hujannya begitu deras Mas, aku sangat mengkhawatirkan Alina"
Rama : "Kita berdoa saja sayang, mudah-mudahan Alina baik-baik saja"
Nayra : "Aamiin. Kabari aku secepatnya Mas, kalau kamu sudah menemukan Alina"
Rama : "Iya sayang"
__ADS_1
Setelah cukup lama mencari, tiba-tiba saja Rama melihat ada seorang gadis yang sedang duduk di sebuah bangku di tepi jalan. Gadis itu terlihat seperti Alina dari pakaian yang dikenakannya. Rama pun menepikan mobilnya kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Alina.." pekik Rama setelah yakin kalau itu memang Alina.
Rama segera keluar dari mobilnya dan menghampiri Alina.
"Kak Rama" sahut Alina lirih.
Bibir Alina terlihat sangat pucat. Tubuhnya menggigil kedinginan.
"Kamu ngapain hujan-hujanan di sini Alina? Kakak dari tadi panik nyariin kamu. Ayo kita pulang!"
Rama menarik tangan Alina dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah itu Rama menghubungi Nayra dan memberitahunya kalau dia sudah berhasil menemukan Alina. Nayra merasa lega dan mengucap syukur kepada yang Maha Kuasa.
Sampai di rumah hujan sudah reda. Rama dan Alina pun turun dari mobil. Nayra sudah menunggu mereka di teras rumah.
"Alina.. alhamdulillah kamu baik-baik saja. Aku sangat mencemaskanmu" ucap Nayra menghampiri Alina.
Tapi Alina tidak mempedulikan Nayra. Dia melewati Nayra begitu saja kemudian masuk ke dalam rumah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Nayra jadi serba salah.
"Mas, Alina kenapa? Apa dia marah sama aku?" tanya Nayra kepada Rama.
"Aku jadi merasa bersalah Mas. Ini semua gara-gara aku"
"Sssssttt..." Rama meletakkan telunjuknya di bibir.
"Jangan bicara seperti itu. Ini bukan salahmu, tapi Aditya. Aku tidak akan pernah memaafkan Aditya!"
***
Tok.. Tok.. Tok..
Rama mengetok pintu kamar Alina yang terkunci.
"Alina, buka pintunya! Kakak mau bicara sama kamu" seru Rama.
Namun tidak ada sahutan. Dan Alina juga tidak membukakan pintu. Rama mencoba berulang kali tapi tetap tidak ada sahutan.
__ADS_1
"Mas, aku takut terjadi sesuatu pada Alina" kata Nayra dengan cemas.
"Kamu panggil Mang Dudung, sayang! Kita akan mendobrak pintunya"
"Iya Mas"
Rama dan Mang Dudung pun mendobrak pintu kamar Alina. Saat pintu terbuka, betapa kagetnya mereka saat melihat Alina tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.
"Astaghfirullahaladzim.. Alina" pekik Nayra.
Alina terlihat begitu pucat. Badannya juga panas sekali.
"Mang Dudung cepat siapkan mobil! Kita bawa Alina ke rumah sakit!" seru Rama dengan panik.
"Baik Pak Rama"
Rama pun mengangkat tubuh Alina dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....................
LIKE, komen dan Vote yg banyak setelah membaca!! Makacii.. ๐