Pengorbanan Nayra

Pengorbanan Nayra
Alina...


__ADS_3

Kriiinggg... Kriiiinggg...


Ponsel Rama berbunyi nyaring. Waktu itu Rama sedang duduk di ruang kerjanya sambil menghadap laptopnya. Rama pun meraih ponselnya yang ia letakkan di sebelah laptopnya. Ada seringai manis di bibirnya setelah tau siapa yang menelfonnya. Dia pun segera menggeser tombolnya dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.


Rama : "Assalamu'alaikum Alina. Tumben kamu telfon kakak. Ada apa?"


Alina : "Wa'alaikumsalam. Aku kangen sama kakak, sama kakak ipar dan juga keponakanku yang paling cantik"


Rama : "Kalau kangen datanglah ke sini! Besok kan hari Minggu. Kakak juga kangen sama kamu"


Alina : "Rencananya nanti sore aku mau ke sana kak. Kebetulan hari Senin aku juga nggak ada kuliah. Tapi Mama sama Papa nggak bisa ikut. Besok mereka mau pergi kondangan"


Rama : "Kamu pergi aja sendiri! Kamu kan udah gede.. masak kemana-mana harus sama Mama Papa"


Alina : "Ya udah kak, nanti aku ke sana ya! Kakak mau dibawain apa?"


Rama : "Nggak usah repot-repot Alina. Kamu datang ke sini aja kakak udah seneng. Tapi kamu hati-hati ya! Jangan ngebut-ngebut"


Alina : "Okey kak. See you. Assalamu'alaikum"


Rama : "Wa'alaikumsalam"


Rama meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Tiba-tiba saja dia mencium aroma white coffee yang menusuk hidungnya. Tak lama kemudian Nayra pun muncul sambil membawa nampan di tangannya.


"Mas aku bikinin white coffee kesukaan kamu. Sama aku tadi habis bikin kue brownies. Ini baru matang. Kamu cicipin ya, enak apa enggak?" Nayra meletakkan nampan tersebut di atas meja kerja Rama.


"Makasih sayang"


Rama pun mengambil satu potong kue kemudian menggigitnya sedikit.


"Emmm.. kue buatan istriku memang selalu enak" Rama pun menghabiskan satu potong kue tersebut.


Senyum Nayra mengembang tiap kali Rama memujinya. Istri mana yang tidak bahagia jika mendapat pujian dari suaminya.


"Kamu emang jago bikin kue sayang. Sama seperti Aisha"


Mendengar Rama menyebut nama Aisha, senyuman di bibir Nayra tiba-tiba sirna. Rama pun segera menyadarinya.


"Maaf sayang, aku nggak bermaksud.."


"Nggak pa pa Mas. Hanya saja aku jadi teringat sama Mbak Aisha. Dulu kami sering bikin kue sama-sama" Bola mata Nayra mulai berair.


Rama berdiri dari duduknya lalu mendekati Nayra kemudian menenggelamkan kepala Nayra ke dalam pelukannya.


"Sabar sayang.. Aku tau kamu pasti sangat kehilangan sosok seorang kakak yang sejak kecil selalu bersamamu" Rama mengecup kepala Nayra perlahan.

__ADS_1


Pelukan Rama membuat Nayra merasa lebih baik.


"Tapi kamu masih punya seorang adik perempuan, Alina adik kamu juga. Kebetulan dia baru saja menelfonku. Katanya nanti dia mau ke sini"


"Oya? Sama mama papa juga?"


Nayra senang mendengar Alina mau datang berkunjung. Dia pun menghapus air matanya.


"Enggak. Mama sama Papa nggak bisa ikut. Katanya besok mereka mau pergi kondangan"


"Oohh.. Ya udah nanti aku sisain kue brownies nya buat Alina. Aku juga kangen banget sama dia. Udah lama aku nggak ngobrol sama dia"


***


Di tempat lain..


Sore itu, Alina berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk berangkat ke rumah kakaknya, Rama. Pak Samsul dan Bu Maya mengantar Alina sampai di depan rumah.


"Ma, Pa, Alin berangkat dulu ya! Assalamu'alaikum" Alina mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya sayang. Sampaikan salam kami untuk Rama dan Nayra"


"Iya Ma, Pa. Insya Allah nanti Alin sampaikan"


Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja mesin mobilnya berhenti dengan sendirinya. Padahal rumah Rama sudah lumayan dekat.


"Astaghfirullahaladzim.. ada apa dengan mobilku? Kenapa pake acara mogok segala?" Alina terlihat kesal. Kemudian dia berusaha menghidupkan ulang mesinnya tapi tidak bisa. Dia mencoba berulang kali tapi hasilnya tetap sama.


Lalu Alina keluar dari mobil. Alina meliarkan pandangannya untuk mencari sebuah bengkel.


"Ya Allah.. kenapa nggak ada bengkel di sekitar sini" Alina terlihat putus asa. Dia merasa takut karena hari sudah sangat sore dan sebentar lagi akan malam.


Lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menaiki sebuah motor Ninja warna merah menghentikan motornya tepat di depan mobil Alina. Laki-laki itu pun melepas helmnya kemudian turun dari motornya. Alina terpana melihat laki-laki yang ada di depan matanya saat itu. Laki-laki itu pun berjalan mendekatinya. Jantung Alina mulai berdebar-debar.


"Maaf Mbak, kalau boleh tau kenapa mobilnya?"


Alina masih diam tak bergeming. Dia seolah terhipnotis oleh ketampanan laki-laki yang ada di depan matanya saat itu.


"Maaf apa ada yang bisa saya bantu?" Karena Alina hanya diam saja, laki-laki itu pun bertanya lagi.


"Emh.. mobil saya mogok Mas" sahut Alina begitu tersadar dari lamunannya.


"Boleh saya periksa?" tanya laki-laki itu lagi.


"I.. iya silahkan"

__ADS_1


Laki-laki itu pun membuka bagian depan mobil Alina kemudian memeriksa kerusakannya. Alina masih memperhatikan laki-laki itu tanpa berkedip.


'Ya Allah.. Dia ganteng bangeett' gumamnya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


Setelah selesai memperbaiki kerusakannya, laki-laki itu pun menutup kembali bagian depan mobil Alina.


"Sudah saya perbaiki Mbak. Silahkan dicoba!"


"Iya Mas"


Alina bergegas masuk ke dalam mobilnya kemudian mencoba menghidupkan mesinnya.


"Alhamdulillah.." Alina tersenyum senang karena mobilnya sudah bisa menyala. Dia pun turun lagi dari mobilnya untuk mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.


"Makasih banyak Mas atas bantuannya" ucap Alina sambil mengukir senyuman manis di bibirnya.


"Sama-sama Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Laki-laki itu pun memakai helm lalu menaiki motornya dan langsung tancap gas meninggalkan Alina. Alina masih tersenyum sambil menatap kepergian laki-laki itu sampai dia hilang dari pandangannya. Kemudian Alina masuk kembali ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.....................


Jangan lupa LIKE, komen dan VOTE nya ya! Makasii.. ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2