Pengorbanan Nayra

Pengorbanan Nayra
Terbongkar


__ADS_3

Dua Minggu kemudian...


Hasil tes DNA sudah keluar. Dokter baru saja menghubungi Rama dan menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit. Rama pun segera menemui Nayra di meja kerjanya. Sudah dua Minggu ini, Nayra bekerja sebagai sekretaris pribadi Rama di kantornya.


"Sayang, hasil tes DNA-nya sudah keluar. Dokter baru saja menghubungiku. Apa kamu mau ikut aku ke rumah sakit?"


"Tentu saja Mas"


Nayra pun segera mematikan laptopnya lalu ikut Rama ke rumah sakit. Mereka juga mengajak Alina dan juga Aditya.


Rama mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.


"Sayang, cepat kamu hubungi Mama sama Papa!"


"Iya Mas"


Sejak kemarin Pak Samsul dan Bu Maya menginap di rumah Rama. Mereka ingin mengetahui hasil tes DNA itu secara langsung.


Nayra pun mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu segera menghubungi Bu Maya.


Tut.. Tut.. Tut...


Bu Maya : "Assalamu'alaikum Nayra"


Nayra : "Wa'alaikumsalam. Ma, hasil tes DNA-nya sudah keluar. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit"


Bu Maya : "Okey Nayra. Mama sama Papa ke rumah sakit sekarang. Tunggu kami ya!"


Nayra : "Okey Ma, assalamu'alaikum"


Bu Maya : "Wa'alaikumsalam"


Setengah jam kemudian, Rama dan yang lainnya pun sampai di rumah sakit. Mereka turun dari mobil lalu menunggu Pak Samsul dan Bu Maya di depan rumah sakit.


Tak lama kemudian, Pak Samsul dan Bu Maya tiba di rumah sakit. Mereka pun turun dari mobil kemudian menghampiri Rama dan yang lainnya. Setelah itu mereka semua bergegas masuk ke rumah sakit menemui dokter.


Sampai di ruangan dokter mereka terkejut karena Sofia sudah ada di sana.


"Selamat datang semuanya.." ucap Sofia seraya menepiskan senyumnya.


Semua orang merasa jengkel melihat Sofia.


"Dokter, karena semuanya sudah berkumpul, tolong segera bacakan hasil tes DNA-nya!" seru Rama.


"Baik Pak"


Dokter pun segera membuka amplopnya dan membacakan hasilnya.


"Menurut hasil pemeriksaan laboratorium, DNA bayi yang ada dalam kandungan Ibu Sofia dan DNA Bapak Rama.." Dokter sengaja menggantung kalimatnya.


Dokter melihat ketegangan di wajah semua orang, kecuali Sofia. Sofia terlihat biasa-biasa saja. Senyuman tidak lepas dari bibirnya.


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Pak Samsul karena sudah tidak sabar lagi.


Dokter pun melanjutkan kalimatnya.


"Hasilnya TIDAK COCOK. Bayi itu bukan anak kandung Bapak Rama" ucap Dokter sambil tersenyum.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah.."


Nayra pun langsung memeluk Rama saking bahagianya.


"Mas, Allah sudah mengabulkan doa-doa kita"


"Iya sayang.. alhamdulillah"


Semua orang tersenyum senang kecuali Sofia. Senyuman di bibir Sofia mendadak sirna.


"Apa?? Tidak cocok?? Bagaimana mungkin?" Sofia seolah tidak percaya.


Dia pun mengambil hasil tes DNA itu dari tangan dokter kemudian membacanya.


"Enggak. Ini pasti salah. Kenapa hasilnya tidak cocok?" tanya Sofia kepada dokter.


Dokter pun tersenyum.


"Maaf Ibu Sofia, itulah hasil yang sebenarnya.. Anda harus terima kenyataan"


Lalu dokter mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam tasnya lalu meletakkannya di atas meja.


"Ibu Sofia, maaf saya tidak bisa menerima uang Anda.."


Semua orang terkejut mendengar ucapan dokter, termasuk Sofia. Dia tidak menyangka kalau dokter akan membongkar kedoknya di hadapan semua orang.


"Bapak Rama, Anda harus tau soal ini. Waktu itu Ibu Sofia mendatangi saya dan meminta saya untuk merubah hasil tes DNA-nya dengan imbalan sejumlah uang"


Rama menatap Sofia dengan tajam.


"Bohong! Dokter ini bohong! Kalian jangan percaya kata-katanya!" Sofia berusaha membela diri.


"Maaf Sofia, tapi kami lebih percaya sama Dokter daripada sama kamu!" imbuh Nayra.


"Mas Rama, kita laporkan saja perempuan licik ini ke pihak yang berwajib! Aku sudah menduga kalau Sofia pasti akan melakukan semua ini" seru Aditya.


Sofia membulatkan kedua matanya.


"Iya Kak, laporkan saja dia ke polisi!" imbuh Alina.


"Jangan!" Sofia menggelengkan kepala.


"Pak Rama, saya bersedia menjadi saksi. Dan uang ini akan menjadi barang bukti" sahut Dokter sambil menunjuk amplop coklat itu.


"Jangan! Aku mohon jangan lapor polisi!"


Tiba-tiba saja Sofia bersimpuh di kaki Rama. Semua orang terkejut melihatnya.


"Pak Rama, tolong maafkan saya Pak! Jangan laporkan saya ke polisi! Saya mengaku salah. Tolong kasihani saya Pak! Saya sedang mengandung" ucap Sofia seraya menitikkan air matanya.


"Lalu anak siapa itu Sofia?" tanya Rama.


"Anak ini memang bukan anak Bapak. Kalian tidak perlu tau anak siapa ini. Saya malu.." sahut Sofia sambil terisak.


"Jadi kejadian malam itu di Singapur cuma rekayasa kamu?" tanya Rama.


"Saya akan menceritakan semuanya. Tapi tolong ampuni saya Pak! Berjanjilah kalau Bapak tidak akan melaporkan saya ke polisi!"

__ADS_1


Rama menatap ke arah Nayra seolah meminta persetujuan. Nayra pun menganggukkan kepala tanda setuju.


"Baiklah aku tidak akan lapor polisi. Sekarang ceritakan yang sebenarnya!"


Sofia pun mulai bercerita.


"Waktu di Singapur saya mengetahui kalau saya hamil. Saya bingung karena orang yang sudah menghamili saya telah kabur meninggalkan saya. Akhirnya malam itu saya berfikir untuk memanfaatkan situasi sewaktu Bapak mabuk.."


"Malam itu saya mengantar Bapak kembali ke apartemen Bapak. Begitu sampai di apartemen, Bapak langsung tertidur. Bapak tidak menyentuh saya sedikit pun" lanjut Sofia.


"Lalu bagaimana dengan foto itu?" tanya Rama.


"Foto itu cuma rekayasa saya Pak. Waktu itu saya melepas baju Bapak dan juga baju saya. Dan saya membuat seolah-olah kita sedang tidur bersama. Saya benar-benar minta maaf Pak!"


"Sofia, aku betul-betul tidak menyangka kamu bisa melakukan hal serendah itu. Padahal selama ini aku sangat mempercayaimu sebagai sekretarisku selama bertahun-tahun. Aku betul-betul kecewa sama kamu Sofia. Kamu sudah menghancurkan kepercayaanku"


"Maafkan saya Pak!"


"Sekarang aku minta kamu pergi jauh-jauh dari kehidupan kami! Jika kamu masih berusaha merusak rumah tanggaku lagi, aku tidak segan-segan akan menjebloskanmu ke dalam penjara!"


"Baik Pak, saya akan pergi"


Kini semua orang tau kebusukan Sofia. Untung saja dokter tidak mau menerima uang suap dari Sofia dan malah membongkar kedok Sofia di depan semua orang.


"Dokter, terima kasih banyak atas semuanya" ucap Rama dan keluarga.


"Sama-sama Pak, Bu, saya hanya menjalankan tugas saya. Saya tidak mau melanggar sumpah saya sebagai seorang dokter"


Nayra merasa lega. Tidak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Allah SWT.


'Alhamdulillah ya Allah.. Engkau sudah membuktikan kebenarannya. Ternyata suamiku adalah suami yang setia. Terima kasih Engkau telah memberiku seorang suami seperti Mas Rama'


'Mbak Aisha.. terima kasih Mbak, kamu sudah memperingatkanku untuk tetap mempertahankan keutuhan rumah tanggaku' gumam Nayra dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.........................


LIKE, komen, dan VOTE yg banyak ya setelah membaca!! Terima kasii.. ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2