
Aku akan menunggumu..
Seumpama hujan
yang menunggu jatuh
di atas tanah-tanah kering...
Aditya_
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Aditya mengambil kotak cincin di dalam almarinya. Lalu dia pun membuka kotak itu. Aditya menatap cincin yang dulu pernah dia sarungkan di jari manis Alina waktu mereka bertunangan.
'Aku nggak tau apa cincin ini nantinya bisa aku sarungkan lagi di jari manismu, Alina'
Aditya menyimpan kembali kotak cincin itu di almarinya. Lalu dia pun mengambil gitar dan buku lagunya kemudian keluar menuju teras rumah. Aditya duduk di teras sambil memangku gitarnya.
Aditya pun membuka buku lagunya. Ada selembar foto Alina yang terselip di dalam buku itu. Bukan foto Nayra lagi, karena Aditya sudah membakar semua kenangannya bersama Nayra. Kini hanya ada satu nama di hatinya, yaitu ALINA.
Jreng.. jreng.. jreng...
Aditya mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul 'Menunggumu Kamu' sambil menatap foto Alina.
๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ
'Ku selalu mencoba untuk menguatkan hati
Dari kamu yang belum juga kembali
Ada satu keyakinan yang membuatku bertahan
Penantian ini 'kan terbayar pasti
Lihat aku, sayang, yang sudah berjuang
Menunggumu datang, menjemputmu pulang
Ingat selalu, sayang, hatiku kau genggam
Aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini
Tetap di sini....
Jika bukan kepadamu aku tidak tahu lagi
Pada siapa rindu ini 'kan kuberi
Pada siapa rindu ini 'kan kuberi, oh
Lihat aku, sayang, yang sudah berjuang
Menunggumu datang, menjemputmu pulang
Ingat selalu, sayang, hatiku kau genggam
Aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini
Di sini....
Lihat aku, sayang, sudah berjuang
Menunggumu datang, menjemputmu pulang
Ingat selalu, sayang, hatiku kau genggam
__ADS_1
Aku tak 'kan pergi
Aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini....
๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ๐ผ๐ถ
'Sudah dua tahun Alina.. Aku masih di sini untuk menunggumu. Aku nggak tau sampai kapan aku harus menunggu..'
'Aku nggak tau apa cintamu masih hanya untuk ku? Atau kamu telah menemukan pengganti diriku?' gumam Aditya dalam hati.
***
Di tempat lain..
"Alina, Mas Adit sudah berhasil membangun rumah impiannya lho. Apa kamu mau lihat?" tanya Nayra.
"Emh.. Kak Rama, boleh aku pinjam majalahnya?"
Rama pun memberikan majalah itu kepada Alina. Kemudian Alina pun membaca majalah itu dengan seksama.
'Alhamdulillah.. kamu sudah berhasil membangun rumah impian kamu Mas. Rumah yang sangat indah..'
'Dulu aku pernah bermimpi, suatu saat nanti kita akan tinggal di rumah ini bersama anak-anak kita. Namun.. dalam sekejap saja kamu sudah menghancurkan senua impianku itu Mas' gumam Alina dalam hati.
"Alina, apa kamu masih punya perasaan sama Aditya?" tanya Rama tiba-tiba.
Alina tersentak mendengar pertanyaan kakaknya. Alina tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya selama dua tahun ini, tidak ada satu hari pun yang ia lewati tanpa memikirkan Aditya. Tapi Alina tidak mau kecewa untuk yang kedua kalinya. Dia merasa trauma.
Alina pun perlahan menggelengkan kepalanya.
"Baguslah kalau begitu. Orang seperti Aditya itu nggak pantas buat kamu. Kamu harus mendapatkan laki-laki yang benar-benar tulus mencintai kamu" imbuh Rama.
"Iya Kak"
"Bagaimana kalau sampai sekarang Mas Adit masih menunggumu Alina? Apa kamu nggak mau ngasih dia kesempatan kedua?"
"Sayang, sudahlah! Jangan paksa Alina lagi!" seru Rama.
"Tapi Mas, aku yakin kalau mereka berdua itu masih saling mencintai"
"Alina, ayo kita makan siang! Pasti kamu sudah lapar kan? Tadi kakak ipar kamu masak makanan kesukaan kamu" Rama mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Emh.. iya Kak" Alina pun mengikuti Rama menuju meja makan.
Nayra sangat kesal dengan sikap Rama. Tapi Nayra tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mendoakan agar kelak Alina bisa kembali bersama Aditya lagi.
***
Keesokan harinya di Bogor..
"Good morning Ma, Pa" ucap Alina sambil berjalan menuju meja makan.
"Good morning" sahut Bu Maya dan Pak Samsul.
"Ayo Alina, kita sarapan sama-sama! Sudah lama sekali kita nggak sarapan sama-sama" imbuh Pak Samsul.
"Iya Pa"
Alina pun menempati kursinya lalu mulai mengambil makanan. Mereka pun sarapan sambil berbincang-bincang.
"Alina, apa kamu hari ini ada acara?" tanya Bu Maya.
"Nggak ada Ma. Memangnya kenapa?"
"Baguslah kalau begitu. Soalnya siang ini teman Mama mau datang ke sini. Dia mau ketemu sama kamu"
__ADS_1
"Teman Mama yang mana? Terus kenapa dia mau ketemu sama Alin, Ma?"
"Nanti kamu juga akan tau sayang. Nanti kamu dandan yang cantik ya!"
Alina semakin bingung. Tapi dia tidak mau bertanya lebih lanjut lagi. Dia hanya bisa menuruti keinginan mamanya.
SIANG ITU
Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Ibu Ayu, teman sekolahnya Bu Maya datang bersama dengan anak laki-lakinya. Pak Samsul, Bu Maya dan Alina pun menyambut kedatangan mereka.
'Kenapa teman Mama ngajak anak laki-lakinya? Apa jangan-jangan Mama mau ngejodohin aku sama dia?' gumam Alina dalam hati.
"Jeng Ayu, Nak Ivan, selamat datang. Oh ya kenalkan ini putri saya Alina" kata Bu Maya.
"Waahh.. Nak Alina cantik sekali" puji Bu Ayu.
"Makasih Tante" ucap Alina.
"Oh ya Nak Alina, kenalkan ini anak Tante, namanya Ivan"
"Hallo Alina" ucap Ivan sambil menepiskan senyumnya.
"Hallo" sahut Alina.
Kemudian mereka pun duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang. Bu Maya dan Bu Ayu saling bercerita tentang anak-anak mereka. Pak Samsul sesekali menimpali. Sementara Alina dan Ivan hanya menjadi pendengar.
Alina merasa sangat risih, karena sejak tadi Ivan selalu memperhatikannya. Alina pun menundukkan wajahnya.
Begitu Bu Ayu dan Ivan pulang, Alina langsung bertanya kepada kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, sebenarnya apa rencana kalian berdua? Apa kalian mau ngejodohin Alin sama cowok tadi?"
"Kamu memang pintar Alina. Gimana, apa kamu suka sama Nak Ivan?" tanya Bu Maya.
"Kenapa Mama sama Papa nggak bilang dulu sama Alin? Kalau dari awal Alin tau, Alin nggak bakal setuju ketemu sama mereka" ucap Alina dengan sedikit marah.
"Mama sama Papa cuma mau yang terbaik buat kamu Alina. Nak Ivan itu anak yang baik, ganteng, berpendidikan tinggi. Dia juga lulusan S2 di Amerika sama seperti kamu. Dan lebih hebatnya lagi, dia itu pemilik perusahaan fashion terbesar di kota ini sayang" imbuh Bu Maya.
"Tapi Alin nggak peduli Ma, Pa. Pokoknya Alin nggak mau dijodohin, titik"
Alina pun berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sampai di kamar, dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menangis sepuasnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....................
Jangan lupa LIKE, komen dan VOTE nya yaa!! Makasii.. ๐
__ADS_1