
"Pak Rama, ada apa dengan Nayra?"
Tiba-tiba saja Aditya sudah berdiri di belakang Rama. Rama pun memutar badannya menghadap Aditya.
"Aditya kenapa kamu ada di sini?"
"Jawab pertanyaan saya Pak! Apa yang terjadi dengan Nayra? Kenapa dia lari sambil menangis?"
Rama terdiam. Dia tidak bisa menceritakan masalah yang sedang ia hadapi kepada Aditya.
"Ini masalah rumah tangga kami Dit, kamu nggak usah ikut campur! Kembalilah bekerja!"
Rama meninggalkan Aditya dan bergegas menuju parkiran.
"Tunggu Pak! Tolong jawab pertanyaan saya dulu Pak" teriak Aditya.
Rama tidak menggubris teriakan Aditya
Dia pun masuk ke dalam mobilnya bersama Kyara dan langsung tancap gas meninggalkan kantor.
"Ada apa sebenarnya? Aku harus mencari tau.." gumam Aditya.
***
Nayra berjalan tak tentu arah dan tujuan. Pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang Rama yang sedang tidur bersama Sofia. Dada Nayra terasa sesak. Sejak tadi air matanya tidak mau berhenti mengalir. Nayra tidak peduli pada setiap mata yang melihat ke arahnya. Dia terus berjalan sambil terisak.
Kriiiinggg.. Kriiiinggg....
Tiba-tiba ponsel Nayra berdering. Nayra menghentikan langkahnya kemudian mengambil ponsel di dalam tasnya. Dia melihat nama 'ADITYA' tertera di layar ponselnya.
'Mas Adit? Kenapa dia menelponku?'
Nayra pun menghapus air matanya lalu menjawab panggilan Aditya.
Nayra : "Assalamu'alaikum Mas Adit"
Aditya : "Wa'alaikumsalam. Nay, kamu dimana? Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Aku tadi melihatmu lari keluar kantor sambil menangis. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Pak Rama sudah menyakitimu?"
Nayra : "Emh.. enggak Mas. Aku nggak kenapa-kenapa kok. Kami cuma beda pendapat tadi. Biasalah suami istri, nanti juga kami baikan lagi. Mas Adit nggak usah khawatir"
Aditya : "Kamu nggak bohong sama aku kan Nay?"
Nayra : "Enggak Mas. Buat apa aku bohong sama kamu"
Aditya : "Lalu sekarang kamu ada dimana? Pak Rama tadi panik nyariin kamu"
Nayra : "Aku.. aku sebentar lagi nyampe rumah kok Mas. Biar nanti aku hubungi Mas Rama"
Aditya : "Ya sudah kalau begitu. Kalau Pak Rama sampai menyakitimu, kamu harus bilang sama aku ya!"
Nayra : "Iya Mas. Emh.. Sudah dulu ya Mas aku sudah sampai di depan rumah. Assalamu'alaikum"
Nayra pun langsung menutup telponnya.
'Kenapa Mas Adit masih mengkhawatirkan aku? Apa jangan-jangan dia masih mencintaiku? Ah.. nggak mungkin. Mas Adit kan sebentar lagi mau tunangan sama Alina..'
'Mas Adit.. sekarang aku tau bagaimana rasanya dihianati oleh orang yang paling kita cintai. Sekarang aku bisa merasakan apa yang dulu kamu rasakan Mas. Pasti dulu hati kamu sesakit ini waktu aku menghianatimu..'
'Ya Tuhan, apa ini hukum karma buat aku? Dulu aku menghianati Mas Adit dan sekarang aku dihianati oleh suamiku
__ADS_1
Lalu tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti tepat di belakang Nayra. Nayra pun memutar badannya ke belakang. Nayra terkejut saat melihat Rama turun dari mobil dan menghampirinya.
"Alhamdulillah.. akhirnya aku menemukanmu sayang"
Rama pun langsung mendekap tubuh Nayra dengan erat. Rama merasa lega karena bisa menemukan Nayra dalam keadaan selamat.
"Sayang aku mencarimu kemana-mana. Kyara dari tadi nangis nyariin kamu"
Nayra tersentak. Seketika dia baru ingat kalau tadi dia sudah meninggalkan Kyara di kantor.
Nayra melepaskan diri dari dekapan Rama.
"Dimana Kyara?"
"Dia ada di mobil"
Nayra pun berlari ke arah mobil Rama kemudian membuka pintunya. Nayra melihat Kyara menangis tersedu-sedu di dalam mobil.
"Mamaaaah..."
"Sayang.."
Nayra pun langsung menggendong dan menciumi wajah Kyara.
"Maafin Mama sayang! Mama nggak akan ninggalin Kiya lagi"
Rama pun membawa mereka pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan Nayra hanya diam saja sambil melihat ke luar jendela. Kyara sudah tertidur pulas di pangkuannya.
Rama fokus menyetir. Sekali-sekali dia melirik ke arah Nayra. Rama tau kalau Nayra masih marah padanya. Rama pun membuka suara untuk memecah kesunyian.
"Sayang, mungkin saja foto itu cuma rekayasa Sofia. Tolong beri aku waktu untuk membuktikan sama kamu kalau anak yang dikandung Sofia itu bukanlah anakku. Aku akan segera membawa Sofia ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA"
Nayra hanya diam saja tanpa mempedulikan kata-kata Rama. Dia masih melihat ke luar jendela.
"Sayang aku mau kembali ke kantor. Aku akan segera pulang setelah membawa Sofia ke rumah sakit. Tunggu aku di rumah ya!" seru Rama.
Nayra pun masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan kata-kata Rama. Dan Rama langsung kembali ke kantor untuk menjemput Sofia.
***
"Kita mau kemana Pak?" tanya Sofia saat berada di dalam mobil Rama.
"Sudah jangan banyak tanya, ikut saja!"
Rama mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
"Kita ngapain ke rumah sakit Pak?"
"Aku mau membuktikan kalau bayi yang kamu kandung itu bukan anakku. Ayo turun!"
"Saya tidak mau Pak"
"Kenapa? Apa jangan-jangan anak itu memang bukan anakku?"
"Ini anak Bapak"
"Kalau begitu buktikan!"
Rama pun turun dari mobil lalu menyeret Sofia masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Lepaskan tangan saya Pak!" Sofia berusaha melepaskan diri.
"Kamu harus ikut saya untuk tes DNA!"
"Baiklah tapi lepaskan saya dulu!"
Rama pun melepaskan tangan Sofia. Kemudian mereka berdua menemui dokter kandungan. Rama mengutarakan maksud dan tujuannya kepada dokter tersebut.
"...Maaf Pak, Bu, biar saya jelaskan dulu sebelum Bapak dan Ibu mau melakukan tes DNA. Untuk janin di dalam kandungan, tes DNA dilakukan dengan mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosentesis atau dengan chorionic villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta. Namun, kedua jenis tes pada janin tersebut memiliki resiko yang sangat besar. Yaitu bisa membuat Ibu mengalami gangguan hingga keguguran.."
"Apa Bapak dan Ibu bersedia menanggung segala resikonya?"
"Saya siap menanggung segala resikonya Dok, karena saya harus tau anak yang dikandung Sofia ini anak saya atau bukan" sahut Rama.
"Pak Rama memang sengaja kan mau membuat saya keguguran agar Bapak bisa bebas dari tanggung jawab?"
"Terserah kamu mau ngomong apa Sofia. Yang jelas saya tidak akan percaya sama kamu sebelum melihat hasil tes DNA-nya"
Karena Rama bersikeras, akhirnya Sofia pun terpaksa menjalani tes DNA.
"Pak, Bu hasilnya akan keluar setelah dua minggu. Kami akan menghubungi Bapak dan Ibu kalau hasilnya sudah keluar"
"Baik Dok"
Setelah mengurus administrasi, Rama pun keluar dari rumah sakit. Sofia mengikuti Rama dari belakang.
Sebelum masuk ke mobilnya, Rama mengatakan sesuatu pada Sofia.
"Sofia, hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja. Aku minta kamu kemasi barang-barang kamu dan angkat kaki dari kantor saya!"
Sofia terkejut.
"Apa?? Jadi Bapak memecat saya??"
"Apa masih kurang jelas?"
Rama pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Sofia sendirian di sana. Rama ingin segera pulang ke rumah menemui Nayra.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....................
LIKE, komen, dan VOTE yg banyak ya!!Makasii.. 🙏