
Di kantor Rama...
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang ketika Alina tiba di kantor Rama. Alina berjalan sambil membawa kotak makanan di tangannya. Matanya berkeliaran mencari seseorang.
'Dimana meja kerja Mas Adit ya?' gumamnya dalam hati.
Karena tidak menemukan Aditya, Alina pun melangkah menuju ruang kerja Rama. Dia bertemu dengan Sofia yang baru saja keluar dari ruangan Rama.
"Nona Alina??" sapa Sofia seraya menepiskan senyumnya.
"Hai Kak Sofia. Apa Kak Rama ada di dalam?"
"Iya. Pak Rama ada di dalam"
"Kalau begitu aku masuk dulu ya Kak"
"Silahkan Nona"
Alina pun membuka pintu lalu melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja kakaknya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam. Alina, kamu sudah datang?"
"Iya Kak. Aku mau pamit sama Kakak"
Rama pun berdiri lalu memeluk adik kesayangannya itu.
"Kamu hati-hati ya! Salam buat mama sama papa"
"Iya Kak insya Allah nanti aku sampaikan. Oh ya Kak, meja kerja Mas Aditya dimana ya?"
Rama pun menunjukkan meja kerja Aditya kepada Alina. Alina tersenyum begitu melihat Aditya. Dia pun mendekati meja kerjanya.
"Assalamu'alaikum" ucap Alina seraya menepiskan senyumnya.
Aditya yang sejak tadi fokus dengan pekerjaannya langsung mengangkat wajahnya. Dia terkejut begitu melihat Alina ada di depan matanya.
"Wa'alaikumsalam. Alina?? Kamu kenapa ada di sini?"
"Aku cuma mau pamit sama Kak Rama. Siang ini aku mau pulang ke Bogor. Sekalian aku juga mau mengembalikan sapu tangan kamu Mas" Alina mengambil sapu tangan milik Aditya di dalam tasnya lalu menyerahkannya kepada Aditya. Aditya pun menyambutnya.
"Makasih ya Mas"
"Sama-sama"
"Oh ya Mas, ini aku juga bawain kamu makan siang sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah nolongin aku waktu itu" Alina meletakkan kotak makanan yang ia bawa di atas meja kerja Aditya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu nggak perlu repot-repot Alina. Aku ikhlas kok nolongin kamu. By the way, apa ini kamu sendiri yang masak?"
"Iya Mas. Mudah-mudahan kamu suka"
"Makasih ya. Kebetulan sebentar lagi jam makan siang. Apa kamu mau nemenin aku makan sebelum kamu balik ke Bogor?"
"Iya Mas, dengan senang hati"
Setelah membereskan mejanya, Aditya pun mengajak Alina makan di taman kantornya. Mereka duduk di sebuah bangku kayu.
"Emmm.. masakan kamu enak juga Alina" kata Aditya setelah mencicipi masakan Alina.
"Makasih Mas. Alhamdulillah kalau Mas Aditya menyukainya. Ini masakan pertamaku"
"Oya??"
"Iya. Karena sebelumnya aku belum pernah memasak. Tadi aku minta sama Bi Surti untuk mengajariku"
"Jadi kamu sengaja masak makanan ini untukku?"
Alina menganggukkan kepalanya.
"Waahh.. Berarti aku orang yang paling beruntung karena bisa mencicipi masakan pertama kamu Alina. Masakan kamu sangat enak. Dan kamu juga sangat berbakat. Karena baru pertama kali masak aja udah seenak ini"
Alina merasa tersanjung karena mendapat pujian dari Aditya.
"Oh ya Alina, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?"
"Apa?"
"Apa kamu sudah punya pacar?"
"Apa??" Alina terkejut mendengar pertanyaan Aditya.
Aditya tersenyum melihat ekspresi Alina. Dia pun mengulangi pertanyaannya.
"Aku tadi tanya apa kamu sudah punya pacar?"
"Be.. belum"
Jantung Alina berdebar kencang. Dia tidak menyangka kalau Aditya akan menanyakan hal itu padanya.
"Aku juga belum punya pacar. Alina, apa kamu mau jadi pacarku?"
"Hah??" Alina melongo. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Mas Aditya tadi bilang apa??"
__ADS_1
Aditya perlahan meraih tangan Alina lalu menggenggamnya. Alina terkejut. Jantungnya makin berdebar tidak karuan. Aditya pun mengulang kembali pertanyaannya sambil menatap wajah cantik Alina.
"Alina.. apa kamu mau jadi pacarku?"
"Aku.. aku.." Alina terlihat gugup.
"Aku akan senang sekali kalau kamu mau jadi pacarku"
"Emh.. iya Mas.. aku.. aku mau"
Aditya tersenyum senang. Dia pun langsung menarik Alina ke dalam pelukannya.
"Makasih Alina. Mulai sekarang kita pacaran"
'Alhamdulillah ya Allah.. semoga semua ini bukan mimpi. Aku benar-benar nggak nyangka kalau barusan Mas Aditya nembak aku. Dan sekarang kami berdua sudah resmi jadian..'
Alina sangat bahagia sampai mengeluarkan air mata. Tidak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Allah SWT. Alina senang karena ternyata Aditya juga mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya. Alina bahagia karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Setelah itu, Alina pun berpamitan kepada Aditya untuk pulang ke Bogor. Sebelum berpisah mereka saling bertukar nomor ponsel. Alina pura-pura belum punya nomor ponsel Aditya. Dia malu kalau dia sebenarnya sudah menyimpan nomor Aditya di ponselnya.
Sebelum berpisah Alina mengajak Aditya untuk foto selfie sebagai kenang-kenangan. Momen itu adalah momen spesial bagi Alina. Momen yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.
'Mas Aditya.. kamu adalah cinta pertamaku. Semoga kamu jadi yang pertama sekaligus yang terakhir dalam hidupku.. Aamiin' doa Alina dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...................
Mohon dukungan LIKE dan VOTE poin sebanyak-banyaknya yaa!!
__ADS_1
Agar novel ini bisa masuk 10 besar atau setidaknya 20 besar.. terima kasih ๐