
Malam itu Pak Samsul dan Bu Maya berdiskusi dengan Alina di ruang keluarga.
"Alina, pikirkan dulu baik-baik! Kamu jangan gegabah! Pernikahan itu bukan main-main sayang! Kamu akan menjalani kehidupan kamu bersama orang yang kamu nikahi untuk seumur hidup. Apa kamu siap hidup bersama Nak Ivan padahal kamu masih mencintai Aditya?" tanya Pak Samsul.
Alina terdiam sejenak sebelum menjawab. Lalu tiba-tiba saja bayangan Aditya yang sedang berboncengan mesra dengan perempuan tadi muncul kembali di pikiran Alina.
"Alin siap Pa" tegas Alina.
"Apa kamu yakin? Kamu nggak akan menyesal nantinya?"
"Insya Allah enggak Pa"
"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Papa sama Mama hanya bisa merestui dan mendoakan kebahagiaan kalian"
"Makasih Pa, Ma"
Bu Maya pun segera menghubungi Bu Ayu untuk memberitahunya kalau Alina setuju untuk menikah dengan Ivan. Bu Ayu senang sekali mendengarnya. Begitu juga dengan Ivan. Mereka berencana akan datang lagi untuk melamar Alina secara resmi.
"Alina, Mama sudah menghubungi Bu Ayu. Besok dia dan Nak Ivan akan datang ke sini untuk melamarmu secara resmi. Bagaimana menurutmu? Atau kamu menginginkan pesta pertunangan?"
"Nggak usah Ma. Alin trauma dengan pesta pertunangan"
"Ya sudah. Berarti kamu setuju kalau besok mereka akan datang melamarmu?"
Alina menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Mama akan mengabari Rama dan Nayra"
"Ma, biar Alin saja yang menghubungi Kak Rama"
"Baiklah"
Alina pun masuk ke kamarnya kemudian menghubungi Rama.
Tut.. Tut.. Tut..
Rama : "Hallo Alina, ada apa? Tumben malam-malam begini kamu nelfon Kakak"
Alina : "Alin cuma mau ngasih tau Kakak. Insya Allah besok Alin akan dilamar"
Rama : "Apa? Dilamar?"
Alina : "Iya Kak"
Nayra tersentak mendengar Alina akan dilamar. Dia pun meminta Rama untuk me-loud speaker ponselnya.
Rama : "Siapa yang mau melamarmu Alina?"
Alina : "Anak teman Mama. Kemarin mereka sudah datang untuk melihatku"
Nayra : "Alina, apa kamu menerima lamaran itu?"
Alina : "Iya Kak ipar"
Nayra : "Kenapa Alina? Apa kamu benar-benar sudah melupakan Mas Adit?"
Alina : "Kalau Mas Adit aja bisa move on dari Alin. Kenapa Alin enggak Kak?"
Nayra : "Apa maksud kamu Alina? Apa kamu sudah bertemu dengan Mas Adit?"
Alina : "Sudah Kak. Tadi siang Alin datang ke kantornya. Tapi karena dia cuti, Alin datang ke rumahnya. Di sana Alin melihat.."
Nayra : "Kamu melihat apa?"
Alina : "Alin melihat Mas Adit berboncengan dengan seorang perempuan. Mereka kelihatan mesra banget. Mungkin perempuan itu pacarnya, atau bahkan istrinya"
Nayra : "Mungkin? Apa kamu nggak tanya langsung sama Mas Adit siapa perempuan itu?"
__ADS_1
Alina : "Buat apa Kak? Semuanya sudah jelas. Alin nggak mau kecewa dan sakit hati lagi.."
Nayra : "Bisa saja kan itu temannya"
Alina : "Teman? Kalau cuma teman, mereka nggak akan semesra itu Kak. Sudahlah Kak jangan bicarakan dia lagi! Sekarang Alin benar-benar mau move on dari dia"
Nayra : "Dengan menikahi laki-laki yang nggak kamu cintai?"
Alina : "Seiring berjalannya waktu, Alin pasti bisa mencintai Kak Ivan. Seperti kalian dulu. Bukankah cinta akan datang karena terbiasa?"
Rama : "Kakak akan selalu mendukungmu dan mendoakan kebahagiaan kamu Alina. Insya Allah besok pagi kami akan ke Bogor"
Alina : "Terima kasih Kak"
***
Keesokan harinya..
Pagi itu Nayra sangat gelisah. Dia terus saja memikirkan Alina dan Aditya.
'Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menemui Mas Adit sebelum Alina bertunangan dengan orang lain' pikir Nayra.
"Mbak Santi, aku titip Daniel dan Kyara ya! Aku mau keluar sebentar"
"Bu Nayra mau ke mana Bu? Bukankah pagi ini kita akan berangkat ke Bogor?"
"Aku cuma sebentar Mbak. Nanti kalo Mas Rama nyariin aku, tolong bilang sama dia aku keluar sebentar ya Mbak!"
"Baik Bu"
Nayra pun keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Rama. Kebetulan saat itu Rama sedang mandi.
Nayra mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju Wirata Architects. Sampai di sana dia pun bertanya kepada resepsionis. Kata resepsionis Aditya masih cuti. Lalu Nayra pun meminta alamat rumahnya.
Kriiiiing.. Kriiiing...
Ponsel Nayra tiba-tiba berdering. Dia pun mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya lalu melihat ke layar ponsel itu. Ternyata Rama yang menelponnya. Nayra pun segera menjawabnya.
Rama : "Sayang kamu di mana?"
Nayra : "Aku mau ke rumah Mas Adit Mas. Ini demi Alina. Aku nggak mau dia salah langkah dan menyesal nantinya"
Rama : "Kenapa kamu pergi tanpa meminta izinku? Sayang, aku minta kamu kembali ke rumah sekarang juga!"
Nayra : "Maaf Mas, tapi aku harus menemui Mas Adit. Aku harus tau siapa perempuan itu. Sudah dulu ya Mas, nanti aku hubungi lagi. Assalamu'alaikum"
Nayra mengakhiri panggilannya. Setelah itu dia pun langsung tancap gas menuju rumah Aditya.
Lima belas menit kemudian Nayra pun sampai di rumah Aditya.
Tok.. Tok.. Tok...
Nayra mengetok pintu. Beberapa saat kemudian ada seorang perempuan yang membukakan pintu. Nayra terkejut melihat perempuan itu. Perempuan itu sangat cantik dan elegan.
'Apa ini perempuan yang dimaksud Alina?'
"Assalamu'alaikum. Apa benar ini rumah Bapak Aditya Kusuma Wardhana?"
"Wa'alaikumsalam. Iya benar. Anda siapa ya?"
"Saya Nayra, temannya Mas Adit. Apa bisa saya bertemu dengan Mas Adit?"
"Tunggu sebentar ya, biar saya panggilkan dulu"
Tak lama kemudian Aditya pun muncul dari dalam. Aditya terkejut begitu melihat Nayra datang ke rumahnya.
"Nayra??"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Mas Adit"
"Wa'alaikumsalam. Kamu, kenapa kamu tau kalau aku tinggal di sini Nay?"
"Aku tadi ke kantormu Mas. Tapi resepsionis bilang kamu lagi cuti, terus aku minta alamat rumah kamu"
"Silahkan masuk dulu Nay!"
Mereka pun masuk lalu duduk di ruang tamu.
"Ada apa kamu mencariku Nay?"
"Mas, kalau boleh tau siapa perempuan tadi?"
"Oh dia Silvi, saudara sepupuku. Dia baru diterima bekerja di Jakarta. Karena belum dapat kontrakan, untuk sementara waktu dia tinggal di sini"
"Ya Tuhan.. berarti Alina sudah salah paham"
Aditya mengerutkan dahinya.
"Apa maksud kamu Nay? Alina? Apa Alina sudah kembali dari Amerika?"
"Sudah Mas. Kemarin Alina datang ke sini untuk menemuimu. Tapi dia bilang, dia melihatmu berboncengan dengan seorang perempuan. Alina mengira kalau perempuan itu pacar atau istri kamu"
"Apa??" Aditya tersentak kaget.
"Mungkin kemarin Alina melihatku bersama Silvi. Aku harus menjelaskannya pada Alina"
"Mas, hari ini Alina akan dilamar oleh laki-laki lain. Dan dia memutuskan untuk menerima lamaran itu. Alina mengira kamu sudah bahagia bersama perempuan lain"
Aditya menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Alina nggak boleh menikah dengan laki-laki lain, Nay. Aku sangat mencintainya. Selama dua tahun ini aku menunggunya Nay"
"Alina juga masih mencintaimu Mas. Kamu harus segera menemuinya sebelum terlambat!"
"Tapi.. siang ini aku ada wawancara live di TV Nay. Nggak mungkin aku batalin"
"Kita nggak punya banyak waktu Mas"
Aditya terdiam sejenak untuk berfikir.
"Nayra.. apa kamu bersedia membantuku?"
"Tentu saja Mas. Aku akan membantumu"
Setelah selesai bicara dengan Aditya, Nayra pun kembali ke rumahnya. Kini dia merasa lega setelah mengetahui kalau Aditya masih mencintai Alina. Nayra berharap Alina akan membatalkan pertunangannya dengan Ivan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......................
LIKE, komen dan VOTE ya! Makasii.. ๐