
Rama mengikuti Nayra ke kamar mandi lalu mencoba membuka pintu. Tapi sayangnya Nayra sudah mengunci pintu itu dari dalam.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang, tolong buka pintunya!" seru Rama.
Rama bisa mendengar suara tangisan Nayra dari dalam kamar mandi. Rama semakin cemas.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang aku mohon buka pintunya! Atau aku akan mendobrak pintunya"
Rama bersiap untuk mendobrak pintu tersebut, tapi tiba-tiba saja Nayra membuka pintunya.
"Sayang.." Rama pun mendekap tubuh Nayra dengan erat.
"Lepasin aku Mas!"
"Nggak akan"
Nayra berusaha melepaskan diri dari dekapan Rama. Tapi Rama malah semakin mengeratkan pelukannya. Nayra pun tak berdaya. Akhirnya dia menangis tersedu-sedu dalam dekapan Rama.
"Sayang, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud melukai hatimu. Aku sangat mencintaimu. Di dunia ini hanya kamu wanita yang aku cintai. Kamu harus percaya sama aku!"
Rama mengecup kepala Nayra.
"Nanti aku akan membawa Sofia ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Aku yakin kalau itu bukan anakku. Aku akan membuktikannya sama kamu"
Seketika Nayra menghentikan tangisnya.
"Apa aku boleh ikut Mas? Aku juga ingin bertemu Sofia dan bicara sama dia"
"Tentu saja sayang. Nanti kita pergi sama-sama"
Rama pun melepaskan Nayra kemudian menghapus air mata Nayra dengan jemarinya.
"Mas, aku akan memaafkanmu kalau ternyata anak itu bukan anakmu. Tapi kalau ternyata anak itu anakmu, sampai kapan pun aku nggak akan pernah memaafkanmu.."
Rama terkejut mendengar ucapan Nayra. Ada rasa takut menjalar di hatinya. Dia pun mendekap Nayra lagi.
"Semoga saja anak itu bukan anak ku. Aku nggak mau kehilanganmu sayang. Jangan pernah tinggalkan aku!"
Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan Kyara. Rama pun melepaskan pelukannya. Kemudian mereka bergegas menghampiri Kyara di kamarnya. Kyara sedang duduk sambil menangis di tempat tidurnya.
"Kiya, kamu udah bangun ya?" tanya Nayra.
"Mamaaah... huuuu..." Kyara mengangkat kedua tangannya minta digendong. Nayra pun langsung menggendongnya kemudian mengusap-usap punggungnya.
"Cup sayang, Mama di sini. Jangan nangis ya!"
Kyara pun berhenti menangis. Rama membelai rambut Kyara dengan lembut.
"Aku nggak bisa membayangkan kalau kamu pergi ninggalin aku Nay. Bagaimana dengan nasib Kyara?"
Nayra terdiam sejenak untuk berfikir.
"Kalau sampai itu terjadi, aku akan membawa Kyara pergi bersamaku Mas. Karena aku ibunya"
__ADS_1
Rama tersentak. Dia pun menggelengkan kepalanya.
"Enggak sayang. Aku lebih baik mati. Aku nggak akan sanggup kehilangan kalian berdua.."
"Sayang kita mandi dulu ya!" Nayra pun membawa Kyara masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan kata-kata Rama.
***
Setelah mandi dan ganti pakaian, mereka bertiga pun turun ke bawah untuk sarapan. Kebetulan semuanya sudah berkumpul di meja makan. Seperti biasa, Rama dan Nayra bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depan keluarga mereka.
"Pagi semuanya" sapa Rama dan Nayra sambil memaksakan senyumnya.
"Pagi" jawab semuanya.
Mereka pun menempati kursi masing-masing.
"Rama, Nayra, pagi ini Mama sama Papa akan pulang ke Bogor untuk menyiapkan acara pertunangan Alina dan Aditya. Mama sudah mengundang semua kerabat dan teman dekat Mama, juga rekan bisnis Papa"
Alina tersenyum bahagia. Wajahnya terlihat berseri-seri. Alina sudah tidak sabar menanti hari pertunangannya bersama Aditya.
"Kak Rama apa aku boleh mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan? Aku mau ikut Mama sama Papa pulang ke Bogor"
"Tentu saja Alina. Insya Allah kami akan segera menyusul kalian setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di sini" sahut Rama.
Setelah sarapan, Pak Samsul, Bu Maya dan Alina pamit untuk pulang ke Bogor. Rama, Nayra dan Kyara mengantar mereka sampai di depan rumah.
Setelah mereka pergi, Nayra dan Kyara ikut Rama ke kantor.
***
Sampai di kantor, Rama dan Nayra langsung menemui Sofia di meja kerjanya. Sofia terkejut karena melihat Rama datang ke kantor bersama anak dan istrinya.
Nayra langsung membuang mukanya.
"Sofia, kamu ke ruangan saya sekarang!" seru Rama dengan wajah yang serius.
"Baik Pak"
Sofia pun mengikuti Rama masuk ke ruang kerjanya. Sementara Nayra menitipkan Kyara dulu kepada salah satu staff di sana.
Rama langsung duduk di kursi kerjanya. Sofia berdiri di hadapan Rama. Nayra pun masuk lalu menghampiri mereka.
"To the point saja Sofia, hari ini aku mau kamu ikut aku ke rumah sakit untuk menjalani tes DNA"
Sofia terperanjat. Sontak dia membulatkan kedua matanya. Mulutnya sedikit terbuka.
"Kenapa Sofia? Apa kamu takut?" tanya Nayra.
"Emh.. saya.. saya tidak takut. Apa Ibu Nayra sudah tau soal kehamilan saya?"
"Sudah. Mas Rama sudah menceritakan semuanya sama aku. Aku heran sama kamu Sofia, kenapa ada perempuan murahan seperti kamu di dunia ini?" Nayra menunjuk muka Sofia.
"Perempuan murahan yang menghalalkan segala cara untuk merebut suami orang. Apa nggak ada laki-laki lain di dunia ini selain suamiku?" hardik Nayra.
Sofia menyeringai.
"Anda salah Ibu Nayra yang terhormat. Saya bukan perempuan murahan dan saya tidak berusaha merebut suami Anda. Tapi suami Anda lah yang sudah merenggut kesucian saya hingga saya hamil"
__ADS_1
"Mana buktinya? Apa kamu punya bukti? Bisa saja itu anak orang lain kan?"
"Anda mau bukti? Baiklah.."
Sofia merogoh ponsel di saku blazernya kemudian menunjukkan sebuah foto kepada Nayra.
"Lihat ini!"
Nayra mengambil ponsel Sofia dan melihat foto itu. Mata Nayra terbelalak ketika melihat foto Rama dan Sofia sedang tidur bersama di sebuah kamar.
Rama penasaran. Dia pun mengambil ponsel itu dari tangan Nayra. Betapa kagetnya Rama saat melihat foto dirinya sedang tidur bersama Sofia di apartemennya waktu di Singapura.
"Apa ini Mas? Kamu masih mau mengelak lagi? Aku benar-benar kecewa sama kamu Mas!" seru Nayra. Air matanya jatuh berderai membasahi kedua pipinya.
Nayra pun beranjak keluar dari ruangan Rama.
"Tunggu sayang! Kamu mau kemana?"
Rama melempar ponsel Sofia ke lantai lalu bergegas mengejar Nayra.
Nayra terus berlari keluar dari kantor Rama. Nayra tidak mempedulikan semua staff yang menatapnya dengan heran.
Rama ingin mengejar Nayra, tapi langkahnya terhenti saat mendengar tangisan Kyara.
"Mamaaah..." rengek Kyara.
Rama pun menghampiri Kyara kemudian menggendongnya. Setelah itu Rama berlari keluar menyusul Nayra. Tapi sayangnya Nayra sudah tidak kelihatan. Rama meliarkan pandangannya ke sekeliling namun tidak menemukan sosok yang dia cari.
"Kamu pergi kemana sayang?"
Rama terlihat panik. Dia pun merogoh ponsel di saku celananya kemudian menghubungi Nayra. Tapi tidak ada jawaban.
"Pak Rama, ada apa dengan Nayra?"
Tiba-tiba saja Aditya sudah berdiri di belakang Rama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG..............................
__ADS_1
Jangan lupa tekan LIKE, komen dan VOTE yang banyak ya setelah membaca!! Makasii.. ππ